KAMPANYE CALEG : LEBAY
Oleh : Ririn Okta
Mari kita flashback sejenak mengenai fenomena ini, berhubung sebentar lagi bangsa ini akan diramaikan dengan Pemilihan Kepala Daerah. Mengingat bagaimana berlangsungnya euforia Pemilu Legislatif 9 April 2009 kemarin, lebih tepatnya pada masa kampanye yang begitu meriahnya, yang diwarnai dengan perang iklan para caleg yang sangat ’gila-gilaan’ juga pastinya diangkat dari dana kampanye yang lumayan besar. Melalui iklan, khususnya dalam bentuk baliho atau poster, para caleg berusaha menarik perhatian calon pemilih agar memilih dirinya dan ’kendaraan’ yang membawanya. Iklan-iklan ini gampang ditemui di persimpangan jalan dan jalan-jalan yang strategis lainnya.
Well, Tulisan ini mengangkat Permasalahan yang bukan merujuk pada problem banyaknya caleg yang amat sangat membingungkan calon pemilih, akan tetapi lebih mengkhususkan pada kampanye iklan para caleg yang begitu ’Lebih’ untuk menarik perhatian calon pemilih, selain persoalan pemasangan iklan yang begitu amburadul dan sangat mengabaikan pertimbangan nilai-nilai seni dan keindahan serta tanggapan masyarakat. Saya Lebih nyaman jika menggunakan kata ’lebay’, agar terkesan lebih berkonotasi dan mengena kepada caleg-caleg yang mengaku layak mewakili masyarakat.
Kampanye legislatif di wilayah Bangka Belitung, juga diwarnai ratusan baliho dengan penampilan yang ’cantik’ dan ’ganteng’ dengan memamerkan pose serta senyum terbaik mereka untuk ’menjual dirinya’. Menurut saya, iklan-iklan kampanye caleg kebanyakan pada dasarnya sangat seragam, cenderung membosankan, dan sangat tidak menjual malah justru menampakkan kelebayan dan kenarsisan saja. Iklan-iklan itu lebih banyak menonjolkan nama caleg, partai, nomor urut, dan tentu saja foto diri yang ukurannya memakan 2/3 bagian dari keseluruhan teks iklan.
Coba saja lihat, begitu banyak caleg yang tidak memiliki visi dan konsep yang jelas, selain hanya mengumbar wajah senyum semata, tapi tidak dibarengi dengan menjual misi dan visi mereka. Kalau ajakan membujuk yang bersifat meyakinkan pemilih dicantumkan dan sangat ’wah’ sekali, tetapi isinya cenderung basi dan tanpa alasan yang berbobot. Jabatan-jabatan yang pernah dijabat yang tertera dalam iklanpun dianggap dapat menjual dan menjadi nilai plus bagi caleg bersangkutan.
Sepertinya sulit menemukan iklan yang memuat program kerja yang mampu menggambarkan kualitas diri dan integritas si caleg. Akibatnya, iklan-iklan kampanye caleg tak lebih dari gambaran citra-citra narsistik individual yang ditandai dengan potret diri ala selebriti dengan pose yang dibuat secantik dan segagah mungkin. Alhasil kemungkinan besar juga banyak calon pemilih yang ’geleng kepala’ melihat berbagai iklan yang lebay, kebingungan untuk memilih wakil rakyat yang pantas mewakili mereka.
Gaya berkampanye para caleg yang sangat mengedepankan citra dan penampilan luar itu menunjukkan bahwa dunia politik di Indonesia tak lebih dari panggung hiburan yang syarat dengan gaya narsistik. Ibarat kata, keinginan libido untuk menjadi ’terkenal’ yang belum tercapai dan dengan berkampanye inilah kesempatan untuk mewujudkan sisi ’keartisannya’-nya.
