MIE AYAM, PEREMPUAN, DAN HIDUP
Dari minggu kemarin tumben-tumbenan perut saya nelangsa banget sama yang namanya mie ayam. Tiga hari berturut saya bisa makan mie ayam sampai ludes. Biasanya sih bersisa, tapi enggak tahu kenapa bisa kesemsem banget sama yang namanya mie ayam, padahal aslinya saya paling males makan bermenu mie selain indomie seleraku, tapi semua rasa malas itu luluh lantah hanya karena musim penghujan. Ya kali gitu.
Biasanya saya ketagihan makanan sampah modal ayam tepung sama sambel cabe udah, biasanya juga kalau ke warung makan apalah itu butuh bermenit-menit tanya-tanya sama diri sendiri lihat buku menu buat nentuin enaknya makan apa hari ini, karena pada dasarnya kadang saya ini orang yang ribet, apalagi untuk soal perut.
Jadi untuk memenuhi nafsu saya sambil ditemenin temen di malam minggu, kami duduk di warung sederhana dengan nama seseorang yang cuma bermenu bakso sama mie ayam. Kami duduk di belakang lima orang cewek yang sepertinya usia akhir belasan tahun ala-ala mahasiswa. Mereka asyik cerita macam-macam yang too much silly personal details biasalah. Saya maklum mengingat saya biasanya juga gitu kalau ngumpul bareng temen-temen, sayangnya volume suara mereka lumayan rame tanpa peduli sekitar. Ya jadi karena saya yang duduk munggungin mereka, tanpa bisa saya tahan buat filter semua cerita mereka yang masuk ke kuping saya. Yaiyalah.. gede gitu suaranya, lagian kalau ceritanya flat juga saya pasti enggak akan nguping, tapi masalahnya ini adalah mereka semangat bahas mengenai.. jreng.. jreng.. masa depan pernikahan.
Awalnya sih ya mereka cerita tentang tipe pacar ideal, mulai dari yang sesukuan, seagama, dan sekota menurut rumus mereka sendiri, sampai ada satu yang curhat Bombay tentang pacarnya yang belum kelar kuliahnya, sampai akhirnya berakhir di mengenai kapan mereka mau nikah. Wow.. ketika saya sendiri masih diserang sama pertanyaan “kapan kawin?” dari orang-orang terdekat bahkan sok dekat, itu anak-anak udah punya rencana kapan mereka kawin. Obrolan yang tentu terbilang serius sekali ya, sampai-sampai saya tersedak es teh ketika mendengar mereka ingin menikah sehabis wisuda, dan dalam hitungan paling umur 21-22 paling telat.
Nanya dong. In what century am I again now?
Jangan salah, saya enggak punya masalah sama orang-orang yang memilih untuk menikah muda, karena itu adalah hak semua orang dengan alasan apapun dalam diri mereka. Agama, cinta, dijodohin, atau kesiapan, itu benar-benar hak setiap orang. Hanya saja alasan mereka sangat sederhana ‘selesai sekolah trus ngapain lagi? Ya kawin dong’.
Saya langsung mikir sambil ngunyah kenyalnya mie ayam di mulut, apa saya di seusia mereka mikir gitu, ya?
*mikir*
Hell no!
Seusia mereka saya masih disibukkan sama idealisme-nya mahasiswa yang penasaran sama peluang riset atau kerjaan menghasilkan duit yang ada di depan mata selain sibuk nyelesain skripsi juga sih. Mikir kawin pun boro-boro.
Di mata saya, anak-anak gaul ini enggak terlihat macam anak-anak muda yang enggak punya kerjaan selain kawin. Dengan tahu mereka masih bersekolah saya pikir oh inilah agen-agen perubahan di masa depan, yang punya semangat untuk membangun Bangka Belitung tercinta, sekalipun hanya bermula dengan menambahkan jumlah pengangguran intelek yang lagi menuntut ilmu, hanya saja tampang mereka juga terlihat seperti anak-anak yang selessai jam kuliah bukannya pulang tapi nongkrong di warung kopi sampe malem.
“habis kuliah, aku langsung nikah dong, daripada papa sama mama capek ngurusin aku, kan?”
“Yaiyalah, daripada pusing mending langsung nikah aja. Kita enggak mesti sibuk cari duit, kan suami yang tugasnya cari nafkah.”
Gue keselek potongan ayam.
Woi, upil kucing! Lu kira papa sama mama lu repot-repot banting tulang cari duit nguliahin elu buat apa? Kawin? Ngambil gelar sarjana doang?
Sambil ngunyah saya jadi inget sama cerita sodara saya, semasa sekolah dia punya satu teman cewek, cantik sih tapi—kalau kata orang Bangka ‘dak ape pikir’, Oon, begonya hanya Tuhan yang tahu, enggak pernah merhatiin pelajaran, nilai selalu terendah di kelas, benar-benar tipe-tipe teman yang bikin kita enggak habis pikir diulahnya. Ketika teman-temannya termasuk sodara saya pada berencana mau nerusin kuliah setelah tamat SMA, dia punya rencana yang berbeda.
