FENOMENA-FENOMENA BIASA YANG TERJADI DI BULAN RAMADHAN

Bulan penuh berkah adalah bulan Ramadhan. Bulan baik lah istilahnya, jadi karena dinamakan bulan baik dan penuh berkah itu apalagi segala amalan baik yang dilakukan selama bulan Ramadhan  akan dilipatgandakan  pahalanya. Umat muslim berlomba-lomba menjalankan berbagai ritual ibadah dan segala amalan baik.
Jadi wajar.. kalau harga hampir semua barang kebutuhan meningkat drastis dan harga baju di mall bisa tiga kali lipat dibanding kuantitas ramenya yang ke mall demi memenuhi ego yang enggak bisa marah karena puasa, dan menganggap itu bagian dari amal dengan pahala gede.

Ya mosok mau marahin harga naik gegara bulan Ramadhan tho?

But anyway,  harga naik, mall rame, itu sudah biasa. Tapi bukan ‘biasa’ yang itu saja yang terjadi di bulan Ramadhan yang tinggal hitungan jam saja. Mari saya review sejenak sembari minum capucino cincau galau menunggu jam berbuka yang masih 30 menit lagi.

Bukber & Sholat Tarawih. Yang namanya setahun sekali, tidak menutup kemungkinan dikerjakan setahun sekali juga. Ya namanya juga dilipatgandakan ya rasanya mungkin merasa sholat lima waktu pada 30 hari baik bisa menutup sholat yang bolong-bolong di hari-hari biasa. Who knows kan?. Yang biasanya jarang menempuh sholat shubuh, bisa dikerjakan juga karena patut berterima kasihlah pada sahur dan imsak. Dua waktu yang sekali lagi mengingatkan kita pada kelaparan dan kesabaran dengan jam tidur yang kurang (di setahun sekali). Apalagi dengan sholat sunnah yang bervariasi serta salah tarawih yang eksis disambut dengan sangat antusias di hampir semua masjid yang ada.

Ya biasanya masjid cuma dikunjungi di jam-jam tertentu saja, kurang popular dan rame, tapi dengan adanya sholat tarawih, bangunan sekelas surau pun eksis di malam hari. Kalau saja di masjid ada wi-fi mungkin bisalah yang sholat check-in di Path, Facebook, atau Twitter biar dianggap syar'i daripada check-in di cafe-cafe mulu.

Maklum bo.. ada yang pemikirannya eksis ibadah di bulan Ramadhan bisa dilipatgandakan pahalanya.
Tapi tho sayang banget karena masjid-masjid yang biasa eksis karena tarawih cuma bertahan di minggu pertama dan kedua. Seperti popularitas Ayu Ting Ting dengan lagu ‘Alamat Palsu’ yang dulu meledak sampai puyeng dengernya, kini mulai meredup dan sibuk ngasuh anak tanpa single baru yang sik-asik lagi. Sama halnya dengan tarawih, di minggu-minggu setelah minggu kedua yang Tarawih mulai berkurang kuantitasnya, terhitung jumlah muda-mudinya, biasanya dengan alasan “Bukber” sama teman lahir, teman TK, teman SD sampe teman ketemu gede, juga banyak yang menghindari 23 rokaat dan lebih memilih masjid yang 11 rokaat, atau seperti pengalaman ogah-ogahan saya dulu yang sudah lepas mukena di rokaat 11 ketika yang lain lanjut sampe 23 rokaat trus melenggang diem-diem keluar mesjid tanpa dosa. Pasti adalah orang selain saya yang begitu, kan? Ngaku!

Hal biasa lain yang juga kambuh setahun sekali adalah menyantuni anak yatim. Menyamai redupnya popularitas shalat Tarawih dengan dalih mempererat tali silahturahmi, dan hampir semua undangan buka bersama pun dihadiri dengan merem mata tanpa peduli keringnya isi dompet dan diakhiri dengan wefie untuk di upload ke social media biar dikira makin gaul, timbul siasat dengan mengajak yayasan yatim piatu biar tambah gaul yang islami. Hal ini tentunya mengharapkan tambahan pahala, dan supaya kelihatan dan dianggap dermawan kalau di-update di social media.

