FRIENDZONE : ANTARA KAMI, KALIAN, DAN BAJINGAN

Kami sempat lihat meme yang bergambar perempuan berjilbab dengan seorang lelaki berpeci dengan tulisan begini “Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik pula, wanita yang tidak baik akan mendapatkan lelaki yang tidak baik pula”.

Tentu saja itu premis-premis yang arif yang dibentuk dengan logika sederhana yang bisa sangat mudah dicerna dan bikin yang baca gumam “Oh iya juga ya” termasuk penulis ini sendiri.

Di lain hal meme tersebut menggambarkan bahwa mereka yang baik akan berbalas yang baik juga, dengan unsur sebab-akibat yang bijak seperti yang dibilang Papa sama Mama kita macam “Berbuat baiklah pada orang lain, maka balasannya orang lain juga akan melakukan hal yang sama seperti kita”.

Seperti itu lebih tepatnya.

Tapi yang kita lupa.. hidup tidak semasuk-akal di meme. Hidup tidak selancar kalimat nasihat dari mulut kita sendiri. Ketika nasihat dan saran adalah wujud teoritis, secara praktis tentu tidak semudah itu, tentu tidak semudah bibir tipis Om Mario Teguh Super Sekali.

Jadi begini.. terkadang kami lebih memilih pria bajingan ketimbang pria baik-baik. Jika kaum pria bertanya hal yang sama? Maka percaya deh kaum perempuan juga mempertanyakan hal yang sama. Aneh? Enggak juga. Asking self itu sehat.

Ladies and gentleman.

Kami sebagai kaum perempuan berterima kasih atas kebaikan-kebaikan yang telah kalian lakukan untuk kami selama ini. Like superhero, a doctor, a consultant, romeo, even a driver yang selalu ada untuk kami. Oh, Mama oh Papa.. kalian memang selalu bisa melakukan sesuatu, apa saja, dan itu yang ada di pikiran perempuan dan sangat membuat kami tersanjung. Bagaimana tidak? Banyak hal yang kalian lakukan pada kami, Pria- baik-baik.

Pertama. Ketika kami membutuhkan bantuan saat ketinggalan dompet, kalian datang dan menyodorkan bantuan, sekalipun kami berkata “Minjam, entar gue balikin”, kalian bilang “Enggak usah lah, Dek. Abang enggak pamrih kok”. Superhero sekali, kan? Kami membayangkan sosok kalian seperti Robin yang selalu menjadi partner Batman dan akan melakukan apapun yang tidak membahayakan Batman sekalipun nilai esensialnya hanya seperti kacung tapi jelas yang utama kenyataannya bahwa Robin adalah pria baik-baik.

Kedua, ketika kami curhat mengenai masalah di rumah, di kampus, di kantor, bahkan tentang sepatu Marc Jacobs yang mahal dan serial TV drama terbaru, sekalipun kalian kurang mengerti tapi kalian sangat good listener, apalagi kalau kami curhat tentang masalah yang kami hadapi, kalian bahkan dengan gagahnya bersikap seperti konsultan juga psikolog tanpa diminta sekalipun untuk membantu memecahkan masalah kami sampai keakar-akarnya.

That’s so sweet.

Ketiga, ketika kami sakit dan lelah apalagi didera penyakit bulanan, kalian sangat caring bak dokter pribadi, yang selalu bertanya ini-itu tentang kesehatan kami. Memamerkan wajah penuh kecemasan sekaligus kepedulian secara bersamaan. Sungguh, sungguh kami tampaknya tidak membutuhkan paracetamol sebagai sugesti kesehatan, karena dengan adanya kalian, itu sudah lebih dari cukup rasanya.

Keempat, ketika kami membutuhkan sesuatu, tak jarang kalian mau membelinya dan memberikan kami sesuatu bahkan tanpa kami minta sekalipun seolah-olah kami dan kalian punya telepati yang bisa menyatukan pikiran kita. Tapi kami bertanya-tanya, apa telepati itu benar-benar ada? Sama seperti yang dipertanyakan Ksatria kepada Putri di Supernova. Apa telepati itu ada?

