nilai Perjodohan Ala Reality Show
Banyak orang yang tersenyam-senyum juga bahkan kecewa melihat sebuah Reality Show cari jodoh di sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia. 30 wanita yang merasa cantik dan berbobot berderet dengan pandangan seperti mempelototi peserta pria dari atas ke bawah yang dikatakan sedang mencari jodoh. Lalu, di hari berikutnya, giliran 30 pria yang merasa tampan dan berbobot berderet dengan pandangan seperti mempelototi peserta wanita di panggung Take Him Out Indonesia. Yap! Para peserta merupakan aktor utama yang dieksploitasi untuk menjaring pemirsa dan pengiklanan, tentunya yang paling utama adalah untuk mendapatkan keuntungan (uang dan ratting ).
Reality show take me out, take him Out, memang dipegang oleh Fremantle Media tapi acara ini sudah terlebih dahulu sukses penayangannya di Denmark, Spanyol, dan Belanda. Dan pencontekkan Reality Show ini oleh Indonesia tidak tanggung dalam jangka waktu tidak lama dalam penanyangan pada pertama kalinya, sudah membuat acara ini sukses meraih ratting tertinggi di Indonesia. bahkan baru-baru ini ditayangkan acara yang bertema sama yaitu Celebrity Out dimana para pesertanya adalah para selebritis tanah air.
Tulisan ini tidak difokuskan berbicara mengenai dampak acara ini tapi lebih dipush-kan pada kandungan nilai dalam acara tersebut. Penonton yang menyaksikan acara ini akan terangsang dan menerima dan masuk dalam kesimpulan yang cacat. Untuk mendapatkan wanita tidak perlu kepribadian yang mengarah pada spiritual. Tapi dalam arti memiliki mobil mewah, rumah pribadi, perusahaan pribadi, rekening pribadi, dan tentunya gaji yang super besar.
Persepsi seperti inilah yang diracuni dan didapatkan, jelas bahwa wanita tidak perlu mempercantik akhlaknya untuk mencari suami. Tapi cukup dengan berpakaian sexy, terbuka, dan sensual, maka dijamin semua mata kontestan laki-laki akan berapi-api. Dan tidak heran kalau kontestan wanita sangat berani tampil dengan berbusana superminim, berdandam menor, dengan gerak-gerik tubuh yang merangsang.
Tidak dihindari pria pencari jodoh itu berprilaku sosial dan kepribadian baik. Tapi kalau profesinya tidak menjanjikan kekayaan harta, maka hanya numpang lewat saja di panggung itu. Dikarenakan indikator jodoh itu hanyalah berupa kekayaan. Hedonis sekali.
Boleh saja wanita lembut dan berbusana sopan tampil di panggung, tapi kalau tidak cantik, tidak seksi, dan tidak berpakaian terbuka maka peserta pria dengan serempak memencet tombol penolakan. Wanita baik itu pun mau tak mau harus hengkang keluar panggung.
Drama di panggung ini bukan hanya sekedar tolak-menolak, tapi juga dibarengi dengan hal-hal yang membuat sakit hati juga mencoreng sang pencari jodoh. Tak sungkan-sungkan selain menolak, tapi juga mencoreng arang di dahi. Peserta pria tidak tanggung menolak wanita secara pedas “terlalu gemuk!, bukan tipe saya banget”. Sebaliknya peserta wanita yang tak kalah ketus dan judes menolak laki-laki “saya tidak suka cowok yang pendek dari saya”, atau “gajinya ga memungkinkan buat ngidupin aku deh kayanya”. Ada juga salah satu episode yang pernah saya tonton yang memang menurut saya merupakan suatu penolakan yang tidak bermoral. Peserta wanita menolak pria dengan alasan “giginya tonggos! Mana bisa memperbaiki keturunan!!”. Dan pria itu pun membalas penolakannya dengan menyumpah serapahkan peserta wanita itu. Kalau seperti ini, kasihan pada orang-orang yang memang benar-benar berniat serius mencari jodoh, tapi malah terdzolimi gara-gara ketamakan orang lain.
Negatifnya acara ini, keseriusan untuk mempertemukan jodoh dari dua insan manusia tercermin bias, karena lebih terpampang unsur pemenuhan hiburan semata, menghibur penonton yang dijadikan fokus utama sehingga peserta pun dikondisikan untuk tidak malu-malu dan gamblang melakukan cara-cara yang menjatuhkan martabat dan harga diri manusia. Selain menghibur tapi juga berpotensi sakit hati.
Kriteria jodoh adalah diutamakan kriteria kesenangan duniawi yang memang sangat menonjol. Keunggulan fisik dan materi hanya menjadi tolak ukur jodoh yang sempurna, sedangkan kecerdasan intelektual, dan kepribadian hanya akan jadi asa semata. Maka bisa dikatakan biasnya makna perjodohan. Dikaitkan pada Ajaran Islam, apa yang dihidangkan oleh acara ini memang benar-benar keluar dari hal-hal yang diajarkan Islam, tidak perlu dijelaskan panjang lebar, salah satunya adalah fasilitas Romantic Room memberikan kemesraan yang ilegal, berciuman, berpelukan, berpegangan tangan, rangkulan. Dan lucunya, kehadiran seseorang yang mengaku ustadz, naik ke panggung dan mensahkan apa saja demi memuaskan yang punya acara. Betapa hebatnya sang ustadz yang mensah-kan hubungan perjodohan dua insan yang notabene beda agama. Ntah apa dalilnya?. Begitu juga dengan mengandalkan peramal cinta. Kenapa lagi peramal dipercaya! Hahaha memang semakin membodohi akal.
