Tipe Orang Menyebalkan Ketika Berbicara
Sering kali saya menganggap interaksi yang ideal itu adalah interaksi yang terjalin ketika dua orang atau lebih berproses komunikasi dan tindakan positif dengan hasil baik yang diinginkan bersama, karena sesungguhnya interaksi sosial itu enggak mudah, Bro dan Sis.
Maklum, dunia sekarang terbagi menjadi tiga: nyata, maya, dan gaib. Oke, saya singkirkan dunia yang ketiga karena saya sadar diri sebatas mana keahlian spiritual saya yang bahkan tidak ada seperti yang dimiliki Ki Joko Bodo.
Meski kerap susah membedakan kedua dunia itu, tapi kadang kemampuan seseorang berkomunikasi secara lisan dan tulisan tidak selalu sama, dalam artian kemampuan seseorang berkomunikasi di dunia maya tidak selalu sama dengan dunia nyata.
Begini, ada tipe orang yang asyik di social media, sampai kita rela meladeni messenger-nya karena rasa asyik itu tapi pas ketemu malah diem-diem unyu macam anak kecil baru disunat, atau pas ketemu ternyata orangnya nyebelin banget. Akan tetapi ada tipe orang yang sebaliknya, biasa aja di social media, pas ketemu wah malah asyik bukan main. Ada.
Ada juga sebaliknya kalau di social media suka ngajak perang ideologi, eh pas ketemu melempem macam macan ompong, tapi ada juga yang pas ketemu ternyata cuteable, humble, dan sopan. Ada yang di medsos macam Miranda ‘The Devil Wears Prada’, tapi pas ketemu macam perpaduan Fitri Tropika dan Mpok Atik. Ada yang di medsos macam Syahrini, tapi di dunia nyata ternyata eh cabe-cabean. Ada juga yang di medsos suka modusin, tapi karena enggak ditanggapi malah ngatai-ngatain. Ada.
Tipe-tipe begitu jelas-jelas ada, mungkin karena kemampuan komunikasi seseorang bisa dibedakan ketika berada di ruang publik dan ruang pribadi, ya?
Seperti beberapa orang yang kesulitan untuk membaur di dunia nyata tapi ketika duduk dihadapkan pada ponsel, laptop, bahkan kompi disekeliling ruangan bau keringat bin apek khas warnet dengan wi-fi unlimited, seseorang bisa dengan mudah melakukan komunikasi tanpa secanggung dirinya di dunia nyata.
Kelainan? Entahlah, tapi dalam sosial-psikologi, dunia maya memang punya kultur yang semakin membuat kenikmatan mengenai berbagai hal termasuk sosial interaksi dalam memenuhi kebutuhan komunikasi dan informasi, namun… bukan interaksi sosial yang sebenarnya. Orang butuh ruang untuk mengekspresikan diri namun ketiadaan ruang publik membuat orang katarsis lewat media sosial, karena sebagian orang itu tidak memiliki kemampuan memenuhi standar komunikasi di dunia nyata.
Jadi.. jangan heran kalau ketemu pengguna Facebook atau Twitter yang berani menjelek-jelekkan orang lain atau suka komen ngajak adu ‘urat’ kata dan pamer dalil kebodohannya, karena sesungguhnya orang-orang sejenis itu cacat dan bodoh dalam pergaulan di dunia nyata.
Anyway, saya tidak akan menjelaskan tentang materi psikologi karena yakinlah itu tidak akan habisnya dan perlu konten yang bersambung seperti sinetron Tersanjung. Baiklah… sambil makan kue salju di toples sisa lebaran yang bukanlah ide bagus di tengah malam, berikut saya jelaskan tipe-tipe orang yang nyebelin banget ketika diajak bicara.