Kelima, sering tanpa kami minta pun, kalian selalu memberikan kami pelayanan dan fasilitas gratis yang sangat menakjubkan. Kalian rela mengantar jemput sekalipun awalnya kami tolak karena kami merasa tidak enak dan merepotkan kalian, tapi kalian, Pria baik-baik, kalian melakukannya seperti tanpa pamrih, seperti tanpa peduli jarak seperti Sungailiat ke Pangkalpinang yang bisa memakan 45 menit kalau jalanan tidak ramai. Kalian menempuh waktu itu dengan sangat tepat waktu tanpa rasa lelah yang membuat kami semakin takjub, kalian seperti tidak memperdulikan jam kerja kalian atau teman kantor yang resek karena kalian selalu keluar kantor hanya demi kami, kalian seperti lebih peduli pada kami dari cahaya matahari yang bisa bikin kulit hitam dan kusam, kalian seperti lebih peduli pada kebutuhan kami ketimbang kebutuhan kalian sendiri. Such a good driver.

Keenam, sering di hari sekalipun tidak setiap hari kalian seperti ‘alarm bernafas’ yang selalu bertanya “Udah makan belum?”, “Udah magriban belum?”, bahkan “Udah malam, Dek. Tidur dong, ntar sakit kalau tidur larut” sekalipun kami punya kebiasaan hebat soal bergadang. Kalian seperti Bang Haji Rhoma Irama yang melarang bergadang jangan bergadang. Kalian pun tidak pernah bosan mengirim pesan selamat pagi-siang-sore-malam-sampai-ke-mimpi-indah-good-night lengkap dengan emoticon unyu-unyu.

Intinya dari keenam hal utama diatas, kalian, pria baik-baik adalah sosok yang sabar, pengertian, paham, sensitif, dan rajin seperti Tim SAR yang selalu siap di segala bencana, seperti tenaga profesi yang mengerjakan tugas-tugasnya macam tenaga dokter, konsultan cinta, sopir, psikolog, dan alarm bernyawa.

Kalian tahu? Kalian telah melakukan semua kewajiban yang sepantasnya dilakukan oleh seseorang yang dinamakan kekasih. Gelar bergengsi lebih dari seorang teman bahkan Abang dalam konteks sodara, padahal kami dan kalian adalah teman. Kita adalah teman. Seperti persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Indah dan bermakna.

Akan tetapi, dibalik keistimewaan yang sering kalian lakukan, kalian bisa membuat kami sangat kaget karena ketika kami mengumumkan bahwa kami memiliki kekasih, kalian juga bereaksi kaget, dan tak jarang ya kalian berkata kepada kami dengan pandangan penuh penilaian dengan standar ukuran kalian sendiri entah dengan objektif atau subjektif bahwa lelaki yang kami pacari adalah lelaki yang bajingan.

Bajingan.

Dengan definisi playboy, mempermainkan perempuan, tidak setia, banyak pacarnya, dan pembohong laknat yang tidak melakukan apa yang kalian lakukan kepada kami yang ternyata bertujuan merebut hati kami.

Kalian juga sering bereaksi kaget, dan tak jarang ya kalian berkata kepada kami dengan pandangan penuh penilaian dengan standar ukuran kalian sendiri entah dengan objektif atau subjektif bahwa lelaki yang kami pacari adalah lelaki yang jauh dari tipe yang kami sukai.

Terlalu gendut, terlalu kurus, all size, terlalu kerempeng.

Kalian juga sering bereaksi kaget, dan tak jarang ya kalian berkata kepada kami dengan pandangan penuh penilaian dengan standar ukuran kalian sendiri entah dengan objektif atau subjektif bahwa ternyata kalian bukanlah tipe yang kami inginkan.

Kalian anggap kami menyukai pria berdada bidang, berperut kotak-kotak, berpostur tinggi, dan punya brewokan yang setipe dengan Adam Levine. Tidak melulu faktor keindahan visual, Guys. 

Kami bingung, karena kalian malah bertanya-tanya hal yang membuat alis kami berkedut-kedut, kenapa kami, kaum perempuan, lebih memilih bajingan daripada kalian yang baik serta budiman yang sudah melakukan segalanya kepada kami? Kenapa kalian hanya kami anggap sebagai teman?

Kalian jadi sering berteriak, “Kami sudah jadi lelaki baik-baik yang kalian inginkan, kenapa kalian malah berpacaran dengan bajingan?”

Bukan hanya itu, kalian juga lebih sering teriak, “Kami tahu perut kami lebar, kami tahu kami bukan tipe kalian, kami tahu kami kurang ganteng, tapi kami baik dan kami ngelakuin apa yang kalian inginkan selama ini?”

