Riana & Edgar's Story : THIRD DATE

Malam semakin naik, bulan tidak kelihatan di pelupuk manapun, bintang pun menjarang, sebuah fenomena yang sering dilihat di musim dingin. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku pastinya. Aku merasakan dua keinginan yang berlawanan. Separuh diriku tidak ingin mengakhiri ini semua karena kecaman si bawel Shanty agar aku tidak melakukan ini, yang jelas-jelas sebaliknya pada apa yang ingin kulakukan, sementara separuh diriku lainnya yang berhasrat tergoda untuk mengetahui seberapa besar kedekatan yang bisa kuperoleh tanpa membuat diriku meledak.. karena Edgar.

Aku dan Edgar Pratama meneruskan perjodohan ini dengan third date di Per Se, salah satu restoran Perancis ternama di New York.. Yippi!! Jangan pedulikan Shanty, berhari-hari ini aku mencoba menganggap ocehannya seperti narasi iklan obat kurap di TV.

Aku tidak bisa menutupi kesenanganku, sumpah! Edgar yang blasteran Belanda dan Manado, a good looking guy, yang membuatku pede jalan bareng dengannya, karena setidaknya menemukan lelaki yang bisa mengimbangi gaya berpakaianku adalah hal yang utama. Intinya, aku menyukai gaya metroseksual Edgar yang bak Raja Sparta jika dipadukan dengan wajahnya yang ningrat.

Oke! Berhentilah membicarakan lelaki tampan yang sedang mengunyah lahap main course yang bentuknya seperti muntahan kucing itu, Riana!

”Gimana, An? Soupe a l’oignon-nya enak?”

Soup-la apa? Soup-la pokemon? ”Enak,” aku mengangguk-angguk, peduli setan dengan apalah nama makanan yang susah dieja ini, sekalipun rasanya macam sop ayam dicampur sama es cendol dan permen nano-nano.

Edgar tersenyum manis, lesung pipi kirinya cute. Oh ya rabb, pria ini ganteng banget! Setidaknya mengunyah sambil memandang  wajahnya membuatku lupa pada rasa makanan laknat ini. Sejauh ini, aku menyukai pikiran dan kesopanan yang ditunjukkan Edgar. I love this men like hell.

”Tapi kok enggak dihabisin?” matanya tertuju ke mangkuk putih  dihadapanku.

Menurut lo, Edgar Sayang? Gue mesti ngabisin makanan yang bikin lidah gue kesetrum gitu? Ini menu lebih enak telor ceplok gosong buatan Shanty, Ed. Tapi seorang Riana Pramudya, fashion designer muda dan tukang makan ini, tidak akan memperlihatkan penderitaannya di hadapan Edgar.

Act like a lady, think like Oprah. Is you, Riana. Is you.

Hanya saja ingatan tentang komentar Shanty mengenai ketidak-soulmate-nya lidahku dengan makanan Perancis sempat membuatku tertohok dulu. Shanty sempat bilang, ”Gila lo, Nek. Tinggal udah lama di Amrik, kuliah sampe Magister di New York, fashionable bahkan udah keliling dunia, tapi tetep aja lidahnya warteg”

Kampret! Syukur-syukur ini restoran Perancis, di dua date kemarin Edgar malah ngajak ke restoran Turki dan India, yang bikin aku mencret seharian.

”Porsinya kegedean buat aku, Ed.” kataku manis, mungkin terkesan sok manis.

”Oh ya? Kalau Bella selalu suka menu yang kamu makan dan selalu habis” dia tersenyum. Sepertinya lelaki ini selalu tersenyum, tapi Edgar memasukkan Bella di percakapan kami. Untuk pertama kalinya di hari ini, rasanya baru seperti kemarin mendengar nama itu.

Aku memilih mengalihkan pembicaraan, ”Kamu kapan balik ke Jakarta?”