“Karena aku sadar sama kemampuanku belajar di sekolah, sama nilai-nilaiku, dan mungkin kemampuanku bersaing di dunia kampus itu minus, jadi rencanaku kalau lulus sekolah aku milih untuk kawin. Dan karena aku bodo gini, aku mau cari laki-laki kaya yang mau sama aku.”
Dan rencananya beneran diiyain Allah. Lulus SMA dia kawin, sama lelaki kaya sekalipun rada berumur, punya anak, totally jadi ibu rumah tangga, dan punya bisnis butik yang cukup gede.
She’s rich now.
Dan bagi saya, prinsip menanggulangi kelemahan dirinya bikin dia pinter.
Mau tak mau saya juga teringat dari kisah lain, pernah nonton Monalisa Smile yang dibintangi Julia Roberts sama Kristen Dunst? Film mengenai perempuan dan sekolah. Yang mengisahkan bagaimana Julia Roberts sebagai seorang guru memperjuangkan kepada murid-muridnya untuk merubah tradisi masyarakat secara langsung—tradisi yang menempatkan perempuan sebagai individu nomor dua setelah laki-laki, tradisi yang mengharuskan seorang perempuan untuk “rela” menyerahkan seluruh hidupnya demi mengabdi pada laki-laki yang kelak menjadi suaminya. Intinya bagaimana perjuangan seorang guru untuk mengubah tradiri yang seolah-olah memaksa seorang perempuan untuk mengubur dalam-dalam seluruh impiannya pada pernikahan.
Kurang lebih tema yang diangkat dalam film itu adalah bahwa perempuan berhak untuk mengejar impiannya sendiri, tanpa harus ada paksaan dari orang lain. Perempuan juga bebas menentukan jalan yang akan dilalui hidupnya, tanpa harus terjebak dalam tradisi yang berlaku dalam masyarakat.
Intinya, apapun kelak yang dipilih oleh seorang perempuan, entah menjadi ibu rumah tangga, wanita karier, atau bahkan dua-duanya, hal tersebut seharusnya merupakan keputusan yang dia pilih atas kesadarannya sendiri. Tanpa paksaan, atau kekangan dari orang lain.
Dalam kisah itu, perjuangan seorang guru benar-benar memberi pelajaran dan pandangan baru bagi para muridnya yang terkekang dengan tradisi bentukan masyarakat, pelajaran yang mengajarkan mereka bahwa perempuan juga berhak mengejar impian seperti hak laki-laki. Namun, saat itu bukan hanya murid-muridnya saja yang mendapat pelajaran, tapi juga guru tersebut. Saya ingat sama salah satu dialog antara Julia Roberts sama Julie Stiles yang memerankan tokoh Joan Brandwind, seorang murid yang sebenarnya bercita-cita menjadi seorang pengacara handal, namun selama ini dia masih bingung memilih antara mengejar karier atau menjadi ibu rumah tangga. Kata-kata tokoh Joan Brandwind itu bikin saya inget terus, kata-katanya seperti ini :
“Ini pilihanku, aku memang tidak bisa pergi ke Yale, tapi kelak aku akan menyesal kalau tidak menikah dan membesarkan anak-anakku sendiri. Ini adalah pilihanku, aku sudah memutuskannya.”
Jadi.. seorang guru juga bisa belajar dari muridnya bahwa menjadi ibu rumah tangga juga bukan merupakan pilihan yang buruk. Menjadi ibur rumah tangga bukan berarti kuno atau tidak gaul dan maju. Nilai seorang perempuan tentu tidak dapat dinilai atau ditentukan hanya dari profesi yang mereka geluti, karena apapun pilihan seorang perempuan yang terpenting adalah hal tersebut benar-benar merupakan keputusan yang dia ambil dalam kesadaran penuh tanpa paksaan dari siapapun.
Kesadaran saya balik saat itu, kemudian sibuk mendesah sambil satu kuping kembali mendengar obrolan mahasiswi gaul yang very busy thinking about getting married, kuping satunya lagi dengerin curhatan temen saya tentang bos kampretnya. Life is a choice.
Tapi membayangkan anak kuliahan yang orangtuanya sibuk kerja cari duit buat biaya sekolah mereka dan membayangkan di usia 22 tahun mereka sudah menjadi orangtua, sementara.. di belahan dunia lain ada yang sedang asyik mengelilingi dunia, jelajah puluhan gunung se-Indonesia, terus ngais ilmu berlomba-lomba ngejar beasiswa ke luar negeri, berekspresimen dengan hobi, kerja keras buat isi rekening menggunung, nyenengin orangtua, jadi relawan disana-sini, mau tak mau saya merasa gelisah dan.. prihatin.
Dan mie ayam pun habis. Sial.
Komentar