Bukan Masalah Pilihan tapi Masalah Sikap
Saya sangat tertarik dengan fenomena ini. Berbeda dengan Banci atau waria yang dilihat sekilas dan seksama pun kita sudah mengetahui kalau mereka adalah laki-laki tanpa perlu ditunjukkan dengan bertelanjang,tapi fenomena kali ini sulit di identifikasi secara fisik dan penampilan. Homoseksual. Bisa dikatakan kasus Ryan, pembunuh mutilasi asal Jombang, membuka mata kita semua. Apa apa sebenarnya dengan gay? Ini wilayah abu-abu. Bukan masalah pilihan. Bukan pula tentang pro atau kontra. Karena ini hanyalah masalah sikap. Bagi para non-homo, ini akan membuka mata kita semua. Bagi para homo, jangan munafik dan berpura-pura.
Berbicara tentang homoseksual, memang sangat mengingatkan saya pada suatu ‘statement’ dari teman perempuan saya kepada saya, dimana memang pertemanan dengan dia bermula dari SMA (berbeda sekolah), dan bertemu aktif saat satu fakultas dengan saya, Secara penampilan memang penampilannya berubah 180 derajat, saya tidak pernah melihat perempuan yang amat sangat luar biasa seperti laki-laki sekali. suatu ketika tiba-tiba dia mengajak ‘jalan bareng’ saya, seperti lumrahnya laki-laki ‘menembak’ pujaan hatinya. Saya pun hanya bisa bergidik merinding dan menjauh takut. Well because I can’t imagine if it’s happen.
Dalam fenomena sosial dan budaya di masyarakat hampir pasti terdapat kerangka persepsi yang membentuk unsur-unsur sosial budaya. Unsur sosial budaya inilah yang merupakan serangkaian konsepsi ideologi yang tumbuh dan hidup dalam benak masyarakat. Sehingga masyarakat mampu mempunyai nilai dan paradigma umum, yang dapat mengukur hal-hal apa saja yang dianggap baik, dan hal apa saja yang dianggap buruk, hal-hal apa yang dianggap normal dan hal-hal apa saja yang dianggap menyimpang. Anggapan penyimpangan muncul dari sebuah ketidaksamaan dan ketidakserasian yang terjadi dalam paradigma umum tersebut. Dalam hal ketidaksamaan ini lah bisa menjadikannya menjadi sesuatu hal yang berujung ketabuan.
Sejarah homoseksualitas terjadi memang sudah lama adanya, sejak pada zaman nabi.
Homoseksual secara politis dianggap bagian dari kegagalan dalam menyesuaikan dengan identitas jender (feminism-maskulin) dan seksual (laki-laki-perempuan) yang telah terstruktur rapi di Indonesia. Menurut beberapa kalangan setidaknya terdapat empat teori mengenai lahir dan adanya tindakan cinta sejenis ini yaitu, pertama, factor biologis dan fisiologis. Kedua, psikodinamika yang sifatnya patologis. Ketiga, factor sosiokultural. Dan keempat, factor lingkungan. Penyebab factor biologis mengacu pada fisiologis bawaan yang berasal semenjak lahir, keturunan misalnya. Factor psikodinamika cenderung kea rah gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Factor sosiokultur merupakan pendorong keadaan sekitar yang dapat berupa adat istiadat atau kebiasaan setempat yang telah menjadi tradisi. Misalnya ada beberapa suku di Amerika Utara dimana laki-laki bertindak sebagai feminim dengan dandanan ala wanita. Factor lingkungan merupakan salah satu perangkat pendorong tindakan homoseksual. Tindakan ini tampat pada orang yang telah terisolasi dengan rekan sejenis dalam waktu yang relative lama dan dalam ikatan ruang yang ketat, sebagaimana di pesantren dan juga penjara.