Kaum Desperate
Saya sering sekali entah kenapa punya teman dengan tipe seperti ini yang seluruh hidupnya baik di dunia nyata maupun maya diisi dengan complain dan kesuraman. Semua isi obrolannya hanya tentang kegalauan masalah yang paling banyak tentang cinta, bahkan ada yang suka galau banget tapi sama sekali enggak punya pacar. Heran? Ya iyalah, ini bukan heran lagi, tapi ngenes. Karena saya sering bertanya-tanya kenapa orang tipe seperti ini yang hidupnya suka ngumbar keluhan hidup tapi masih hidup sampai sekarang tanpa mengakhiri hidupnya yang penuh penderitaan dengan bunuh diri gitu? Kenapa enggak mati aja gitu?! *ups*
Kaum Parent Wannabe
Setiap orang punya rasa bangga pada pencapaian hidup dirinya masing-masing, dan mereka punya pemikiran bahwa orang lain perlu mendapatkan kisah hidupnya itu secara mendetail. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi yakin deh setiap orang tua suka sekali menceritakan kehidupannya mulai dari bulan berbentuk apa saat dia lahir, sampai penderitaan dan kesenangan di masa kecil, kisah percintaan, moyang siapa, harta bahkan bagian dari keluarga yang dianggap sukses, pamer anak, seolah-olah kisah hidupnya yang bisa dibuat buku setebal Lord of the Ring 500 halaman perlu dikonsumsi orang lain. Jadi ada teman-teman saya yang tipe suka membanggakan diri ala Parent Wannabe, memang sih mula-mula tidak jadi masalah, tapi kalau terus menerus bahkan berulang-ulang, rasa-rasanya pengen bergaul dengan Patrick Star di Bikini Bottom deh.
Ular Berbisa
Macam judul lagu sebuah band Indonesia yang enggak jelas lagi keberadaannya, tapi di dunia ini tentunya tidak bisa lepas dari orang-orang yang berbahaya seperti ini. Berbisa dan bermuka dua. Di depan mulutnya iya iya angguk-angguk setuju dan sebelas dua belas dengan kompor, tapi di belakang menusuk dari belakang.
Kaum Narsis Sok Penting
Oke, setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya, tapi tidak semua orang yang bisa memberdayakan kedua hal itu dalam dirinya. Ada orang yang terlalu merasa tidak punya celah kekurangan dalam hidupnya sehingga paling suka berbicang tentang dirinya sendiri betapa hebatnya dia dan menceritakan prestasi-prestasi yang dia raih. Contoh simple-nya sudah merasa tinggi dengan gelar pendidikannya yang diatas S1, padahal baru mahasiswa. Atau dengan sikap idealisnya menjadi mahasiswa pascasarjana, tapi berasa paling jago di masyarakat yang dia anggap kampungan. Ada yang sudah bergelar doktor, tapi ogah masuk hutan keluar hutan bertemu masyarakat terpencil karena merasa itu bukan levelnya. Kan aneh.
Kalau di pepatah rokok : talk less do more. Ini nyambung, apalagi dengan teori menulis : show it, don’t tell. Orang-orang sudah pintar untuk membedakan mana yang sombong dan mana yang kompeten. Jika merasa hebat pada diri sendiri, jangan lupa yang menilai hebat tidaknya itu orang lain.
Kaum Miss and Mr. Know It All
Dalam perbincangan, pernah enggak kalau kita bicara topik A, dan orang tersebut akan nyamber dengan cepat seolah-olah dia paling ahli di topik A. apalagi kalau kita membicarakan topik C, D, dan Z, dia akan melakukan hal yang sama seolah-olah kita sedang berkonsultasi dengan pakarnya. Macam seorang jomblo menahun yang sok-sok-an ngajarin temennya tentang cinta.
Haduh. Saya sering kasihan dengan tipe kaum ini, sebegitu kerasnya dia untuk terlihat paham dan bisa sehingga apa-apa harus tahu soal ilmu pengetahuan. Halow, ilmu pengetahuan masing-masing orang tidak perlu disamakan, jangan terlalu keraslah untuk dibilang pintar, karena sebenarnya dengan sedikit saja menutup mulut dan mendengarkan orang lain bicara, orang lain akan sangat menghargai tanpa menilai pengetahuan anda kok.
Kaum Good Listener No Comment
Tipe orang yang memiliki ketahanan mental dan ketebalan telinga dalam menghadapi carut marut kehidupan yang dikisahkan orang lain memang perlu diancungi jempol, macam lo curhat sama tembok berbedak dan berponi rata, atau macam lo curhat sama kambing yang enggak bakalan menanggapi apapun yang bikin si pencurhat enggak mendapatkan jalan keluar tapi setidaknya dapat kebebasan bicara untuk mengeluarkan unek-unek saja. Tipe begini oke sih, hanya saja lebih baik dihindari karena terlalu suram dan enggak mungkin bisa akrab banget ketika sebenarnya kita memang sedang membutuhkan teman berbagi.
