IN THE NAME OF LOVE/GOD
Tidak lama ini dunia dihebohkan dengan aksi same-sex marriage di Amerika. Ribuan orang menyerukan Obama untuk melegalkan pernikahan sejenis secara terang-terangan yang berujung membahagiakan. So sweet ya?
Se-sweet lambang bendera dan segala macam atribut yang mirip rainbow cake. Sayang momen-nya enggak pas banget di bulan Ramadhan ini jadi bawaannya lapar sekali lihat ‘LoveWins’ symbol itu.
Tapi jujur saja, sepanjang buka social media, saya capek lihat CNN, BBC, People, dsb yang selalu memberitakan tentang Love Wins, secapek lihat berita dari media lokal tentang kasus si Cantik Angeline yang tak berkesudahan ujungnya. Tidak tahu pihak mana yang bisa disalahkan, media yang tidak segan memprovokasi? Atau salahkan pengacara-pengacara yang bikin kasus homicide itu segreget drama serial Law & Order?.
Bukan apa-apa, sebagai hetero ada rasa yang tak biasa yang geli di ulu hati mengingatkan pengalaman buruk saya ketika diam-diam ditaksir teman lesbian (lho kok malah curhat?), tapi dilain rasa itu ada kekaguman besar pada sebagian orang yang berani mengakui dengan lantang “I’m a gay! In the name of love I want love wins!” pada dunia. Saya kagum sekali, setidaknya ini lebih soft dan elegan tanpa perlu ancung AK47 dan golok seperti perkara “Saya seorang muslim! Atas nama Allah, musnahkan kafir! Penggal!” di Timur Tengah nah jauh disana yang selalu kita doakan semoga cepat stop konfliknya.
Perkara selebrasi rainbow (flag-lamp-cake-face-lips and many more) dengan hashtag #LoveWins yang sempat jadi trending topic membuat saya berpikir betapa peduli dan terbukanya masyarakat di Amerika untuk memperjuangkan hak-haknya. Termasuk hak untuk mencintai sesama sampai ke jenjang pernikahan dan rela mengadopsi anak dari para hetero. Hebat banget, kan?! but okay, I know, I know this is not right, kalau menguraikan perkara LGBT ke ranah agama termasuk dengan pandangan Islam bahkan Kristen, ini tidak tepat, sudah ada hukumnya, tapi sekali lagi membahas hal ini pada ranah agama yakinlah.. tidak akan ada habisnya. Kita semua tahu manusia diciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Hawa tidak diciptakan berpenis, Adam juga tidak diciptakan bervagina, manusia tidak diciptakan seperti Caitlyn Jenner, manusia itu dilahirkan bersih, suci, tanpa dosa da menggemaskan, gedenya mau jadi homo atau lesbian itu pilihan, kan? tapi ya kembali ke ‘In The Name of’ tadi, karena kita juga tidak bisa menyalahkan orang yang selama hidupnya merasa lebih bahagia jika hidupnya dipandu oleh cinta, bukan pada Al-quran bahkan Alkitab. Toh kita juga tidak bisa menyamaratakan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, kalau kita takut Tuhan bahkan neraka, tidak semua orang takut keduanya itu, kan?. Toh itu hidup-hidupnya, kenapa kita yang sibuk?
Benar saja, tapi seperti kodratnya sebuah aksi akan selalu melahirkan reaksi. Aksi LGBT ini mengalami berbagai respon mendunia. Ada yang mendukung, bahkan sejenius Mark Zuckerberg pun membuat aplikasi di facebook sebagai wujud dukungannya pada same-sex marriage, dan mereka-mereka yang hetero pun mendukung hak-hak kaum LGBT termasuk sempat saya baca ada yang nge-twit begitu romantisnya: “Is not about gay marriage, lesbian marriage, or same-sex marriage. It’s about the fundamental right to marry the person you love”. Cute, kan? Tapi ada juga yang mendukung dengan gaya nyinyir: “Agama itu fiktif, dan negara itu buatan, kenapa urusan pernikahan saja mesti Negara yang urus? Kalau cinta ya cinta, pemerintah kok ngurusin rumah tangga kamu?”. Twit-nya agak ngeyel juga tapi saya maklum karena yang nge-twit itu ngakunya dokter cinta tapi jomblo-menahun-effect. Sebut saja Bunga.
Well, ada dukungan, tapi tidak sedikit pula yang terus-menerus mengejek-ejek aksi LGBT dengan bawa-bawa ‘In The Name of God’ dan sebagainya. Sampai-sampai di Indonesia yang sama sekali tidak mencontek Amerika, bahkan kabarnya MUI terang-terangan melarang adanya pernikahan sejenis dan akan menghukum mati orang dengan cinta sejenis. MENGHUKUM MATI. Hebat, ya? Padahal sejarah jelas-jelas menerangkan bahwa sekelas kerennya Nabi Luth saja masih membutuhkan ‘tangan’ Allah untuk me'runtuh'kan Kaum Sodom. Tapi lagi-lagi era 2015 bukan zaman nabi, dan Amerika tidak seperti Indonesia yang punya beberapa organisasi khilafah yang selalu kalap amnesia membenci Amerika dan modernisasi serta mau membawa dunia ini kembali ke zaman nabi dengan mengikuti jejak-jejak aktivitas nabi menebar syiar tapi masih menggunakan iPhone dan Mustang produk Amerika, bukan jalan kaki atau naek onta. Allahu akbar! Naudzubillah min dzalik :)
Infact, ketika LGBT di Amerika merasa dihargai dan diterima sebagai manusia untuk hak kawinnya diperbolehkan oleh negara, di Indonesia boro-boro ding. Ketahuan homo saja malu, apalagi mengakui homo. Di Indonesia dilecehkan saja sudah syukur, apalagi kalau dibolehkan kawin itu sudah syukur tingkat Alhamdulillah hip hip hurray sujud syukur kayaknya. Malah ya ini ada (Wanita yang mirip) Aming saja di-bully, apalagi Sherina yang banzai mendukung #LoveWins saja dihujat-hujat netizen. Jelas-jelas kegembiraan hanya dimiliki LBGT di Amerika saja, tapi kayaknya di Indonesia tidak. Stigma, diskriminasi, dan pelecehan masih kental terasa.
