PEREMPUAN DAN PERADABAN ALIS
Dahulu, saya lupa tepatnya, saya sempat kaget dengan komentar teman saya pas saya menjenguknya yang baru saja melahirkan anak pertama yang berkelamin perempuan.
“Terpujilah bagi kalian ibu-ibu yang memiliki bayi-bayi perempuan yang dilahirkan beralis,” kata ibu rumah tangga sambil cengengesan lihat bayi mungilnya yang polos dan tidak sadar sedang dikatain emaknya.
Sepenting itukah bulu, Jeng?
Sialnya gara-gara komentarnya, saya jadi terpengaruh dan melototin jidat bayinya trus mikir, iya ya kok enggak ada alisnya? Jangan-jangan ini baby alien.
Hush! Ngaco!
Tapi seharusnya hal yang lebih disyukuri seorang ibu adalah bayi yang dilahirkan bermata sempurna, berlubang hidung dua bukan tiga bahkan satu, tanpa sumbing di bibir, sehat wal-afiat Alhamdulillah. Ada alis apa tidak itu urusan lain yang tidak penting dimasa umur zero sampai menjelang berdiri, karena bagi seorang ibu (yang keibuan) hal yang paling diutamakan adalah bayi yang sehat tanpa cacat sedikitpun, itu sudah lebih dari cukup. Paling spidol sama tinta warna bisa membantumu menebalkan alis anakmu, Jeng.
Hush! Ngaco lagi.
Tapi memang ya, berbicara soal jalan pikiran perempuan ini enggak ada habisnya, seperti enggak ada habisnya berbicara tentang kekeuhnya para homo dan lesbian yang tidak mau dipatahkan masalah dosa pada pandangan agama.
Well ya, menjelang pubertas dan menghadapi dewasa, adalah masa-masa dimana anak perempuan bukan hanya peduli ditaksir cowok yang satu kelas dengannya, atau kakak tingkat, melainkan juga peduli apa yang ada ditubuhnya, yang dikepalanya, yang dikakinya, sampai peduli urusan bagian terdalam pun seperti pembalut mana yang cocok, bersayap atau tidak, bisa terbang atau atau tidak. Oh yes. Tampaknya otak perempuan memang tidak disistem Yang Kuasa sesimple otak lelaki. Sebagai mahakarya Tuhan yang paling indah tentu adil rasanya jika hanya satu makhluk seperti kaum hawa ini pula diribetkan dengan hal setetek bengek benda-benda kosmetik.
Kalau Yang Kuasa menakdirkan kaum lelaki yang bersahabat dengan benda-benda kosmetik itu ngeri juga ya membayangkannya.
Tentu hanya perempuan lah yang rela memutar otaknya ke hal-hal yang sebenarnya tidak perlu tapi merasa wajib perlu pada warna lipstick apa yang cocok dipakai ke kantor? ke mall? bahkan di rumah sekalipun? hal ini berbanding lurus dengan hanya perempuan lah yang rela membakar 5000 kalori selama dua jam keliling mall hanya untuk mendapatkan satu jeans skinny sampai berantem dengan penjualnya dan tega menekan harga serendah-rendahnya dengan tempoe yeang seseingkat-seingkatnya.
Hanya perempuan lah yang memiliki rasa perhatian dan mental baja untuk urusan apa yang terbaik baginya tanpa peduli dengan pendapat orang lain termasuk pacarnya sendiri. Jelas saja, kalau ada pacar yang berani komentar “Bedak kamu ketebelan deh kayaknya, Yang” siap-siaplah digampar bahkan diultimatum putus. Ya jelas lah. Bagi perempuan, laki-laki tahu apa sih sama kosmetik? Tahu apa sih sama foundation yang tepat buat perempuan? Tahu body lotion apa sih yang tepat buat perempuan? Atau merk dan warna lipstick apa sih yang rancak buat perempuan? Enggak tahu, kan?? Lelaki enggak tahu apa-apa urusan rumah tangga perempuan, karena urusan rumah tangga perempuan itu urusan duniawi eksekutif yang hanya perempuan dan Tuhannya lah yang tahu. Cowok mana mau capek untuk hal-hal sekelumit merk pencukur bulu ketek. Makanya, jadi cowok jangan sok tahu dan urusin urusan perempuan! (Lho? Kok gini?!)