Hampir pasti di semua negara dapat ditemukan fenomena cinta sejenis dan keberadaan kaum homoseks, dan tak terkecuali di Indonesia. yang membedakannya hanyalah penerimaan masyarakat terhadap kelompok homoseksual yang tidak sama di setiap negara dan latar belakang kebudayaan. Di Indonesia misalnya masih terdapat perbedaan pandangan dan perlakuan terhadap kaum homoseksual. Kaum homo khususnya waria, di cermati di Indonesia mengalami diskriminasi homoseksual, waria dikhususkan dan dibentuk menjadi sebuah tatanan legal yang di black-list dan dilarang oleh berbagai institusi di wilayah ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan kesehatan.
Homoseksualitas cenderung dianggap oleh masyarakat dominan sebagai sebuah orientasi seks yang keluar dari jalur “keseluruhan cara hidup” dan moral. Apalagi di Indonesia seks, Homoseks, pekerja seks merupakan bau-bau yang dianggap suatu hal yang masih tabu. Tapi jika di telaah secara seksama, sepertinya di Indonesia sudah mulai berani untuk mempublish mengenai bau-bau seks juga homoseksual. Pasalnya, mulai dari banyaknya Selebritis Indonesia yang sudah mengakui dirinya memiliki orientasi seksual yang menyimpang, walaupun begitu ada juga yang masih malu-malu. Film-film Indonesia yang bertemakan homoseksual pun sudah bisa dinikmati oleh masyarakat, walaupun memang tidak memberikan muatan seksual yang tinggi seperti terdapatnya alat kelamin, tubuh telanjang, ataupun aktivitas-aktivitas seksual lainnya. Inilah yang membedakan film-film homoseksual ala Indonesia dan ala Barat. Film homoseksual ala Indonesia seperti Arisan, dan memang di dalam adegannya masing-masing actor ditunjukkan ke-gay-an dengan berupa flirting-flirtingan, berciuman, dan berpelukan. Juga film Butterfly, 30 Hari mencari Cinta, Berbagi Suami, Coklat Strobery. Berbeda dengan film-film homoseksual di Barat, seperti Brokeback Mountain, Milk, Queer as Folk, Short Bus, dll yang diceritakan mendominasi hal-hal esensi seperti seks maniak, relationship, biseksual, gay, lesbian, dan sodomi.
Menurut saya, Dalam Film-film homoseksual atau Queer memberikan sebuah bahan wacana bahwa homoseksualitas bukan merupakan bagian dari penyimpangan seksual yang disertai dengan abnormalitas atau gangguan kejiwaan, akan tetapi homoseksual adalah tak lebih dari sebuah pilihan seksual saja layaknya ketika seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta dengan seorang perempuan, demikian pula hal yang sama ketika seorang laki-laki jatuh cinta dengan laki-laki dan seorang perempuan yang tergila-gila dengan perempuan di mana mereka akan menyanjung pujaan hatinya tersebut, bersedia berkorban, saling mengasihi, penuh perhatian, dan juga kerinduan layaknya orang yang heterokseksual. Jadi tidak ada yang tidak normal sebenarnya. Yang tidak normal adalah kalau seseorang itu justru menyakiti, melukai, dan tidak meperdulikan dan melakukan sesuatu yang merugikan orang yang dicintai. Heteroseksual, homoseksual, lesbian, gay, tidak ada masalah sebenarnya. Layaknya ketika memilih mana masakan kesukaan? dan memilih gaya berpakaian yang paling nyaman? Tidak ada yang menyimpang. Akan tetapi, Hanya saja perilaku juga tindakan pribadi manusia dan masyarakat tidak terlepas dari norma-norma yang telah di bentuk, disepakati, dan telah tertanam dalam diri individu itu sendiri. Persoalannya bagaimana individu pribadi menyikapi hal yang terjadi dalam dirinya. Seperti yang saya katakan, ini bukanlah masalah pilihan. Melainkan masalah Sikap.