Edgar bekerja di perusahaan milik orangtuanya, di bidang paper and pulp, tentu saja dia pewaris tahta kerajaan di keluarganya kalau bapak atau emaknya mati, secara anak tunggal. Edgar memiliki posisi penting di perusahaan besar itu, dan aku sangat tahu kesibukannya yang luar biasa. Mendapatkan waktu malam ini untuk date saja tampaknya dia kesulitan me-manage waktu.

”Masih lama, An. Satu atau dua bulan lagi, aku hanya beresin masalah disini, kalau kamu gimana? Enggak balik-balik ke Jakarta?” cara Edgar bertanya sungguh jenaka, kelihatan dari senyumannya, tapi itu malah bikin aku gemas pengen cium dia sampai sesak.

”Balik kok, rencananya lebaran, Mama udah kangen banget.”

”Absolutely, anak gadis tinggal sendirian di kota enggak tidur ini bikin cemas, apalagi ini kota rawan kejahatan, kemungkinan banyak pria hidung belang itu ada.”

Aku tertawa, ”Iya, makanya Mama selalu ultimatum aku biar enggak lupa sama kodrat selain karier, biar ada yang lebih memastikan beliau sih kalau aku aman. Sama macam Mama kamu,”

Edgar tertawa, tawanya terdengar halus. ”Dan mempertemukan kita pada rencana perjodohan mereka untuk kita,” dia menegakkan leher, lalu mengangguk. ”Apa sebenarnya kita terkesan sangat serius berkarier sehingga rasa-rasanya mereka perlu ngejodohin begini?”

Aku mengangkat bahu. ”Banyak pengalaman asmara apa bisa dibilang enggak serius dalam berkomitmen?”

Alis Edgar mengangkat. ”Enggak juga. Well, semua apa yang terjadi dalam hidup kita itu seleksi alam, soal jodoh itu mutlak milih Allah yang Maha Mengelola dan Maha Menyimpulkan, kita harusnya hanya menerima, tapi kebanyakan sibuk menganalisis pake kekuatan otak dan hati, beda sama karier dan bisnis yang masih bisa kita proyeksikan masa depannya”

Aku terdiam, mendadak terkejut mendengar pernyataan Edgar dengan suara santai seperti tanpa pikir. ”Kamu setuju perjodohan, An?” tembak Edgar yang membuatku meneguk ludah. Hanya saja keseriusan di wajahnya membuatku tak sanggup untuk menjadi gadis bodoh. Cukup mengeja nama menu-menu di Per Se saja aku bodoh.

”Aku bukan orang yang terlalu konvensional, dalam pekerjaan aku menghargai banget sama unsur-unsur zaman dulu karena bisa dikombinasikan sama kekinian, tapi perjodohan enggak termakan zaman toh, selagi itu berjalan lancar dan dengan niat yang baik, aku setuju saja, enggak perlu kabur dan terancam digetok Datuk Meringgih karena utang... wait it minute! Papaku enggak ada utang sama keluarga kamu, kan?”

Aku tak tahu apa yang terjadi tapi Edgar tertawa keras saat ini. Kurasa perhatian orang-orang yang dari tadi berbicara dengan suara low kini memandang kami terang-terangan. Kemudian tersadar aku harus menghentikan tawa Edgar.

”Kenapa sih?” tanyaku bingung.

Edgar menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia menggeleng seolah-olah sedang berusaha meredakan tawanya sendiri. Edgar memberi kesan positif, aku mensyukuri itu, tapi Edgar menatapku lama, tatapan yang biasa kuterima dari pria-pria yang memujaku dan terlihat nyaman padaku.

”Kamu tuh lucu ya, An” komentarnya, tatapannya tak lepas dariku. Kalimat itu sering kudengar dari pria-pria baik yang pernah, sedang, maupun telah menjadi mantan di kehidupanku, tapi ketika keluar dari mulut Edgar, terasa berbeda. Edgar kelihatan takjub denganku. Mungkin dua date kemarin dia mengira sedang nge-date dengan acar timun dan bubuk cabe, atau mungkin dia mengira sedang nge-date dengan Paris Hilton, dan baru menyadari kalau aku secerdas Tyra Banks.