Anyway, lagipula ya yang dilakukan perempuan dengan bestfriend-nya semata-mata agar terlihat indah dan menawan di mata orang lain, mereka rela berganti shampoo hanya agar rambutnya shine bright like a diamonds seperti Raisa. Lagipula juga ya menjadi cantik kan yang senang juga pacarnya sendiri (dan pacar orang lain), sekalipun pacarnya hanya mengenakan sandal butut Daimatu, kaos usang bergambar J-Rocks dengan tatanan rambut ala-ala vokalis Kangen Band. Demi Tuhan, perempuan tidak memperdulikan segembel apapun lelakinya, karena yang mereka pedulikan adalah dirinya sendiri yang tidak akan lupa memoles bedak lagi setelah satu jam pertama. Believe me.
Intinya perempuan lebih estetis ketimbang lelaki.
Oke, Rin. Stop berceloteh tentang ras sendiri. Baiklah!
Tapi saat ini rasa-rasanya dunia kembali ke era 80-an ya, dimana dunia kecantikan kembali dilanda Brow Hsyteria. Saya ingat sama Brook Shields deh, yang lebih dahulu mempopulerkan trend alis tebal pada tahun 1980-an. Shields sempat mendapat predikat ‘The Face of 80s Looks’ saat itu karena membuat banyak perempuan di dunia yang terinspirasi oleh alis bold and thick-nya yang oke banget dengan face look Shields. Sial banget, kan? Gila bo! Gara-gara bentuk alis saja seorang wanita bisa dikatakan cantik mendunia.
But FYI, saya pun ingat di era ini juga Demi Moore jadi famous banget dengan short haircut-nya yang digilai banyak perempuan.
Selain Brook Shields, dunia peralisan pun tidak berhenti sampai di tahun 80-an, era Shields adalah memang masa jayanya dunia peralisan, karena di tahun 2000an pun berlanjut, seleb secantik Lily Collins yang juga anak dari penyanyi legendaris Phil Collins juga kerap disebut sebagai patron alis tebal alami masa kini. Gelap, hitam, dan konsisten tanpa warna. Alis tebal Hollywood Brow yang dipopulerkan Collins ini memiliki bentuk menukik, lengkung di bagian ujungnya. Gaya yang memberi kesan modern dan sexy bagi pemilik wajah. Tajam, tebal, dan berkarakter. Karakter Hollywood Brow inilah yang memberi kesan dinamis, misterius, dan cocok mewakili perempuan yang memiliki ambisi besar dalam berkarier.
You know Lily Collins lah begimana orangnya, maksudnya alisnya.
Brow Hysteria tidak hanya melanda benua Amerika yang dipopulerkan selebritisnya saja, tapi sejak fashion Korea meledak beberapa tahun silam, dunia peralisan mulai berkembang sampai ke negeri Boy Band sok maskulin itu. Sebut saja aktris pemeran utama serial Endless Love, Song Hye Gyo, yang kelihatan oke banget mewakili perempuan Asia beralis tebal. Dunia peralisan ala-ala Korea ini disesuaikan dengan wajah dan dahi dan mata yang sipit/kecil, bentuk yang jelas-jelas tidak meninggalkan kesan lugu dan match dengan aksen kulit putih yang cerah Asia.