Memang di Indonesia, Homoseksualitas merupakan fenomena sosial yang masih sangat tabu dan di haramkan. Homoseksualitas mendapati posisi ‘hitam’ dalam berbagai penyimpangan. Dalam hal media, Mungkinkah senasib dengan Playboy magazine yang terbit dan diedarkan di Indonesia yang mengalami pro dan kontra Apabila The Advocate, salah satu majalah mengenai LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender/transeksual) di Amerika membuka cabang melakukan peredaran di Indonesia?, waww.. entah apa kata masyarakat Indonesia?!!
Negara-negara di Barat dalam perkembangan mengenai Homoseksual memang sudah mencapai taraf yang lebih umum bukan hanya sekedar film juga majalah. Terdapatnya berbagai organisasi yang memperjuangkan hak kaum gay-lesbi, festival gay, even olahraga komunitas gay, bahkan ada selebritis-selebritis dunia yang dikatakan sebagai icon gay-lesbi (di tahun 2008 Christian Ronaldo menduduki peringkat atas dari 10 icon gay menurut harian Sun Inggris). Di Indonesia organisasi pergerakkan perjuangan hak gay-lesbi hadir pertama kali lewat nama organisasi Lambda Indonesia. saat ini organisasi gay yang paling di kenal yaitu Gaya Nusantara di Surabaya dan Arus Pelangi di Jakarta. Selain itu, perkembangan Gay-lesbi, di beberapa negara sudah memperbolehkan adanya pernikahan sesama jenis, negara pertama yang memperbolehkannya yaitu Belanda sejak tahun 2001, negara berikutnya yaitu Belgia, bahkan di dua tahun pertama saja sekitar 2422 pasangan gay dan lesbi telah menikah di Belgia. Di tahun 2005, Kanada dan Spanyol juga memperbolehkan pasangan gay dan lesbi untuk menikah. (nah.. untuk teman-temanku yang gay-lesbi janga pusing untuk menikah, negara-negara ini siap membantu).
Saya pernah berpersepsi dan ini memang sudah saya jadikan sebagai pandangan saya mengenai gay khususnya yang masih saya pegang teguh. Bagaimana mengenali para gay?, tentu saja para kaum gay ini penampilannya ada yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat normal jika berada di jalanan, meski ada juga yang berpenampilan mencolok (seperti waria). Bagi saya, untuk mengidentifikasi seseorang itu gay, saya sangat tertarik menelaah dengan melihat dari genre musik yang menjadi kegemaran laki-laki. Anggapan saya memang ‘agak aneh’ jika seorang laki-laki menyukai musik Spice Girls, Mariah Carey, Celine Dion, KD, Titi DJ, Westlife, Kerispatih, Backstreet Boys, N’sync, George Michael, Ricky Martin, Saipul Jamil, Beniqno, juga Dangdut modern, karena jika laki-laki menyukai daftar penyanyi di atas memang tidak laki-laki banget (to much feminism). memang genre musik adalah masalah selera. Tapi terkadang dari selera itu lah salah satu yang mencerminkan ‘soul’ nya. Feminim-maskulin, gay-lesbi. Well, Teori saya memang masih bisa disanggah.
Bagaimana opini anda jika melihat Olga atau Ivan Gunawan? Menurut saya, dibalik bakat yang mereka miliki, selama ini mereka dengan leluasa telah mengeksploitasi kebancian mereka secara public, yang memungkinkan mereka menjual stereotype negative kaum gay. Walaupun info-info yang beredar mereka tidak mengakui ke-homoseksualitas mereka, tapi saya yakin mereka sedang bermunafik ria.
Saat ini, kita bisa menjumpai komunitas gay-lesbi dengan leluasa. Bisa ditemukan komunitas-komunitas nya di media cetak maupun forum internet. Apalagi dengan adanya facebook. Terdapat grup-grup yang tersebar di sana.