Juga kalian lebih sering berteriak, “Apa yang salah dengan kami? Kami sudah mengerahkan segalanya buat kalian? Kami selalu ada untuk kalian, kenapa kita hanya bisa berteman kalau kita merasa sama-sama nyaman?”

Dan itu pembuktian bahwa kalian tidak terima kalau kalian hanya dijadikan teman karena kalian sudah melakukan kewajiban-kewajiban yang dilakukan seorang pacar.

Allahu akbar.

Sebenarnya, Pria baik-baik, bukan hanya kalian yang suka dan sering teriak begitu. Percayalah, bahwa kami pun juga mengalami hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Bayangkan kami juga pernah dalam posisi jadi teman curhat atau diajak jalan hanya sebagai teman ngopi tapi malah tak ada ujung dari kedekatan kami ke kalian yang membahagiakan.

Coba kita fikirkan. Kita ini kaum yang berbeda. Bedanya kami dengan kalian adalah kalian pria baik-baik yang kodratnya---percaya tidak percaya---memang suka menjadi seseorang yang bisa diandalkan terutama oleh kami, kaum perempuan, sementara kami adalah kaum yang suka diperhatikan dan dilayani.

Jelas. Kalian yang lebih terang-terangan menjerit ketimbang kami dengan nasib yang sama. Kalian menunjukkan itu dengan sikap, sementara kami tidak merasa percuma dengan menuangkannya lewat menangis dibalik bantal sampai besok pagi hingga muka sembab dan mata merah.

Hanya saja, Gentleman. Kami tahu dalam hati kalian berkata saat melihat kami dengan pasangan (bajingan) kami bahwa kami adalah perempuan yang menyia-nyiakan hidup kami dan menganggap kami hanya tong sampah saja karena memacari seorang bajingan yang hina.

Jangan gila, karena percayalah dalam hati kami pun kami juga berkata begitu.

Sayangnya.. dengan kodrat kalian yang selalu merasa harus bisa menjadi orang yang bisa diandalkan oleh perempuan, apakah kalian pernah bertanya kepada diri kalian sendiri? Apa yang kurang? Apa yang membuat kalian hanya kami anggap sebagai teman? Bahkan ‘Abang Angkat’? Mengingat kami kaum perempuan adalah kaum yang kodratnya suka diperhatikan dan menghargai pujian dan rayuan betapapun level kegombalannya bikin muntah karena intinya kami suka sekali dengan pria yang terbuka tanpa kode-kodean.

Dan pertanyaan terpenting adalah : sudahkah kalian menyatakan perasaan kalian kepada kami?

Jika jawabannya belum, tentu saja itu bukan salah kami, kan?

Jika jawabannya sudah, tentu saja itu bukan juga salah kami. Kenapa? Jelas. Bisa jadi karena faktor perhatian yang kalian lakukan levelnya jauh dari gregetnya sambal bajak lamongan.

Don’t get wrong, please. Kami bukan perempuan yang punya kecenderungan tidak menyukai pria baik-baik, bukan, bukan juga kami adalah perempuan yang punya kecenderungan menyukai bajingan. No. hanya saja terkadang pria baik saja tidak cukup bagi kami, berserah diri pada Jodoh di tangan Tuhan juga tidak mempengaruhi pola pikir kami karena sebagian dari kami bahkan tidak mempercayai ‘jodoh’ mengingat lelaki saja boleh beristrikan empat, bahkan meme “Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik pula, wanita yang tidak baik akan mendapatkan lelaki yang tidak baik pula” juga sering tidak mempengaruhi hak kami sebagai perempuan karena tentu saja semua orang, tidak kami, tidak kalian, juga punya hak memilih siapa yang layak mendapatkan hatinya, siapa yang layak dia puja. Sampai kapanpun, persoalan perasaan tidak bisa dengan mudah seperti menerka masalah praktik ekonomi di masa depan.

Kami, kaum perempuan, yang selalu kalian jeritkan “Kami tidak paham dengan kalian! Kalian ini sebenarnya maunya apa?!”, sungguh itu sangat memusingkan kami karena bagaimana bisa kami menjelaskan bahwa kami adalah kaum yang diciptakan dengan hati seperti bawang. Berlapis-lapis, yang memasuki intinya perlu mengupas lapisan-lapisan tebal yang tidak bisa dimaknai dengan kasat mata dan asal tebak saja oleh kalian. Jadi wajar kalau kalian tidak mudah memahami kami.