Ternyata dunia peralisan tidak berhenti sampai disitu, Ladies. Menjelang 2010, banyak supermodel yang mulai mempopulerkan Bold Brow seperti Cara Delevingne. Tanpa meninggalkan kesan dinamis, alis Cara Delevingne lebih mengesankan berani, naughty but not sluty, dan sering bereksperimen dengan warna, lain dengan Collins yang konsisten dengan hitamnya. Alis Delevingne benar-benar menjadi trend sampai ke Eropa sono. Hebat, kan? Jadi, Ladies and Gentleman, bukan hanya dunia persilatan saja yang ada di sudut-sudut jengkal belahan bumi, tapi dunia peralisan juga. *bangga*
Estetikanya, alis tebal memang tidak dimiliki oleh banyak perempuan, hanya saja percaya tidak percaya alis tebal proporsional dipercaya oleh kaum hawa dapat memberi kesan hidup dan segar meski tanpa polesan riasan yang mencolok. Alis juga merupakan sarana perempuan di muka bumi ini membangun image atau karakter dalam dirinya yang dia inginkan, tidak heran kalau brow hysteria ini meledak dan dirasa oleh berbagai kalangan baik seleb, sosialita, ibu-ibu pejabat, pramuniaga kosmetik, maupun mbak-mbak penjaga counter pulsa dan mbak jamu gendong.
Alis teramat penting di wajah perempuan, dan mungkin layak dikatakan sepenting lelaki dengan bulu hidung dan keteknya.
Sekalipun saya yang termasuk memiliki alis tebal (yang mungkin dianggap para penelan fashion dunia tidak proporsional) tapi sesungguhnya paling ogah kalau alisnya diapa-apain termasuk dicukur tata se-epic mungkin. Memang bulu-bulu yang membingkai mata ini bisa tumbuh lagi, tapi ada rasa yang tak biasa seperti barang berhargamu dihilangkan sengaja oleh orang lain. Analogi yang berlebihan ya, tapi mau gimana lagi? Untuk orang hina yang kadang simple dan sering rumit sendiri seperti saya ini selalu beranggapan sometimes transformation is suck!.
Menurut saya pun alis tebal yang membingkai mata besar dan dahi rata saya tapi sedikit memiliki jendolan ikan Lohan ini mewakili apa adanya diri saya sendiri sebagai perempuan. Jadi ketika saya tidak mengikuti trend dalam peradaban dunia peralisan, saya rela dan tabah dikatain alis ala Crayon Shincan, bukan Lily Collins.
Tak hanya tahun berganti, gaya pun berganti. Saya sudah merunut bagaimana Brow Hysteria muncul di era Brook Shields, kemudian perjalanan dunia peralisan yang dipopulerkan Lily Collins, dan ke ranah Asia, sampai ke masa kejayaannya di era pasca millennium ini yang diwakili Cara Delevingne.
Tapi eits! Tidak hanya sampai disitu. Dunia peralisan pun masih berkembang pesat hingga tahun 2015 ini, tentu saja! Seperti kata pepatah liberal (yang saya ciptakan sendiri *lol*) : semakin modern dunia, semakin kreatif manusianya.
Peradaban dunia peralisan di tahun 2015 bisa dikatakan sebagai puncak dari peradaban itu, tak elak perempuan Indonesia juga semakin gencar merasakan kejayaan itu karena patut dipuji-syukuri bahwa perempuan Indonesia menjadi sangat kreatif dan teliti juga masiv, terstruktur, dan sistematis dalam mengurus bulu-bulu diatas matanya. Hanya saja sayang sekali perempuan menjadi semakin emosional jika ada yang menyinggung alisnya, karena ketika perempuan menganggap ini adalah jati dirinya dari kekreatifitasnya, para lelaki ‘yang tidak tahu apa-apa ini’ yang berlawanan pendapat dan berani berkomentar tanpa melakukan aksi “iya-iyain aja biar cepet” siap-siaplah kena gampar, karena sesungguhnya alis adalah entitas yang sensitif saat ini. Be a gentle, Boys.
Oia, mengingat saking kreatif perempuan atas Bold Brow ini, tahun 2015 adalah tahun dimana alis dalam bentuk beragamnya pun terinspirasi dari apa saja termasuk kekayaan alam bumi Nusantara serta penghuni-penghuninya, seperti Gunung Kelud, Sungai Kapuas, Ular Sawah, dan sebagainya yang bisa kalian nilai sendiri seperti dibawah ini. Salam alis.
Komentar