Saya sangat menghargai perbedaan dan saya tidak perduli apa kata orang kalau saya mempunyai teman-teman yang gay juga lesbi, dan saya tidak perduli dengan kecaman yang diterima oleh kaum homoseksual, karena kenyataannya saya memang berinteraksi pada mereka selama ini dan saya nyaman-aman saja. Saya tidak berteman dengan memandang orientasi seksualnya. Mereka seperti teman-teman saya kebanyakan, tidak ada yang berbeda. Sama saja. Walaupun memang pada dasarnya saya mengontrakan fenomena homoseksual. Asal kan mereka tidak ‘menggangu’ saya saja. Well. Masalah orientasi seks nya, adalah masalah dia dengan Tuhannya. Semoga anda bukan salah satu yang sesat pikir dalam menyikapi fenomena ini.
Berbicara tentang homoseksual, memang sangat mengingatkan saya pada suatu ‘statement’ dari teman perempuan saya kepada saya, dimana memang pertemanan dengan dia bermula dari SMA (berbeda sekolah), dan bertemu aktif saat satu fakultas dengan saya, Secara penampilan memang penampilannya berubah 180 derajat, saya tidak pernah melihat perempuan yang amat sangat luar biasa seperti laki-laki sekali. suatu ketika tiba-tiba dia mengajak ‘jalan bareng’ saya, seperti lumrahnya laki-laki ‘menembak’ pujaan hatinya. Saya pun hanya bisa bergidik merinding dan menjauh takut. Well because I can’t imagine if it’s happen.
Dalam fenomena sosial dan budaya di masyarakat hampir pasti terdapat kerangka persepsi yang membentuk unsur-unsur sosial budaya. Unsur sosial budaya inilah yang merupakan serangkaian konsepsi ideologi yang tumbuh dan hidup dalam benak masyarakat. Sehingga masyarakat mampu mempunyai nilai dan paradigma umum, yang dapat mengukur hal-hal apa saja yang dianggap baik, dan hal apa saja yang dianggap buruk, hal-hal apa yang dianggap normal dan hal-hal apa saja yang dianggap menyimpang. Anggapan penyimpangan muncul dari sebuah ketidaksamaan dan ketidakserasian yang terjadi dalam paradigma umum tersebut. Dalam hal ketidaksamaan ini lah bisa menjadikannya menjadi sesuatu hal yang berujung ketabuan.
Sejarah homoseksualitas terjadi memang sudah lama adanya, sejak pada zaman nabi.
Homoseksual secara politis dianggap bagian dari kegagalan dalam menyesuaikan dengan identitas jender (feminism-maskulin) dan seksual (laki-laki-perempuan) yang telah terstruktur rapi di Indonesia. Menurut beberapa kalangan setidaknya terdapat empat teori mengenai lahir dan adanya tindakan cinta sejenis ini yaitu, pertama, factor biologis dan fisiologis. Kedua, psikodinamika yang sifatnya patologis. Ketiga, factor sosiokultural. Dan keempat, factor lingkungan. Penyebab factor biologis mengacu pada fisiologis bawaan yang berasal semenjak lahir, keturunan misalnya. Factor psikodinamika cenderung kea rah gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Factor sosiokultur merupakan pendorong keadaan sekitar yang dapat berupa adat istiadat atau kebiasaan setempat yang telah menjadi tradisi. Misalnya ada beberapa suku di Amerika Utara dimana laki-laki bertindak sebagai feminim dengan dandanan ala wanita. Factor lingkungan merupakan salah satu perangkat pendorong tindakan homoseksual. Tindakan ini tampat pada orang yang telah terisolasi dengan rekan sejenis dalam waktu yang relative lama dan dalam ikatan ruang yang ketat, sebagaimana di pesantren dan juga penjara.Hampir pasti di semua negara dapat ditemukan fenomena cinta sejenis dan keberadaan kaum homoseks, dan tak terkecuali di Indonesia. yang membedakannya hanyalah penerimaan masyarakat terhadap kelompok homoseksual yang tidak sama di setiap negara dan latar belakang kebudayaan. Di Indonesia misalnya masih terdapat perbedaan pandangan dan perlakuan terhadap kaum homoseksual. Kaum homo khususnya waria, di cermati di Indonesia mengalami diskriminasi homoseksual, waria dikhususkan dan dibentuk menjadi sebuah tatanan legal yang di black-list dan dilarang oleh berbagai institusi di wilayah ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan kesehatan.