Tapi lagi-lagi.. yang namanya fenomena biasa yang jelas-jelas bersifat kambuhan, setelah satu bulan rebutan yayasan yatim piatu buat diajak buka bersama, sumbang dana, dan sebagainya, bulan-bulan selanjutnya sepi sendiri aku benci, segitu doang-udah gitu aja, dan akan rame kembali di Ramadhan tahun berikutnya. Bisa saja mereka mikirnya pahala akan berlipat bila teraplikasikan santunan ibadah kepada anak yatim piatu secara baik dan ikhlas di bulan baik selama 11 bulan lainnya.

Hitungnya pahala yang terakumulasi gitulah.
Sedih ya? Sedih.

THR. Nah, yang namanya hari raya jelas-jelas yang dinanti umat muslim adalah THR. THR sudah seperti hak setara dengan gaji bulanan yang diberikan pihak kantor bahkan orangtua sekalipun jumlahnya kurang dari satu bulan gaji. Motonya : enggak penting berapa jumlahnya, yang penting THR.

Yah namanya juga rejeki cuma-cuma tanpa susah payah dapetinnya dan enggak perlu sampe ngelabrak bos, kan? Asik-asik aja.

Sampai ada juga yang upload duit THR ke jejaring sosial atas nama eksistensi ibadah tadi, yang lebih wow lagi ada yang upload foto-foto uang THR dengan caption : dengan hati ikhlas, semoga THR dari saya ini berkah buat anak-anak yatim yang membutuhkan, amin.

Oh, that’s so sweet, kan? 

Tapi dengan pemantauan haw-haw kacamata saya di bulan Ramadhan ini sering ditemukan seperti: ada niat yang awalnya baik untuk keberkahan yang baik pula, kebaikannya jadi tidak lebih dari eek kucing ketika diselipi-niatkan dengan pamer kedermawanan. PAMER. Kalau bagi saya sih, yang mengumbar uang THR di media sosial itu kampungan. Mengingat orang kampung juga enggak kampung-kampung gitu-gitu amat. Tapi lagi-lagi sikap pamer ini menunjukkan kualitas mentalitas pribadi ya, bukan stereotype suatu wilayah, you know what I mean..

Well ya, sejatinya benar urusan pahala atau enggak itu bukan saya yang punya kuasa, tapi Allah SWT, saya cuma tukang komen saja. Halah.

Selain THR, umat muslim di bulan Ramadhan mendadak punya penyakit gila. Gila belanja. Dengan berbekal rasa gengsi untuk mudik bahkan mempercantik rumah ketika kedatangan tamu di hari H nanti, maka berbondong-bondonglah mereka menuju ruang publik baik mulai dari toko emperan yang sulit dijangkau di pinggiran kota maupun mall gede di pusat kota. Mulai dari mengharuskan diri membeli pakaian baru, celana baru, bahkan daleman baru, mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku jempol kaki pokoke baru. Banyak hal yang menjadi alasan yang mendasari ini tanpa alasan ‘baru’, mengingat tidak semua orang yang memuaskan ego pribadinya di menjelang lebaran ini dengan berlomba-lomba siapa pakaian paling bagus, paling baru, dan paling up to date, meski harus berjubel-jubel berenang melewati samudra manusia yang dari antah berantah sekalipun demi memperebutkan baju baru diskonan yang tetap masih aja mahal.

Saya tidak tahu entah kapan ini mulainya, apakah pola pikir masyarakat yang lebih mengidentifikasi Idul Fitri dengan sesuatu yang baru, termasuk baju baru. Atau inikah yang namanya fitrah?.

