Dilematis-nya Eksistensi 'Mereka'

Sebenarnya saya merasa salut dengan keberadaan “mereka” yang saya anggap spesial di kota tempat tinggal saya dibandingkan dengan perasaan saya ketika bertemu dengan seorang pejabat nomor 1 di Kota Pangkalpinang pun. Kenapa tidak? “mereka” datang dari jauh, kebanyakan dari Pulau Jawa, dan juga Sumatera. Ke Pangkalpinang bukan untuk liburan tapi hanya untuk mengerjakan satu hal setiap harinya di kawasan Pusat Pasar Kota Pangkalpinang yaitu menghidupi kebutuhan hidupnya.
Di balik rasa salut saya itu saya juga merasa sanksi dengan keberadaan mereka. Mereka sering ‘nongkrong’ dan betah duduk di emperan pasar selama berjam-jam. Ada juga yang nangkring di pintu masuk Ramayana. Bahkan dengan jumlah tidak sedikit. Bisa dikatakan setiap saya pergi ke Ramayana, saya sudah disambut meriah oleh mereka, layaknya saya adalah seorang selebritis yang berjalan di red carpet, hanya saja sambutan yang mereka beri berupa sodoran berbagai mangkuk juga tangan-tangan yang dekil yang menghampiri saya. Ini lah yang membedakan mall di Pangkalpinang dengan mall di kota-kota besar lainnya. Ramayana mencerminkan sebuah mall paling ‘jorok’ dan’kotor’ di bandingkan mall-mall yang lain. Kenapa tidak? Di halaman pintu masuk sudah bejejer hiasan orang-orangan yang ‘mempercantik’ mall tersebut. Tapi walaupun demikian pihak Ramayana Pangkalpinang memang ‘baik hati’ untuk membiarkan halaman pintu masuk adalah sebagai sebuah lahan pekerjaan bagi mereka tanpa mempertimbangan kenyamanan konsumen dan ‘nilai’ Ramayana itu sendiri. Yapp! Mereka-mereka tersebut adalah Pengemis. Sampai sekarang Saya masih bingung untuk menjustifikasi bahwa mengemis adalah sebuah Pekerjaan? atau Profesi?. Pengemis dengan berbagai strategi beraksi baik yang mulai dari berpakaian compang-camping dan berkulit lusuh sampai ada yang berani dengan berpakaian biasa saja. Kebanyakan memang orang tua paruh baya, Ada juga dengan bermodal mangkuk, tangan, pasang tampang memelas. Begitu juga dengan pengemis-pengemis dengan tubuh yang tidak sempurna, cacat fisik maupun mental. Keberadaan pengemis-pengemis di Kota Pangkalpinang ini sudah berlangsung lama. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku SD saya diajak orang tua saya ke pasar dan melihat seorang pengemis tidak berkaki, laki-laki paruh baya, yang sampai usia saya sekarang pun pengemis itu masih ada dan sering saya lihat ketika hendak ke pasar. Aksi mengemis ini pun memang sudah beragam, mulai dari cara yang paling konvensional hingga dengan mengeksploitasi kepolosan anak-anak balita. Di basement Ramayana misalnya, bisa menjumpai seorang pengemis tepatnya ibu-ibu dengan 2 anak balita, di saat sang ibu sedang menyusui si bayi, dan anak yang satu lagi yang bertugas meminta-minta. Begitulah. Sekilas sempat terpikir apa benar anak nya atau mungkin bayi ‘sewaan’.
Saya sempat mencoba mengivestigasi kepada salah satu pengemis yang saya anggap sangat menarik yang sering nangkring tepat di depan pintu masuk Ramayana, tapi sayangnya dia enggan menjawab. Menarik dalam hal ini dimaksudkan karena pengemis yang hanya bermodal duduk beralas Koran dan mangkuk saja, tanpa kekurangan bagian tubuh apapun dan menurut saya secara fisik dia masih layak untuk bekerja. Tapi lucunya, dia berani untuk berpakaian tidak gembel, baju yang sering dikenakan nya pun baju berkerah, jika dilihat baik-baik memang bukan pakaian yang lusuh, dan uniknya si bapak ini selalu mengenakan jam tangan emas (entah itu asli atau imitasi) ketika mengemis. Benar-benar pengemis yang tidak profesional.
Ketertarikan saya untuk mengetahui seberapa besar pendapatan mereka dalam perhari sampai saat ini memang belum terjawab. Cukupkah untuk menghidupi kehidupan mereka sehari-hari?? Ataukah bisa mencukupi kebutuhan keluarga di kampung halamannya??. Saya sempat membaca sebuah blog mengenai seorang pengemis di Surabaya yang telah menjadi Bos pengemis, Dia sudah mengemis sejak tahun 2000 yang sudah bisa menghasilkan 200 - 300 ribu sehari yang kemungkinan 6 juta - 9 juta per bulan. Cukup dengan modal sabar, tampang mengiba, dan meyakinkan untuk mengharapkan orang lain memberi, dan akhirnya bisa jadi Bos Pengemis, bisa punya Mobil Honda CRV, 4 rumah, 2 sepeda motor Honda Supra Fit atau mungkin bisa naik haji sekalian. Saya baru tahu kalau menjadi pengemis itu bisa menjadi kaya hingga memiliki 4 buah rumah gedongan, sampai mobil Honda CRV, meski untuk mencapai hal tersebut diperlukan waktu puluhan tahun. Waw.. luar biasa! Kita tidak perlu bekerja keras, berpendidikan tinggi, sehat jasmani, untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup, tapi hanya dengan modal sabar dan tak tahu malu saja sudah bisa menjadi orang kaya. Bravo!
Tindakan ngemis-mengemis di Kota Pangkalpinang ini sekilas mencerminkan fenomena-fenomena di kota-kota besar. Hanya saja kebanyakan memang pengemis-pengemis di Kota Pangkalpinang ini bukan lah asli Orang Bangka. Memang tidak bisa dipungkiri tingkat kemiskinan di Pangkalpinang cukup tinggi, hanya saja warga yang hidup dibawah garis kemiskinan dan yang pas-pasan tidak memilih bekerja dengan mengemis, tapi mereka memilih tetap bekerja sebagai buruh kasar, baik di lokasi-lokasi penambangan timah dan pasar, ataupun memilih bekerja di sektor informal dan jasa.
Pasar adalah tempat strategis bagi para pengemis, apalagi di waktu bulan Ramadhan, jumlah pengemis makin dahsyat. Dengan berbagai pertimbangan shadaqah di bulan baik pun menjadi alasan utama para pengemis. Sepertinya. Terlepas dari maksud dan alasan mengapa mengemis, siapapun pasti sepakat jika lingkungan kita bersih dari polusi peminta-minta. Perlunya pergerakkan yang harus dan mesti arif dan bijak oleh pemerintah khususnya Kota Pangkalpinang dalam menindaklanjuti permasalahan ini. Karena memang kita tidak bisa membiarkan ngemis-mengemis yang akan memungkinkan menjadi tren dalam masyarakat.

Komentar

Postingan Populer