Pipiku panas, merona, ge-er. Mulai norak deh! Kampungan kamu, Riana!

”Kamu unik dan menggemaskan, lebih menggemaskan dari Bella, dia hanya bisa bikin hatiku meradang” lanjutnya lagi. Edgar meraih tanganku, jari kami bergesekkan. Sekilas persentuhan ini membuat bulu-bulu tanganku berdiri. Suhu tubuhku mendadak dingin dan panas, berganti-gantian, tapi aku mulai teringat dengan jamban mendengar nama itu lagi.

Edgar tak bicara apa-apa lagi, hanya saja hatiku jadi sejuk dan gatal secara bersamaan. Seperti sedang menari-nari indah ala film bollywood di padang rumput. Terasa damainya, terasa juga gatal-gatalnya. Kini Edgar menopang dagu, kuperhatikan pandangannya terarah ke luar jendela yang memamerkan Central Park yang gelap dan skyline yang cantik. Timbul secercah senyuman di wajah tegasnya, tapi ada kalanya ada hal yang tidak bisa disembunyikan Edgar dari raut itu, dia selalu kelihatan seperti pria yang penuh kerinduan. Sejenak aku bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Edgar kelihatan bahagia sekaligus menderita secara bersamaan? Kenapa, Ed? Kamu enggak suka sama perjodohan orangtua kita? Kamu enggak suka date sama aku? Atau sama Soup-la pokemon yang kamu makan?
Aku hanya bisa bertanya-tanya, kan? Karena tentu aku tidak bisa menemukan jawabannya kalau bertanya sama potongan jeroan yang masih tersisa di piring Edgar.

“Ed..”

Edgar lama menoleh, ”Kamu manggil aku?”

Yah, tuh.. bener, kan? Dia enggak fokus, ”Aku ngebosenin, ya?”

”Hah?” bola mata Edgar melebar, gelengannya cepat, ”Enggak kok, kenapa ngomong begitu?”

”Habis kamu diem,” aku mengangkat bahu. ”Menurut kamu perjodohan ini termasuk melenyapkan kemerdekaan individu seseorang enggak?”

Aku akan melakukan apapun agar suasananya enggak mendadak awkward macam tadi, tapi karena aku bertanya begitu, tatapan Edgar seperti tidak percaya.

”Kamu merasa enggak merdeka?”

”Kok kamu malah nanya?”

Edgar tersenyum melihat nada cemberutku yang kayaknya agak dibuat-buat, “Menurutku enggak. Aku enggak pernah mempermasalahkan perjodohan, karena itu hanya media yang kuanggap positif untuk membantuku mencari pendamping hidup, disana kita bisa memakai hak kita termasuk melanjutkan untuk memilih atau berhenti, karena tujuan kita dijodohkan adalah untuk mencari kecocokan, kan? Kita punya orangtua yang enggak memaksakan kok. Kalau pendapat kamu?”

Aku diam selama beberapa jenak, Edgar menungguku, ”Menurutku iya”

Ekspresi Edgar lagi-lagi tak menyangka dengan jawabanku. ”Tell me..”

”Di budaya kita, kita melihat banyak orang menghindari single, ada yang takut single dan bahkan ada yang menghindari memiliki anak, bahkan terlalu banyak anak, and we hate when people fuck. Para orangtua takut anaknya jadi perawan tua, bahkan free sex. Bikin aku mikir social pressure itu nyebelin, ya? Banyak cara mengharapkan orang lain agar menyesuaikan diri dengan standar-standar yang dibentuk secara sosial, padahal.. setiap orang punya standar tersendiri dalam hidupnya, toh hidup-hidup dia, sesuka dia bagaimana mengatur hidupnya, sekalipun.. well, kamu benar, kita punya hak memilih untuk ikut atau enggak”

Edgar terdiam, kemudian berdeham, dia menatapku dengan ekspresi yang tentu saja tidak bisa kutebak. ”Kamu mirip sekali dengan Bella, An. Kalian seperti gabungan karakter konvensional dan liberal yang mengesankan perlu kehati-hatian dan tentu punya pemikiran yang seimbang dalam memandang dunia dan mengambil keputusan.”