Kaum Konsultan Terapi
Sering tidak kalau kamu lagi curhat, kemudian teman curhat kamu melontarkan “Jangan gitu harusnya, tapi…” atau seperti “Ya ampun, Say, lo bego amat harusnya enggak begitu, tapi begini..” padahal curhatan kamu belum selesai? Pernah? Namanya juga hidup. Karena ada tipe orang yang suka mengambil kesimpulan dan saran tanpa diminta tapi sering sesat pikir karena hakekat orang dewasa yang curhat biasanya hanya membutuhkan tempat berbagi, tempat mendengar, sehingga bisa mengeluarkan isi hatinya, dan tidak melulu selalu minta solusi.
Nah tipe si terapis ini sebelas dua belas dengan Kaum Miss and Mr. Know It All. Kalau saya ulangi: macam Jomblo yang sok tahu tentang apa yang orang lain harus lakukan untuk masalah cinta orang lain. Tipe yang tidak sadar diri. Nah, si konsultan terapi ini selalu merasa lebih tahu diri kita dengan baik daripada dirinya sendiri, padahal menelaah tentang sifat manusia tidak semudah hitung-hitungan matriks dan logaritma, eh ini malah sudah sok-sokan jadi Sherlock Holmes.
Kaum ‘Gue Pernah – Gue Bisa’
Pernah ketemu orang yang sedang bercerita pernah kerja di kantor A, lalu lawan bicara mengaku pernah berkerja di Kantor A juga? Atau ketika kita menunjukkan suatu keahlian, si lawan bicara mengaku memiliki keahlian yang sama bahkan lebih?
Orang yang merasa kemampuan setiap manusia itu sama dan harus sinkron, orang yang merasa pengalaman dan keahlian harus dipatok sama. Kadang.. tipe begini sebenarnya tipe yang minder pada orang lain entah karena faktor rasa iri atau ketidakpercayaan diri pada dirinya sendiri kalau orang lain terkesan lebih maju ketimbang dirinya. Ada.
Kaum ‘I’ve Know Him/Her’
Saya curiga kalau tipe ini diam-diam punya keinginan terpendam sebagai Pak RT atau Bu RT, atau mungkin memiliki cita-cita sebagai relawan sensus penduduk karena seolah-olah merasa mengenal baik setiap orang, keluarga sana, keluarga sini, orang sana, orang sini, pejabat sana, pejabat sini yang sedang kita bicarakan lalu dia berkoar-koar sendiri bahwa dia begitu sangat dekat dengan objek yang kita bicarakan. Lha oke kalau ternyata betul, tapi kalau ngarang? Sudah macam Farhat Abbas saja jadinya.
Kaum Sosialita Abal-Abal
Di dunia perempuan, sering ditemukan betapa beragamnya jenis-jenis perempuan termasuk tindakan istimewanya yang sering tak habis pikir mikirnya. Bukan maksudnya macam Caitlyn Jenner yang merupakan perempuan palsu, bukan begitu, tapi sering tidak bertemu dengan teman yang sering membicarakan dia punya benda-benda yang sedang in, bahkan yang dipakai Syahrini terbaru, dia miliki. Pernah? Nasibmu, Nak. Ada juga yang sering keluar masuk mall hampir tiap hari, check-in di café mana dan butik mana gitu, yang entahlah dengan tujuan belanja atau cuma cuci mata saja dan berpenampilan macam lagi mau pergi ke kondangan, kemudian sudah menganggap diri mereka sebagai the real sosialita dan suka manggil orang dengan sok akrab dan berlagak bak orang penting.
Tipe seperti ini sering lupa pada kemampuan finansial dirinya sendiri yang dibawah rata-rata keglamouran, tapi sudah pede banget menganggap dirinya seorang sosialita. Ah, you know lah definisi sosialita itu begimana selain potret besarnya jadi selingkuhan/istri siri pejabat di kacamata sosial sekarang.
Tapi ya tapi sosialita abal-abal yang ini tak peduli sebatas mana kemampuan finansialnya dan bahkan pekerjaannya hanya cuma di zona tengah yang bahkan hanya seorang karyawan biasa, tapi sering diabaikan hal itu karena mengedepankan status sosial, dengan moto : Biar tekor asal tersohor.
Jadi.. kira-kira temen kamu tipe mana?
Komentar