Menurut Christopher Lasch (1979), mengenai budaya narsisme menyatakan bahwa pengakuan (dari orang lain) yang didasarkan pada penampilan dan citra eksternal individu menjadi sumber kesenangan utama dalam masyarakat. Tampilan diri secara fisik, dalam hal ini dapat menjadi ukuran keinginan libido, kepuasan dan keberhasilan diri serta menjadi ukuran bahwa seseorang lebih atau kurang dari orang lain. Selain itu, individu yang narsis sekaligus lebay merasa dirinya berharga, berkualitas, merasa hidup jika khalayak melihatnya, terkesan padanya, dan bahkan memujanya. Karakter ala selebriti seperti inilah banyak dimiliki politisi (kita) yang mengedepankan gambaran fisik dan kesan dari efek tersebut. Politisi yang hanya asyik me-make over tampilan fisiknya, sementara Program kerja dan pemikiran politik yang justru penting bagi kemajuan bangsa malah dilupakan.
Pandangan Sistem Parsons (1951), pada sistem kepribadian, dikatakan individu yang merupakan aktor atau pelaku. Pusat perhatian Parsons terhadap analisa kebutuhan, motif-motif, serta sikap untuk mencapai kepuasan dan keuntungan. Motivasi untuk mendapat kepuasan dan keuntungan ini juga berlaku pada teori pertukaran (peter M. Blau), usaha individu atau kelompok untuk mengesankan individu atau kelompok lain, individu atau kelompok itu dengan berusaha menarik perhatian (mengesankan) orang lain (kelompok lain dan calon pemilih) dengan berbagai kemampuan mereka untuk memberi imbalan yang hebat, tapi tidak menutup kemungkinan akan adanya suatu persaingan atau kompetisi di dalamnya. Maka terkesan bahwa manusia bersangkutan hanya fokus diri dan cenderung memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri.
Tidak heran jika para caleg lebih mengutamakan untuk menampilkan performance daripada melayani masyarakat. Alih-alih mengajak calon pemilih untuk mengenal dan menikmati pemikiran si caleg, iklan-iklan tersebut justru asyik mengajak khalayak untuk melihat wajah si caleg atau mengingat-ingat nomor urut agar tidak bingung ketika ’mencontreng’ di hari pemilu tiba.
faktanya, terdapat caleg yang beriklan dengan mencantumkan kalimat-kalimat yang tidak penting, misalnya, ”I Love U Bibeh”, yang mengambil judul lagu dari Band tanah air, padahal tidak ada hubungan nya sama sekali terhadap kebutuhan politiknya, atau kata ”Mau?” yang berambigu akan keikutsertaan produk sponsor dengan sang caleg. begitu juga, sering kita lihat iklan caleg yang menerangkan ”saya....cucu dari ...” atau ”saya....putri dari Ibu....”, ada caleg yang menampilkan gambar presiden sebelumnya dan juga caleg yang tidak malu mencatut nama besar anaknya sendiri yang menjadi artis ngetop ibukota. Jelas sekali, bukan ide yang kreatif dan pemikiran cerdas yang ditawarkan kepada pemilih, tapi identitas diri yang mengacu pada tampilan luar yang lebih dianggap penting untuk memperoleh simpati calon pemilih.
Kemungkinan orang-orang lebay yang merasa dirinya sang politisi seperti itu cenderung merasa kurang atau bahkan tidak bisa hidup tanpa pengakuan dan pujian orang lain. Akibatnya, pemasangan potret diri menjadi salah satu cara yang dianggap jitu untuk mendongkrak popularitas. Entah bagaimana orang-orang seperti itu mampu memperjuangkan amanat rakyat kalau memang terpilih sebagai anggota legislatif. Benar-benar kampanye Caleg yang lebay.
Sekilas tulisan ini memang bertujuan untuk merefleksikan bagaimana kehidupan pemilihan umum yang telah terlaksana beberapa waktu lalu. Memang Ada-ada saja tindakan para caleg kita untuk mendapatkan suara. Kita lihat saja nanti pada pemilihan umum di tahun-tahun berikutnya, wajib dibutuhkan pertimbangan masyarakat yang arif dan sebijak-bijaknya. Siapa saja yang bakal ’menjual’ dan ’apa’ yang ada pada dirinya yang akan di ’jual’. Akan Lebay juga kah?