Okelah, memang kalau isi-isi ditoples atau opor dan rending daging bukan barang baru alias barang tahun lalu yang tanggal kadaluarsanya sudah lewat itu maksa merendah banget ya, tapi dengan ritual belanja hanya untuk mempercantik diri dengan modal pamer di beberapa hari saja, tapi lupa mempercantik hati dan iman? Gimana dong? Eh.

Terakhir. Question of life. Jreng-jreng, ini yang diwanti-wanti. Di bulan Ramadhan tentunya perlu disiapkan mental yang tegas dan hati yang kuat serta kesabaran yang tinggi dibarengi keikhlasan yang tiada duanya menjelang Idul Fitri. Bukan apa, untuk saya nih ya yang memiliki keluarga besar dari Bapak dan Mamak yang di hari lebaran pertama pun tidak pernah absen didatangi sanak-saudara, yang tentunya membuat rumah kecil yang biasanya hanya didiami 4 orang saja bisa mendadak seperti di taman kanak-kanak. Bedanya kalau anak-anak TK enggak punya rasa kepo tentang life orang lain tapi sibuk hahahihi sana sini, lha ini penghuni TK-nya berwujud beberapa bibi, beberapa paman, beberapa sepupu, beberapa om dan tante, beberapa teman Mamak, beberapa teman Bapak, bahkan tetangga dari 40 rumah samping kiri merasa punya hak andil untuk melayangkan Question of life dengan “Kapan ini – kapan itu?” kepada yang lebih muda.

Hari raya Idul Fitri adalah hari pengorbanan demi memenuhi alasan ‘Family Time’, tapi yang biasa terjadi justru jadi ajang menguatkan iman dan kesabaran gara-gara harus siap berkali-kali dikeroyok  pertanyaan “Kapan punya pacar?” kepada mereka yang jomblo, “Kapan lulus?” kepada mereka yang kuliahnya enggak kelar-kelar, atau “Kapan momongan?” kepada mereka yang lega udah diperawani tapi belum juga punya anak, dan berbagai jenis “Kapan” lainnya. Lebih parah lagi bagi nasib yang jomblo dan dianggap sudah berumur ditanya “Kapan kawin?” waduh. Pacar saja belum punya? Apalagi kawin? Shit banget kan?. Gimana dengan yang sudah lama pacaran tapi belum diajak kawin-kawin ini? (Lho kok? curhat?)

Terkadang, di acara Family Time Idul Fitri inilah sebenarnya saya, kita, siapapun, bisa menilai dan menelaah bahwa yakinlah ada beberapa orang yang merasa standar hidup seseorang mesti sama dengan standar hidupnya, seperti standar hidup seseorang dipukul rata harus sama dengan dengan apa yang mereka percayai. Seperti mereka yang belum kawin di usia 30 tahun sudah dianggap kesalahan besar, dan mencaci maki karena terlalu sibuk kerja, kemudian dipaksa mesti kawin. Padahal jodoh itu urusan Allah, tapi sering ada manusia yang suka mencampuri hidup orang lain. Hidup-hidup orang kok orang lain yang sibuk? Kita-kita yang jalanin kok orang lain yang mau ngatur? Kan sarap.

Seperti mereka yang sudah lama menikah tapi belum punya momongan, kemudian ditanya “Kapan punya anak nih?”. Terkadang pertanyaan itu dilayangkan hanya untuk sekedar basa-basi, kepo, atau memang merasa perlu wajib tahu, tapi seringkali tidak semua orang siap dengan jawaban yang dia tanya, Siapa tahu jawabannya memang tidak punya anak karena mandul, apa siap menerima jawaban macam itu? Nah lho.

Sayangnya, mereka yang tua yang merasa berhak menanyakan question of life untuk yang muda tidak tahu saja bahwasanya demi kesopanan yang dijaga dan kesiapan menerima pertanyaan jika yang muda juga sebenarnya menyimpan pertanyaan balik: “Kapan mati?”

Apa siap?

Ah, itulah fenomena indahnya Ramadhan…

Komentar

Postingan Populer