Homoseksualitas cenderung dianggap oleh masyarakat dominan sebagai sebuah orientasi seks yang keluar dari jalur “keseluruhan cara hidup” dan moral. Apalagi di Indonesia seks, Homoseks, pekerja seks merupakan bau-bau yang dianggap suatu hal yang masih tabu. Tapi jika di telaah secara seksama, sepertinya di Indonesia sudah mulai berani untuk mempublish mengenai bau-bau seks juga homoseksual. Pasalnya, mulai dari banyaknya Selebritis Indonesia yang sudah mengakui dirinya memiliki orientasi seksual yang menyimpang, walaupun begitu ada juga yang masih malu-malu. Film-film Indonesia yang bertemakan homoseksual pun sudah bisa dinikmati oleh masyarakat, walaupun memang tidak memberikan muatan seksual yang tinggi seperti terdapatnya alat kelamin, tubuh telanjang, ataupun aktivitas-aktivitas seksual lainnya. Inilah yang membedakan film-film homoseksual ala Indonesia dan ala Barat. Film homoseksual ala Indonesia seperti Arisan, dan memang di dalam adegannya masing-masing actor ditunjukkan ke-gay-an dengan berupa flirting-flirtingan, berciuman, dan berpelukan. Juga film Butterfly, 30 Hari mencari Cinta, Berbagi Suami, Coklat Strobery. Berbeda dengan film-film homoseksual di Barat, seperti Brokeback Mountain, Milk, Queer as Folk, Short Bus, dll yang diceritakan mendominasi hal-hal esensi seperti seks maniak, relationship, biseksual, gay, lesbian, dan sodomi.
Menurut saya, Dalam Film-film homoseksual atau Queer memberikan sebuah bahan wacana bahwa homoseksualitas bukan merupakan bagian dari penyimpangan seksual yang disertai dengan abnormalitas atau gangguan kejiwaan, akan tetapi homoseksual adalah tak lebih dari sebuah pilihan seksual saja layaknya ketika seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta dengan seorang perempuan, demikian pula hal yang sama ketika seorang laki-laki jatuh cinta dengan laki-laki dan seorang perempuan yang tergila-gila dengan perempuan di mana mereka akan menyanjung pujaan hatinya tersebut, bersedia berkorban, saling mengasihi, penuh perhatian, dan juga kerinduan layaknya orang yang heterokseksual. Jadi tidak ada yang tidak normal sebenarnya. Yang tidak normal adalah kalau seseorang itu justru menyakiti, melukai, dan tidak meperdulikan dan melakukan sesuatu yang merugikan orang yang dicintai. Heteroseksual, homoseksual, lesbian, gay, tidak ada masalah sebenarnya. Layaknya ketika memilih mana masakan kesukaan? dan memilih gaya berpakaian yang paling nyaman? Tidak ada yang menyimpang. Akan tetapi, Hanya saja perilaku juga tindakan pribadi manusia dan masyarakat tidak terlepas dari norma-norma yang telah di bentuk, disepakati, dan telah tertanam dalam diri individu itu sendiri. Persoalannya bagaimana individu pribadi menyikapi hal yang terjadi dalam dirinya. Seperti yang saya katakan, ini bukanlah masalah pilihan. Melainkan masalah Sikap.
Memang di Indonesia, Homoseksualitas merupakan fenomena sosial yang masih sangat tabu dan di haramkan. Homoseksualitas mendapati posisi ‘hitam’ dalam berbagai penyimpangan. Dalam hal media, Mungkinkah senasib dengan Playboy magazine yang terbit dan diedarkan di Indonesia yang mengalami pro dan kontra Apabila The Advocate, salah satu majalah mengenai LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender/transeksual) di Amerika membuka cabang melakukan peredaran di Indonesia?, waww.. entah apa kata masyarakat Indonesia?!!