Mari kita flashback sejenak mengenai fenomena ini, berhubung sebentar lagi bangsa ini akan diramaikan dengan Pemilihan Kepala Daerah. Mengingat bagaimana berlangsungnya euforia Pemilu Legislatif 9 April 2009 kemarin, lebih tepatnya pada masa kampanye yang begitu meriahnya, yang diwarnai dengan perang iklan para caleg yang sangat ’gila-gilaan’ juga pastinya diangkat dari dana kampanye yang lumayan besar. Melalui iklan, khususnya dalam bentuk baliho atau poster, para caleg berusaha menarik perhatian calon pemilih agar memilih dirinya dan ’kendaraan’ yang membawanya. Iklan-iklan ini gampang ditemui di persimpangan jalan dan jalan-jalan yang strategis lainnya.
Well, Tulisan ini mengangkat Permasalahan yang bukan merujuk pada problem banyaknya caleg yang amat sangat membingungkan calon pemilih, akan tetapi lebih mengkhususkan pada kampanye iklan para caleg yang begitu ’Lebih’ untuk menarik perhatian calon pemilih, selain persoalan pemasangan iklan yang begitu amburadul dan sangat mengabaikan pertimbangan nilai-nilai seni dan keindahan serta tanggapan masyarakat. Saya Lebih nyaman jika menggunakan kata ’lebay’, agar terkesan lebih berkonotasi dan mengena kepada caleg-caleg yang mengaku layak mewakili masyarakat.
Kampanye legislatif di wilayah Bangka Belitung, juga diwarnai ratusan baliho dengan penampilan yang ’cantik’ dan ’ganteng’ dengan memamerkan pose serta senyum terbaik mereka untuk ’menjual dirinya’. Menurut saya, iklan-iklan kampanye caleg kebanyakan pada dasarnya sangat seragam, cenderung membosankan, dan sangat tidak menjual malah justru menampakkan kelebayan dan kenarsisan saja. Iklan-iklan itu lebih banyak menonjolkan nama caleg, partai, nomor urut, dan tentu saja foto diri yang ukurannya memakan 2/3 bagian dari keseluruhan teks iklan.
Coba saja lihat, begitu banyak caleg yang tidak memiliki visi dan konsep yang jelas, selain hanya mengumbar wajah senyum semata, tapi tidak dibarengi dengan menjual misi dan visi mereka. Kalau ajakan membujuk yang bersifat meyakinkan pemilih dicantumkan dan sangat ’wah’ sekali, tetapi isinya cenderung basi dan tanpa alasan yang berbobot. Jabatan-jabatan yang pernah dijabat yang tertera dalam iklanpun dianggap dapat menjual dan menjadi nilai plus bagi caleg bersangkutan.
Sepertinya sulit menemukan iklan yang memuat program kerja yang mampu menggambarkan kualitas diri dan integritas si caleg. Akibatnya, iklan-iklan kampanye caleg tak lebih dari gambaran citra-citra narsistik individual yang ditandai dengan potret diri ala selebriti dengan pose yang dibuat secantik dan segagah mungkin. Alhasil kemungkinan besar juga banyak calon pemilih yang ’geleng kepala’ melihat berbagai iklan yang lebay, kebingungan untuk memilih wakil rakyat yang pantas mewakili mereka.
Gaya berkampanye para caleg yang sangat mengedepankan citra dan penampilan luar itu menunjukkan bahwa dunia politik di Indonesia tak lebih dari panggung hiburan yang syarat dengan gaya narsistik. Ibarat kata, keinginan libido untuk menjadi ’terkenal’ yang belum tercapai dan dengan berkampanye inilah kesempatan untuk mewujudkan sisi ’keartisannya’-nya.