Sumpah aku enggak tahu Edgar lagi memuji atau bukan, tapi nama itu lagi... kampret.

”Aku salut padamu,” lanjut Edgar yang meremas tanganku pelan, aku merasakan kehangatan yang disalurkan oleh sentuhannya itu. ”Aku ingat Bella pun pernah mengatakan di sisi tekanan, ada hak. Eventually, dengan segala tekanan dan logika yang kita miliki, sebagai makhluk berpikir kita akan dihadapkan pada kenyataan mengetahui sejauh mana kemerdekaan invididu atas diri kita itu dibawa, termasuk bagaimana kita memperjuangkan hak-hak hidup kita,”

Kalimat itu adalah kalimat bijak terakhir Edgar di Per Se, yang membuatku terdiam dan memahami semuanya. Kami tidak kemana-mana lagi setelah dari Per Se karena udara malam New York di musim dingin ini sangat tidak mendukung. Edgar mengantarku sampai depan lobi apartemen saja, aku melarang Edgar mengantarku sampai pintu dan mencium pipiku seperti biasanya, aku punya alasan untuk itu dan aku akan mengatakannya padanya.

Kami berdiri berhadapan, kulihat asap kecil keluar dari mulut dan hidung Edgar. Udara memang dingin sekali, tapi Edgar kelihatan bingung menatapku, mungkin dia merasa terlalu lancang untuk bertanya tampaknya. ”I’m so happy tonight, An. You are so unique, different, kamu.. warna baru yang pernah kukenal dan aku senang” ucapnya setulus ekspresinya.

Really, Ed? Ataukah aku adalah cerminan dari seseorang?

”Aku rasa.. kita bisa melakukannya lagi, dan...” mulut Edgar membentuk kalimat terakhir ketika dering ponsel menghentikannya. Edgar meraih ponsel di saku depan celananya. Dia mundur dua langkah dan berbicara. Dengan jarak seperti ini, aku tahu apa yang dibicarakan Edgar, akupun tahu siapa yang menghubunginya. Jangan salahkan telingaku kalau aku menguping, salahkan bad habit.

Aku sempat mempertanyakan hal ini di hari-hari sejak first date dengan Edgar, aku mencoba mengenyahkan karena kupikir itu hanya ketakutan absurbku semata, tapi aku dihadapkan lagi pada hal itu karena Edgar merangsang prasangkaku di second date. Dan akhirnya.. third date membuatku terbuka pada logika. Dalam diam aku mendapatkan kebenaran itu, betapapun itu menyakitkan.

Edgar menghampiriku sambil menggenggam ponselnya, dia menghela nafas berat seperti sangat terbebani. Entah olehku, atau mungkin oleh hal yang dia tidak ingin kuketahui. Ekspresiku membuat Edgar bingung. ”Kenapa, An?”

Aku menggeleng, tersenyum. ”Sorry kalau aku menguping, tapi seorang mantan yang berada ribuan kilo dari sini menghubungimu di friday night? Menghubungimu tiga kali malam ini? Rasanya.. aneh”

Edgar memejamkan mata, ”Bella hanya mantan.”

”Dan kamu enggak bilang padanya kita sedang dating,”

Edgar terdiam, tak berkata apa-apa, mungkin karena tak mampu dan kaget.

