Beragama itu Mikir

Akhir-akhir ini kalau diperhatikan banyak isu yang sebatas isu terlihat di-(paksa)-kait-kan dengan agama, bahkan ketika ada berita seputar konflik yang terjadi di wilayah Indonesia, itu jadi makanan segar buat mereka yang suka mantengin Twitter, nulis status, ngetik news, dan haus akan provokasi yang menjadi-jadi, mengingat tren muda-mudi generasi muslim penerus bangsa ini adalah suka mengkafir-kafirkan, haram-mengharamkan, mulai dari urusan kewajiban berjilbab, sampai jomblo menahun, say no to pacaran, dan urusan musiman macam tahun baru, valentine, natalan, ulang tahun, parfum, dan yang terkini : selfie.

Mengingat tren yang begitu gencar dan tampaknya semakin mencekik di era Pilpres 2014 kemarin, apalagi ketika Pak Prabowo mau tak mau kalah dalam pemilu itu, dan apalagi karena Demokrasi yang dikambinghitamkan yang diduga sebagai salah satu tersangka bobroknya negeri ini dan memenangkan Jokowi, mungkin itulah salah satu penyebabnya mengapa mulai banyak situs-situs berembel dot.com dan syariah.

Wow. Melihat tautan dan gambar berikut judulnya dari media-media syar’i ini tentu mengalahkan media-media resmi yang dimiliki pemerintah bahkan orang besar di dunia pertelevisian Indonesia yang dianggap kurang keabsahannya dikarenakan ‘memihak’ kaum borju dan Jokowi yang cungkring, antek komunis, dan neoliberal banget itu, berikut anak kandungnya demokrasi bo.

Kita tahu sebagaimana berjalannya situs-situs dot.com dan syariah yang mengultimatumkan diri ‘memihak’ islam dan menghakimi yang tidak memihak islam (yang konon ngakunya islam rahmatan lil alamin), tidak bisa dicegah betapa penuhnya berita seputar apa yang dilakukan Jokowi yang mereka anggap merugikan bangsa ini, kalau diperhatikan pun apapun yang dilakukan Jokowi selalu salah, termasuk menikahkan anak sulungnya pun dicari kesalahannya. Selalu salah.

Coba saya review ya, ketika Yunani dianggap bangkrut karena banyak hutang dan tidak bisa bayar hutang pada World Bank, banyak pengamat ‘(yang ngaku islami) dadakan yang menilai bahwa Indonesia akan ikut jejak Yunani jika Indonesia masih dipimpin Presiden Jokowi.

Ya! Pada beberapa tautan dari situs-situs dot.com dan syariah itu dan kutipan pengamat (islami) dadakan pernah dibaca kalau Indonesia memiliki utang mencapai 4000 triliun, melebihi anggaran belanja Negara dalam setahun, yang tidak dibayar Jokow, dan bisa membuat Negara ini bangkrut seperti Yunani.

Can you imagine? Bayangkan dari informasi situs-situs itu bahwa utang Indonesia selama dibawah pimpinan Jokowi kurang dari setahun ini menyamai utang Indonesia selama 32 tahun era Orde Baru, yang artinya dalam satu tahun Jokowi sudah sehebat Alm Soeharto dalam berhutang.

Hebat kan? Wow kan? Berani ya?

Situs-situs berembel dot.com dan syariah itu juga menyalahkan sistem demokrasi karena kenapa memenangkan presiden cungkring yang liberal dan ‘cina’ yang tidak mampu mengurusi negara, bahkan karena anggapan tidak kemampuan presiden serta adanya sistem demokrasi yang menghasilkan pemerintah yang lalim, mereka membantu mengatasi semua masalah politik, ekonomi, sosial, dan agama di Negara ini yang bersifat solusi (onani) yang dirangkum dalam Khilafah.

Tidak tahu khilafah? Tenang saja, tidak perlu belajar islam dengan masuk perpustakaan besar dan terbaik di pusat kota, atau nemuin guru ngaji di kampung, dan nyamperin ustad kondang ibukota, tinggal klik situs-situs dot.com dan syariah itu, cukup baca, dijamin anda anda semua mendapatkan penjelasan dan insyaAllah hidayah kalau otak anda mampu melogikakannya.

Zaman kini, generasi muslim banyak yang mempercayakan situs-situs akunan yang diadmini oleh anonym, ala-ala admin yang berasa keluaran pesantren riil, yang nyaplok label keislaman dengan embel kutipan Qur’an dan Hadits. Bahkan ada juga dari akun yang beneran riil orangnya macam siapa itu yang penulis beberapa buku panduan cara menulis? Yang selalu ngadain seminar tapi yang datang cuma 10 biji orang? Yang bigot Prabowo banget? Yang bilang Syiah pada Prof Dr. Quraish Shihab yang sudah nerbitin puluhan buku tafsir islami yang diakui dunia? Oh, si anu itu. Ya ya. Dia itu.