Menurut Christopher Lasch (1979), mengenai budaya narsisme menyatakan bahwa pengakuan (dari orang lain) yang didasarkan pada penampilan dan citra eksternal individu menjadi sumber kesenangan utama dalam masyarakat. Tampilan diri secara fisik, dalam hal ini dapat menjadi ukuran keinginan libido, kepuasan dan keberhasilan diri serta menjadi ukuran bahwa seseorang lebih atau kurang dari orang lain. Selain itu, individu yang narsis sekaligus lebay merasa dirinya berharga, berkualitas, merasa hidup jika khalayak melihatnya, terkesan padanya, dan bahkan memujanya. Karakter ala selebriti seperti inilah banyak dimiliki politisi (kita) yang mengedepankan gambaran fisik dan kesan dari efek tersebut. Politisi yang hanya asyik me-make over tampilan fisiknya, sementara Program kerja dan pemikiran politik yang justru penting bagi kemajuan bangsa malah dilupakan.
Pandangan Sistem Parsons (1951), pada sistem kepribadian, dikatakan individu yang merupakan aktor atau pelaku. Pusat perhatian Parsons terhadap analisa kebutuhan, motif-motif, serta sikap untuk mencapai kepuasan dan keuntungan. Motivasi untuk mendapat kepuasan dan keuntungan ini juga berlaku pada teori pertukaran (peter M. Blau), usaha individu atau kelompok untuk mengesankan individu atau kelompok lain, individu atau kelompok itu dengan berusaha menarik perhatian (mengesankan) orang lain (kelompok lain dan calon pemilih) dengan berbagai kemampuan mereka untuk memberi imbalan yang hebat, tapi tidak menutup kemungkinan akan adanya suatu persaingan atau kompetisi di dalamnya. Maka terkesan bahwa manusia bersangkutan hanya fokus diri dan cenderung memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri.
Tidak heran jika para caleg lebih mengutamakan untuk menampilkan performance daripada melayani masyarakat. Alih-alih mengajak calon pemilih untuk mengenal dan menikmati pemikiran si caleg, iklan-iklan tersebut justru asyik mengajak khalayak untuk melihat wajah si caleg atau mengingat-ingat nomor urut agar tidak bingung ketika ’mencontreng’ di hari pemilu tiba.
faktanya, terdapat caleg yang beriklan dengan mencantumkan kalimat-kalimat yang tidak penting, misalnya, ”I Love U Bibeh”, yang mengambil judul lagu dari Band tanah air, padahal tidak ada hubungan nya sama sekali terhadap kebutuhan politiknya, atau kata ”Mau?” yang berambigu akan keikutsertaan produk sponsor dengan sang caleg. begitu juga, sering kita lihat iklan caleg yang menerangkan ”saya....cucu dari ...” atau ”saya....putri dari Ibu....”, ada caleg yang menampilkan gambar presiden sebelumnya dan juga caleg yang tidak malu mencatut nama besar anaknya sendiri yang menjadi artis ngetop ibukota. Jelas sekali, bukan ide yang kreatif dan pemikiran cerdas yang ditawarkan kepada pemilih, tapi identitas diri yang mengacu pada tampilan luar yang lebih dianggap penting untuk memperoleh simpati calon pemilih.
Kemungkinan orang-orang lebay yang merasa dirinya sang politisi seperti itu cenderung merasa kurang atau bahkan tidak bisa hidup tanpa pengakuan dan pujian orang lain. Akibatnya, pemasangan potret diri menjadi salah satu cara yang dianggap jitu untuk mendongkrak popularitas. Entah bagaimana orang-orang seperti itu mampu memperjuangkan amanat rakyat kalau memang terpilih sebagai anggota legislatif. Benar-benar kampanye Caleg yang lebay.
Sekilas tulisan ini memang bertujuan untuk merefleksikan bagaimana kehidupan pemilihan umum yang telah terlaksana beberapa waktu lalu. Memang Ada-ada saja tindakan para caleg kita untuk mendapatkan suara. Kita lihat saja nanti pada pemilihan umum di tahun-tahun berikutnya, wajib dibutuhkan pertimbangan masyarakat yang arif dan sebijak-bijaknya. Siapa saja yang bakal ’menjual’ dan ’apa’ yang ada pada dirinya yang akan di ’jual’. Akan Lebay juga kah?
Komentar