Intermezzo

Entitas ini memang suatu yang pada awal nya adalah didominasi keras oleh sudut pandang-sudut pandang yang kontra dalam rangka upaya merealisasikan entitas tersebut. Begitu banyak ketidak-setujuan dari masyarakat melalui radio, surat kabar lokal, atas salah satu proyek Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam hal pembangunan fisik perkotaan. Tapi lucunya setelah proyek itu terealisasikan, proyek yang dikira bakal menjadi kecaman dan berdisfungsi oleh masyarakat menurut mereka-mereka yang kontra, malah woala! tempat itu menjadi ruang publik yang ramai diminati dan juga secara tidak langsung merupakan lahan pekerjaan bagi mereka-mereka yang bekerja di sektor informal. Dahulu, Lapangan Merdeka Kota Pangkalpinang memang sudah puluhan tahun telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagai tempat tongkrongan, bermain sepak bola, tempat shalat hari besar Islam, juga sebagai tempat perayaan berbagai event-event besar. Dan sepertinya nama besar Lapangan Merdeka sudah diluluhlantahkan semenjak adanya pembangunan Alun-alun. Penamaan Alun-Alun memang pencontekkan dari tempat-tempat di kota-kota besar di Jawa. Memang wujud fisik lapangan merdeka kalah cantiknya di bandingkan dengan fisik Alun-alun itu sendiri. Walaupun berumur jagung tapi Alun-Alun ramai dimanfaatkan oleh remaja, dan keluarga untuk refreshing, apalagi pada sore dan malam hari. Wajar. Beragam makanan dan minuman pun tersedia di emperan jalan. Secara pribadi, saya pun belum menemukan apa saja implikasi-implikasi negative atas tempat ini.
P.S : Tulisan ini tidak bermaksud mengagungkan atau pro terhadap proyek-proyek pemerintah untuk pembangunan daerah. Tulisan ini hanya sekedar intermezzo saja.

Komentar

Postingan Populer