Homo dan lesbian itu nista, itu penyakit, dan itu menjijikan, tidak sedikit yang menyerukan hal itu. Hanya saja tidak semua orang yang menganggap itu menjijikan termasuk saya, karena hanya ada satu hal yang sebenarnya menjadi kekhawatiran saya atas hal ini, dan jujur saja saya yakin sesungguhnya ya bo ini yang mengganggu perempuan-perempuan seperti saya yang hidup di Indonesia untuk mencari pasangan hidup yang dunianya dikelilingi orang-orang yang penuh kepura-puraan karena takut dihakimi karena jujur dan terbuka dan be yourself and love yourself termasuk pada orientasi seksualnya. Mengingat saat ini jumlah lelaki berbadan atletis dengan perut kotak-kotak dan berbisep bak Dwayne 'The Rock' Johnson sudah menurun kuantitasnya sebagai seorang straight. Malahan yang cantik feminim macam Super Junior yang dianggap straight, sungguh ini sangat mengancam perasaan hati perempuan hetero, Pemirsah! Ini penipuan kedok, permirsah! Ini penipuan! (Jeritan hati perempuan normal yang mencari lelaki normal)
Oia.. Ada lagi, Boro-boro ngarep lelaki yang macam model susu ‘Trust me it works!’, pria yang maskulin rajin nge-gym sekalipun tapi tahu macam-macam pelembab tubuh, lipgloss, lip liner, lip balm, conditioner dan suka ngomong “Amboiii” yang bahkan tahu nama perancang busana di dunia itu adalah sebuah tamparan keras bagi saya, kita, kami yang kritis mencari lelaki sejati. Aduduh.. hal ini membuat saya berpikir dan menganggap dunia ini sudah benar-benar diguncang Duo Serigala menjadi terbalik 180 derajat. Jelas-jelas perempuan Indonesia mesti berhati-hati memilih lelaki yang lebih suka melirik kerapihan bulu hidung dan keimutan bulu kaki lelaki ketimbang penasaran apa dibalik kemeja wanita karena yakinlah, Duhai Perempuan, ada pria yang sejantan Matt Bomer tapi suka penis dan ass, dan ada juga pria yang sengondek aktor bencong tapi pencitraan saja dengan menikahi perempuan. Hidup ini pencitraan, Ladies, jangan tertipu daya bewok dan perut papan cucian serta titit dibalik celana. Beware, Ladies. Beware! (jerit lagi)
Sudahlah, lebih baik saya kembali ke topik awal ketimbang mengungkapkan jeritan hati yang tidak penting itu.
Well, hak kaum LGBT intinya bersatu dengan orang-orang yang mereka cintai, tapi masih menghormati Negara dan mengharapkan Negara pun menghormati hak mereka. Di nun jauh disana pengakuan itu penting, keselarasan hak itupun penting, lha di Indonesia, pengakuan dan penghormatan pun masih sulit dicapai. Tak berjilbab saja diserukan kafir, bermata sipit beretnis cina saja masih di-bully, apalagi mengaku lesbian. Yasalam. Susah hidup di tanah Air Beta Indonesia Tercinta ini mah.
Tidak banyak kata lagi ya (karena saya masih sedih juga capek memikirkan lelaki sejati), bagi yang mengolok-olok LGBT, ada baiknya stop deh, stop menjadi orang menyebalkan yang ngomong ngalur ngidul tanpa budi seolah-olah paling alim dan paling suci, rangkul mereka, terima perbedaan, kesampingkanlah urusan dosa atau tidaknya karena itu bukan hak prerogative kamu untuk mengultimatumkan dosakah seseorang, tapi Allah. Urusan laknat atau tidaknya biar jari-jari Allah-lah yang bermain, bukan jari-jari kamu yang setiap hari nyampah sumpah serapah di social media dan berharap ada yang ngomen. Jadikanlah mereka teman, seperti saya yang masih menjaga hubungan baik dan bergaul dengan teman-teman miring sekalipun sayangnya kebanyakan dari mereka ada yang sulit mengakui orientasi mereka karena merasa itu adalah aib. Perlu diingat, bukan salah mereka untuk tidak hetero, Guys. Menjadi hetero pun tidak perlu membanggakan diri, karena sebuah pencapaian dalam hidup yang paling membanggakan adalah menjadi diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Be yourself and love yourself.
Bagi hetero yang mendukung hak-hak kaum LGBT pun tetaplah menghormati, tetap rangkul mereka, dan selalu memberi pengertian, tapi please, tolong, tolong banget janganlah berlebihan mengumbar dukungan karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan akan selalu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri karena jika saat nanti di suatu ketika kamu dipoligami awas saja kamu marah dan menolak, dan jika saat nanti suatu ketika kamu ditaksir dan dikejar banci kaleng, awas saja kamu lari tunggang langgang. (R*)
Komentar