Negara-negara di Barat dalam perkembangan mengenai Homoseksual memang sudah mencapai taraf yang lebih umum bukan hanya sekedar film juga majalah. Terdapatnya berbagai organisasi yang memperjuangkan hak kaum gay-lesbi, festival gay, even olahraga komunitas gay, bahkan ada selebritis-selebritis dunia yang dikatakan sebagai icon gay-lesbi (di tahun 2008 Christian Ronaldo menduduki peringkat atas dari 10 icon gay menurut harian Sun Inggris). Di Indonesia organisasi pergerakkan perjuangan hak gay-lesbi hadir pertama kali lewat nama organisasi Lambda Indonesia. saat ini organisasi gay yang paling di kenal yaitu Gaya Nusantara di Surabaya dan Arus Pelangi di Jakarta. Selain itu, perkembangan Gay-lesbi, di beberapa negara sudah memperbolehkan adanya pernikahan sesama jenis, negara pertama yang memperbolehkannya yaitu Belanda sejak tahun 2001, negara berikutnya yaitu Belgia, bahkan di dua tahun pertama saja sekitar 2422 pasangan gay dan lesbi telah menikah di Belgia. Di tahun 2005, Kanada dan Spanyol juga memperbolehkan pasangan gay dan lesbi untuk menikah. (nah.. untuk teman-temanku yang gay-lesbi janga pusing untuk menikah, negara-negara ini siap membantu).
Saya pernah berpersepsi dan ini memang sudah saya jadikan sebagai pandangan saya mengenai gay khususnya yang masih saya pegang teguh. Bagaimana mengenali para gay?, tentu saja para kaum gay ini penampilannya ada yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat normal jika berada di jalanan, meski ada juga yang berpenampilan mencolok (seperti waria). Bagi saya, untuk mengidentifikasi seseorang itu gay, saya sangat tertarik menelaah dengan melihat dari genre musik yang menjadi kegemaran laki-laki. Anggapan saya memang ‘agak aneh’ jika seorang laki-laki menyukai musik Spice Girls, Mariah Carey, Celine Dion, KD, Titi DJ, Westlife, Kerispatih, Backstreet Boys, N’sync, George Michael, Ricky Martin, Saipul Jamil, Beniqno, juga Dangdut modern, karena jika laki-laki menyukai daftar penyanyi di atas memang tidak laki-laki banget (to much feminism). memang genre musik adalah masalah selera. Tapi terkadang dari selera itu lah salah satu yang mencerminkan ‘soul’ nya. Feminim-maskulin, gay-lesbi. Well, Teori saya memang masih bisa disanggah.
Bagaimana opini anda jika melihat Olga atau Ivan Gunawan? Menurut saya, dibalik bakat yang mereka miliki, selama ini mereka dengan leluasa telah mengeksploitasi kebancian mereka secara public, yang memungkinkan mereka menjual stereotype negative kaum gay. Walaupun info-info yang beredar mereka tidak mengakui ke-homoseksualitas mereka, tapi saya yakin mereka sedang bermunafik ria.
Saat ini, kita bisa menjumpai komunitas gay-lesbi dengan leluasa. Bisa ditemukan komunitas-komunitas nya di media cetak maupun forum internet. Apalagi dengan adanya facebook. Terdapat grup-grup yang tersebar di sana.
Saya sangat menghargai perbedaan dan saya tidak perduli apa kata orang kalau saya mempunyai teman-teman yang gay juga lesbi, dan saya tidak perduli dengan kecaman yang diterima oleh kaum homoseksual, karena kenyataannya saya memang berinteraksi pada mereka selama ini dan saya nyaman-aman saja. Saya tidak berteman dengan memandang orientasi seksualnya. Mereka seperti teman-teman saya kebanyakan, tidak ada yang berbeda. Sama saja. Walaupun memang pada dasarnya saya mengontrakan fenomena homoseksual. Asal kan mereka tidak ‘menggangu’ saya saja. Well. Masalah orientasi seks nya, adalah masalah dia dengan Tuhannya. Semoga anda bukan salah satu yang sesat pikir dalam menyikapi fenomena ini.
Komentar