Reality show take me out, take him Out, memang dipegang oleh Fremantle Media tapi acara ini sudah terlebih dahulu sukses penayangannya di Denmark, Spanyol, dan Belanda. Dan pencontekkan Reality Show ini oleh Indonesia tidak tanggung dalam jangka waktu tidak lama dalam penanyangan pada pertama kalinya, sudah membuat acara ini sukses meraih ratting tertinggi di Indonesia. bahkan baru-baru ini ditayangkan acara yang bertema sama yaitu Celebrity Out dimana para pesertanya adalah para selebritis tanah air.
Tulisan ini tidak difokuskan berbicara mengenai dampak acara ini tapi lebih dipush-kan pada kandungan nilai dalam acara tersebut. Penonton yang menyaksikan acara ini akan terangsang dan menerima dan masuk dalam kesimpulan yang cacat. Untuk mendapatkan wanita tidak perlu kepribadian yang mengarah pada spiritual. Tapi dalam arti memiliki mobil mewah, rumah pribadi, perusahaan pribadi, rekening pribadi, dan tentunya gaji yang super besar.
Persepsi seperti inilah yang diracuni dan didapatkan, jelas bahwa wanita tidak perlu mempercantik akhlaknya untuk mencari suami. Tapi cukup dengan berpakaian sexy, terbuka, dan sensual, maka dijamin semua mata kontestan laki-laki akan berapi-api. Dan tidak heran kalau kontestan wanita sangat berani tampil dengan berbusana superminim, berdandam menor, dengan gerak-gerik tubuh yang merangsang.
Tidak dihindari pria pencari jodoh itu berprilaku sosial dan kepribadian baik. Tapi kalau profesinya tidak menjanjikan kekayaan harta, maka hanya numpang lewat saja di panggung itu. Dikarenakan indikator jodoh itu hanyalah berupa kekayaan. Hedonis sekali.
Boleh saja wanita lembut dan berbusana sopan tampil di panggung, tapi kalau tidak cantik, tidak seksi, dan tidak berpakaian terbuka maka peserta pria dengan serempak memencet tombol penolakan. Wanita baik itu pun mau tak mau harus hengkang keluar panggung.
Drama di panggung ini bukan hanya sekedar tolak-menolak, tapi juga dibarengi dengan hal-hal yang membuat sakit hati juga mencoreng sang pencari jodoh. Tak sungkan-sungkan selain menolak, tapi juga mencoreng arang di dahi. Peserta pria tidak tanggung menolak wanita secara pedas “terlalu gemuk!, bukan tipe saya banget”. Sebaliknya peserta wanita yang tak kalah ketus dan judes menolak laki-laki “saya tidak suka cowok yang pendek dari saya”, atau “gajinya ga memungkinkan buat ngidupin aku deh kayanya”. Ada juga salah satu episode yang pernah saya tonton yang memang menurut saya merupakan suatu penolakan yang tidak bermoral. Peserta wanita menolak pria dengan alasan “giginya tonggos! Mana bisa memperbaiki keturunan!!”. Dan pria itu pun membalas penolakannya dengan menyumpah serapahkan peserta wanita itu. Kalau seperti ini, kasihan pada orang-orang yang memang benar-benar berniat serius mencari jodoh, tapi malah terdzolimi gara-gara ketamakan orang lain.
Negatifnya acara ini, keseriusan untuk mempertemukan jodoh dari dua insan manusia tercermin bias, karena lebih terpampang unsur pemenuhan hiburan semata, menghibur penonton yang dijadikan fokus utama sehingga peserta pun dikondisikan untuk tidak malu-malu dan gamblang melakukan cara-cara yang menjatuhkan martabat dan harga diri manusia. Selain menghibur tapi juga berpotensi sakit hati.
Kriteria jodoh adalah diutamakan kriteria kesenangan duniawi yang memang sangat menonjol. Keunggulan fisik dan materi hanya menjadi tolak ukur jodoh yang sempurna, sedangkan kecerdasan intelektual, dan kepribadian hanya akan jadi asa semata. Maka bisa dikatakan biasnya makna perjodohan. Dikaitkan pada Ajaran Islam, apa yang dihidangkan oleh acara ini memang benar-benar keluar dari hal-hal yang diajarkan Islam, tidak perlu dijelaskan panjang lebar, salah satunya adalah fasilitas Romantic Room memberikan kemesraan yang ilegal, berciuman, berpelukan, berpegangan tangan, rangkulan. Dan lucunya, kehadiran seseorang yang mengaku ustadz, naik ke panggung dan mensahkan apa saja demi memuaskan yang punya acara. Betapa hebatnya sang ustadz yang mensah-kan hubungan perjodohan dua insan yang notabene beda agama. Ntah apa dalilnya?. Begitu juga dengan mengandalkan peramal cinta. Kenapa lagi peramal dipercaya! Hahaha memang semakin membodohi akal.
Komentar