Salah satu keadaan dimana di dunia ini enggak harus selalu diisi oleh orang-orang waras, yang seperti Dia itu selalu menghibur lho buat diketawain.

Tapi pernah enggak kalian bertanya sebelum percaya pada sesuatu? Enggak pernah? Bodo ih. Beragama itu mikir, pake logika, bukan pake logila.

Mengingat banyak tautan yang dipublish saja tanpa riset dahulu atau kalau bahasa islaminya tabayyun dulu. Kalau salah sedikit pun paling belanya “Khilaf”. Khilaf kan islami.

Atau coba tanya ke seseorang yang nulis status haram hukumnya atau yang sharing tautan apalah itu berkaitan dengan isu umat muslim diganggu sama umat agama lain dan sejenis dengan, “Kata siapa?”

NIscaya, percayalah, dia akan menjawab “Kata Qur’an dan Hadits” atau "kata web blablabla dot.com"

“Oh ya? Mana?”

Dan biasanya mereka akan share link lain lagi yang mengiyakan status mereka, tapi coba tanyakan lagi, “Emang itu siapa?”

paling jawab, “Enggak tahu, anonimlah, kan wujudnya web dot.com apalah”

"Ohh, berarti alumni pesantren anonim yang kebetulan bisa ngetik baca tulis”

Atau kalau ada haditsnya pun paling cuma pada satu hadits. Hallo.. apa cukup mengultimatum haram atau tidaknya dari rujukan satu – dua hadits? Apa cukup ding?

Generasi serba haram dan suka menelan mentah-mentah pandangan, suka melabel, dan pengkotak-kotakan hingga menilai seseorang dengan situ muslim liberal, sini muslim murni, situ JIL, sini rahmatan lil alamin, dan lucunya hanya berdasarkan seruan kebencian dari sebuah akun yang selalu dan tentu saja seperti kebiasaan tidak pernah tuntas dan detail dalam mendeskripsikan tulisan.

Tapi mungkin, bagi mereka yang enggak pernah nyantren atau mondok atau kuliah Islamic studies secara massive dan intensif, jadi kalau nyantren sama Mbah Google sama situs dot.com dan syariah itu merasa punya bekal memadai untuk berdakwah kemana-mana, termasuk ke facebook, ke Path, bahkan Twitter, dan mendadak seolah-olah paling islami-lah dibanding orang lain, lantas mengkafirkan pandangan dan fatwa yang berbeda darinya.

Naudzubillah min dzalik.

Ah, sudah banyak yang seperti ini, tapi lagi-lagi kalau saya review hal lain tentang haram enggak haram, saya jadi teringat sama salah satu ustadz yang kelimpungan cari cara ngeles gegara dia menilai selfie itu haram dan di’tertawa’kan media luar negeri.

Dalih bahwa jika selfie itu diniatkan untuk pamer, berharap dikomen, dan kagum pada diri sendiri maka berwujud pada riya’, takabbur, dan Ujub. Lha selfie kok haram? Makanya gegara itu kredibilitasnya sebagai seorang ustadz kondang (buatan media) dipertanyakan. Lha gimana enghak? Sholat jumat di masjid pake sandal baru tapi niatnya pamer juga termasuk riya’ ding? Atau kalau beli gula di toko sebelah pake mobil dengan niat pamer sama tetangga juga riya’ ding? Gimana dong?

Yang haram itu niatnya kali, Mas, bukan objek formalnya, bukan selfie-nya.

Lha mazhab besar aja ada empat juga, kitabnya tebal-tebal lebih dari buku telepon, dari zaman dulu hurufnya gundul semua pula, kalau beneran belajar, mulai dari situ, baca sampai ke akar-akarnya, bukan mengharamkan selfie macam tidak ada kerjaan lain saja, dan mensyiahkan seseorang gegara beda pandangan. Haduh, kepriben.

Susah? Ya emang. Berat? Ember. Jadi sarjana susah? Ya iyalah, apalagi professor! Dikira Quraish Shihab gampang bikin 40 buku tafsir Qur’an & terjemahan dan udah diakui dunia? Situ yang baru jago follow muslim akun-akunan sama nge-twit islami dikit socmed saja sudah gayanya selangit, baru jadi bigot buta si Penulis buku “panduan menulis” sama ustadz ‘selfie’ dan postingan tak berkonteks ala situs islami saja sudah merasa jadi penghuni surga.

Haduh, dimana logikamu, Brader? Buka hatimu, bukalah sedikit... untukmu.

Tapi well, ketika beberapa situs-situs berembel dot.com dan syariah itu ditutup beberapa bulan lalu oleh pemerintah karena dianggap bersifat tidak islami, provokatif, dan mengadu domba, banyak yang memekik. Jelas, siapa yang memekik? Followers buta-lah. Ketika pemerintah dan muslim (yang mereka anggap liberal) menganggap tidak islami, provokatif, dan mengadu domba, mereka menganggap sebaliknya. Mulai dari sebagai situs menyampaikan kebenaran, paling islam dan murni islam, juga bersifat menasehati.