Aku melanjutkan kalimatku, "She’s perfect for you, ha? Sampai-sampai namanya selalu ada dalam percakapan kita”

Sorotan lampu mobil di kejauhan menyilaukan pandangan. Kami berada dalam keheningan yang dingin. Edgar lagi-lagi seperti boneka kaku tak bisa berkata-kata, dia cukup syok mendengar kebenaran di perkataanku. Aku tahu aku akan sakit, karena aku sudah mencoba menjadi date yang baik padanya selama satu bulan ini, aku merasa aku sudah jatuh cinta pada Edgar sejak date pertama, dia sepenuhnya ada di pikiran dan hatiku berbulan-bulan ini, tapi.. tampaknya perasan Edgar belum menyamai apa yang kurasakan itu.

”Bella benar,” Aku tersenyum kecil, sekalipun hati ini masih sakit. Alis Edgar menyatu, bingung.

Aku menahan hasrat diri untuk menendang selangkangan Edgar saat ini, tapi siapa aku? Aku bukan pacarnya, aku bukan teman terbaiknya, aku bukan tukang pukulnya, aku hanya wanita yang disodorkan orangtuaku kepada anak sahabat mereka, aku hanya wanita yang mengenal Edgar dua bulan ini, dan mulai dating sejak satu bulan, and for Godshake! I’m in love with him at the first sight.

”Bella benar, eventually, dengan segala tekanan dan logika yang kita miliki, sebagai makhluk berpikir kita akan dihadapkan pada kenyataan untuk mengetahui sejauh mana kemerdekaan invididu atas diri kita itu dibawa,” kuhela nafas panjang. ”Kurasa.. ini enggak bisa dilanjutkan lagi, Edgar.”

Mendadak aku merasa menyesal telah mengatakan hal ini, ketika aku hanya mempercayai pilihan orangtuaku, aku menghargai mereka, dan memperlakukan Edgar selayaknya teman kencan, aku menyukainya, lebih, tapi.. kebenaran yang kudapatkan hanya membuatku mual. Kini, aku hanya ingin Edgar tahu siapa aku, dan aku merasa tidak ada yang penting untuk dirahasiakan kepadanya.

”Riana, aku minta maaf, dia hanya masa laluku, aku.. berjuang melupakan wanita itu.”

Aku memperkecil jarak, menatapnya lekat, menatapnya yang masih syok. ”Aku tahu, tapi aku juga ingin kamu tahu bahwa aku bukan wanita itu. Aku bukan wanitabyang selalu kamu sebut namanya disetiap kencan kita, aku bukan dia”

Edgar terdiam, menatapku serba salah, tapi akhirnya dia mengangguk paham. Dia meraih tanganku dan meremasnya, seolah tak ingin aku pergi, seolah dia meminta maaf dengan sentuhan. Aku perlu berjinjit agar bibirku bisa mencium pipinya dan berbisik, ”Goodnight, Edgar,” sebelum akhirnya berlalu meninggalkannya. Susah payah rasanya menekan rasa sakit, setiap langkah yang menjauhkan kami terasa sangat berat, tapi akupun tahu Edgar masih berdiri disamping Porche, mengawasiku, mengamati setiap langkahku, aku yakin dia pun merasakan hal yang sama.

Edgar tahu apa yang kuinginkan, tentu, dia lelaki dewasa dan aku tahu dia paham, tapi apakah dia mampu melakukannya? Entahlah, itu misteri. Tapi setidaknya aku bisa lebih tegas pada hatiku saat ini, pada Edgar, aku tidak mau mencintai dengan bodoh. Kita tidak perlu pura-pura bodoh untuk mencintai, kan? sekalipun nanti Shanty pasti akan merayakan ini padaku dengan telur ceplok gosongnya itu. Well, Mungkin.. aku akan merindukan setiap momen bersama Edgar, dengan gelak canda tawa dalam membangun keakraban kami aku senang, dengan gayanya yang selalu sopan memperlakukanku, tapi kalau ketika kenyamanan itu tiba-tiba diisi dengan Bella, rasanya seperti mengunyah Soup-la apa tadi? Soup-la pokemon?
Ahh who cares!

*to be continued*

Komentar

Postingan Populer