Ya, itu kami. Kami memang kaum yang sulit di mengerti, tapi kami percaya bahwa kami adalah kaum yang selalu menjadi objek perjuangan oleh kalian. Ya iyalah. Bahkan untuk membuahi kami pun kalian dengan jutaan sperma-sperma lucu itu saling berebutan dan saling kejar-kejaran adu cepat, adu kekuatan, adu ketangkasan dan kelayakan karena akhirnya kami hanya butuh satu sperma yang pantas dan ideal tanpa peduli apakah sperma itu rada preman atau bajingan karena mengalahkan jutaan sperma lainnya untuk memasuki kami, mendapati kami, memiliki kami. 

Kami sudah diperjuangkan bahkan dalam bentuk ‘itu’.

Oke, kami sangat tahu tentang cinta, kami juga tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan dan tidak peduli apapun bentuk kalian, apa yang kalian miliki, karena terkadang cinta menggunakan otak dan cinta menggunakan hati itu membedakan perspektif. Maaf jika kami dianggap pemberi harapan palsu atau PHP. Masalahnya adalah kami terlalu tidak bisa melogikakan tentang apa yang sudah kalian lakukan kepada kami, kebaikan-kebaikan yang telah membuat kami takjub ternyata memiliki modus dasar yang kuat yang menginginkan kami. Dan ketika kami memacari orang lain, bukan kalian, kalian marah dan menjerit. Kalian juga marah karena kami menolak dan menganggap kalian terlalu baik untuk kami.

Jujur saja, sikap seperti itulah yang kami anggap buruk ketika kalian merasa wajib mendapatkan posisi pacar dengan melakukan kebaikan-kebaikan seperti seorang pacar, kalian merasa berhak untuk mendapatkan posisi istimewa itu kepada kami.

Oh, tidak bisa begitu.

Bayangkan saja. Kalian juga tidak mau kan kalau ada perempuan yang membantu keuangan kalian di tanggal tua ketika kalian sudah kehabisan duit tapi belum gajian, dan perempuan itu memaksa untuk memacari kalian hanya karena dia sudah melakukan kebaikan itu. Tidak mau, kan?

Jika kalian menyebut kami perempuan adalah tukang PHP, terserahlah, karena bagi kami bukan kami yang membuat kalian untuk cinta kepada kami, tapi cinta pun datang darimana? Siapa yang tahu? Karena cinta itu universal yang tidak bisa digambarkan dengan satu dua kalimat semata. Yang tidak bisa diungkapkan bahwa itu cinta ketika kalian suka dengan wajah manis kami. Yang tidak bisa dijelaskan begitu saja bahwa itu cinta ketika suka dengan mata bulat hitam kami yang sendu. Yang tidak bisa dijelaskan begitu saja kenapa memacari bajingan lebih asyik ketimbang pria baik-baik seperti kalian.

Tidak bisa begitu saja. Cinta itu kompleks dan membutuhkan penyadaran yang kuat, karena dengan mabuk saja cinta itu tidak cukup sekalipun sebenarnya orang yang mabuk tidak punya kesempatan untuk berbohong yang selalu berkata jujur karena otaknya tidak bisa berpikir dengan keras.

Kalau masih menyebut kami adalah tukang PHP? Oke, baiklah. 

Tapi jangan lupa pada kenyataan kami tidak mengharapkan kalian menjadi seseorang yang mendadak tiba-tiba berprofesi sebagai dokter ketika kami sakit, menjadi konsultan (dukun) cinta ketika kami putus cinta, menjadi psikolog yang membantu memecahkan masalah hidup kami, bahkan sopir yang selalu ada ketika kami butuh atau tidak butuh jasa antar-jemput, dan alarm bernyawa di setiap pergantian waktu di 24 jam setiap harinya. Kalian sendiri yang berinisiatif melakukan itu tanpa kami minta. Ingat? 

Bila mungkin ini ya, bila mungkin kalau boleh sedikit saja kalian mau berpikir dengan kepala dingin bahwa mungkin saja sebenarnya kalian adalah tukang ngarep.

Bisa jadi, kan?

Komentar

Postingan Populer