Menasehati ndasmu!

Lha kalau murni islam kenapa mencaci maki Islam Nusantara dan malah mendukung ISIS tho, Nduk?

Lha kalau murni islam kenapa benci banget sama Syiah? Hidupmu baru berpuluh tahun, muasin diri aja masih nyuri waktu buat nonton bokep, Nduk. Mau ngomong tentang Syiah? Halah.

Di hal lain ya. Nabi juga enggak meminta untuk berbuka puasa dengan khorma, tapi dengan yang manis, dan yang manis enggak harus melulu yang arab. Toh.. yang manis ala nusantara itu banyak, clepon, jongkong, es teh, lihat saya itu juga udah berbuka dengan yang manis.

Tapi bener banget ya, percaya deh level paling maksimal pandangan seseorang selalu berbanding lurus dengan level kebodoannya, level otalnya. Kalau mereka beranggapan jilbab adalah milik umat islam, berarti mereka enggak pernah jalan-jalan keluar rumah bahkan bergaul sama situs-situs adem dan setidaknya main-mainlah ke Timur Tengah, anda bisa melihat bahwa wanita Yahudi di Palestina juga berjilbab kok.

Tapi pasti tetep nolak dan ultimatumkan bahwa jilbab itu milik islam.

Mau disodorin bukti historis Piagam Madinah yang jelas-jels Nabi Muhammad SAW melindungi kaum Yahudi di Madinah, ya tetep ditolak kebenarannya juga sama mereka.

Kalau menyeru kebobrokan ekonomi dan pembantaian umat muslim di dunia ini dikarenakan sistem demokrasi, jangan lupa ya.. Suriah sama Irak hancur gegara khilafah.

Mbok ya kalau ada beda pandangan itu kalem aja nanggepinnya, enggak usah galak, enggak usah kafir-mengkafiri, katanya toh muslim yang islamnya rahmatan lil alamin, tapi kok congornya membleduk macam enggak disekolahin? Timpang ding.

Pada dasarnya kalau saya mau dikatain muslim liberal sih enggak papa, mau dinilai saya seorang Jin atau JIL kek whatever, mau perbuatan saya dianggap menghina islam kek terserah, toh.. bagi saya islam sama Allah enggak perlu dibela, keduanya udah sempurna, ngapain dibela? Yang penting sebagai manusia sholat lima waktu lancar, hubungan sama Allah insyaAllah terus diperingatkan, dan seimbang sama hubungan sesama manusia, enggak timpang. 

Percuma kan kalau nyeru-nyeru “Allahu Akbar” mulu trus sholat 5 waktunya lancar, mulus, tapi sama tetangga enggak kenal, enggak pernah nyumbang buat anak yatim, enggak pernah bantu janda banyak hutang, enggak bantuin tetangga yang kesusahan, masih galak sama minoritas, ogah bergaul sama wong Cino, Kristen, sama Atheis.

Haduh. Jangan-jangan kalau saya bertamu dan pas saya pulang, anda-anda pada ngepel lantai sama jejak-jejak saya, takut liberalnya saya dan tak berhijab ini memberi pengaruh buruk. Halah.

Come on, Brader.

“Islam itu satu hal dan orang islam itu hal lain”

Jangan maksain mengharamkan valentine secara mutlak atas dasar hadist “yang menyerupai” atau merujuk satu dua hadist trus bilang itu produk Barat. Di zaman nabi enggak ada valentine, Broh, jadi wajar enggak ada hadist tentangnya. Jangan membela diri juga dengan gara-gara itu produk barat, budaya kaum kafir, maka haram bagi umat islam meniru budaya orang kafir.

Haram ndasmu, Broh.

Lu make potongan rambut macam Adam Levine juga artinya ngafir juga? Gitu?

Lu pake gadget merk Amrik sama Cino lu mingkem, pura-pura enggak tahu, pura-pura khilaf.

Kenapa sih enggak bisa adil sama dalil? Teriak haram kok di facebook. Lu kata Mark Zuckerberg dari Arab?

Sempit ih.

Kalau memang beranggapan situs-situs dot.com yang radikal pembawa kebenaran, ya telen aja sampe bodo. Sampe kalau udah gede, tau sendiri lu cuma bodo dewe.

Kalau memang lu beranggapan dan benci banget sama kapitalis dan sistem demokrasi di NKRI, ya silahkan pindah jiwa. Pergi dari Indonesia. Ke arab sono nah.

Lalu kalau bawa-bawa "atas nama Allah" dengan maksud lu ngebela agama dan Allah, ya... silahkan jihad. Silahkan berangkat ke Suriah kalau mau jihad menuju Surga Allah. Pegang senjata, bidik ISIS, bukan begadang tiap hari trus ngecek hape buka situs Pornhub nyari milf di pagi buta.

Beragama itu mikir, ngerti?

Komentar

Postingan Populer