BABY WALKER
“Yiem.”
Itu panggilan ponakan paling kecil ke saya. *baca: yim*
Nama singkatnya Ozil, nama aslinya sih panjang macam nama anak-anak zaman sekarang. Sepertinya nama panjang yang beraksen macam nama-nama pemeran telenovela itu sedang tren, tapi bukan ini yang mau saya bahas.
Ozil. Kalau saya manggilnya dengan “Ojil”, biar lebih cute gitu.
In time, umurnya belum genap 2 tahun, mungkin dia keponakan terfavorit saya karena hanya dialah yang lucu diantara 2 ponakan saya lainnya yang kadar kelucuannya hilang ditelan usia.
Pada dasarnya saya enggak suka bayi, apalagi bayi yang baru lahir. Jangan heran ketika saya heran melihat orang-orang suka memuji bayi baru lahir dengan “Cantik” atau “Ganteng”. Plis deh ya. Bayi itu jelek, enggak cewek enggak cowok keriput, merah, dan I don’t know.. saya selalu keingat Gollum di Lord of The Ring setiap kali melihat bayi muda. Apalagi pas lihat Ojil baru lahir disamping emaknya yang kesakitan tapi full happy itu, saya tatap tampang Ojil lekat-lekat sampe mata saya sakit, saya observasi, alisnya belum tumbuh, matanya bengkak, bibirnya tipis, hidung mungilnya, pipi merahnya macam pantat, rambut tipisnya, subhanallah.. Ojil memang mirip Gollum.
*Digeplak emak Ojil*
Don’t get me wrong, I have no problem with babies.
Well, balik lagi ke Ojil. Rasanya waktu begitu cepat berlalu sampai ternyata Ojil tumbuh meninggi. Muka Gollum-nya lenyap bertransformasi jadi muka anak Suku Pedalaman Mongol.
*digeplak emak Ojil lagi*
Pada dasarnya seperti anak laki-laki pada umumnya ya, Ojil suka banget sama mainan, terutama mobil-mobilan, apalagi yang ada di smartphone. Ojil anak yang enggak doyan dicium dan mencium, badan kurus perut buncit dan kuat makan. Doyan mondar-mandir apalagi di jalanan macam orang tersesat di padang pasir trus kesenangan pas ketemu air.
Ojil jarang suka dipeluk/digendong orang lain selain Mama dan Papa-nya, terkecuali sedang ada maunya atau mungkin sedang khilaf. Diusianya kini dia sudah bisa membedakan orang-orang disekitarnya dan memanggil dengan bahasa bayinya yang menyingkat-nyingkat. Kakeknya dipanggil “Tuk”, mungkin susah nyebut “Atok”, adik saya dipanggil “Ya”, tapi lancar banget nyebut “Nenek”.
Jangan tanya kenapa nama saya bisa jadi “Yiem”, sekalipun enggak rela, tapi saya suka. Tentu itu kemajuan untuk bayi yang belum berusia 2 tahun. Kemajuan pula ketika dia melihat foto keluarga dan menyebut satu-satu wajah di foto dengan baik dan benar serta menyingkat-nyingkat itu.
Tingkahnya kini masuk dalam fase meniru orang lain, dan syukurnya belum masuk fase ‘anak-bandel-minta-digeplak’, sekalipun kelihatannya sudah jago kamuflase dengan pura-pura nangis agar keinginannya terpenuhi mengingat Ojil punya kegemaran baru yaitu suka tiba-tiba nempel sambil ndusel-ndusel macam kucing ke badan pas saya sibuk sama HP dengan tatapan lapar tertuju ke HP. Yeah, begitulah kalau ada maunya sama game, pasti suka sok deket dan kepo banget.
Pada dasarnya Ojil tumbuh menjadi bayi-bayi normal diseusianya. Atau mungkin hanya bayi-bayi dari Keluarga Sumarto saja begitu. Hehe. I love my family, and they will too.
Tapi membayangkan pengalaman hidup bersama Ojil selama ini mengajarkan saya untuk stop mengajaknya ke mall. He’s a baby walker. Macam zombie yang terseok-seok lapar berburu daging segar, bedanya baby walker ini suka lihat yang berkilauan dan unik. Saya sempat kaget betapa misterius tatapannya yang fokus ke kuali. KUALI!!! Imagine that!
Peringatan untuk para calon ibu muda : ketika di market, jangan biarkan bayi anda dijauhkan dari troli, karena dengan misterius dan magis bayi anda bisa lepas dari tangan anda begitu saja. Efek samping yang didapatkan : pinggang lelah, kaki kram, darah tinggi, dan rambut TRESemmé anda akan berubah macam singa betina sehabis berkembang biak.
Rasanya diluar dugaan ketika melihat kaki-kaki mungil itu ternyata bisa berlari begitu cepat dan sulit dikejar diantara rak-rak makanan.
Rasanya juga dengkul saya mau copot. Saya pastikan Mall adalah musuh saya ketika bersama Ojil, dan pernah saya sudah mondar-mandir keliling buat ngekorin dia, saya biarin dia hahahihi enggak jelas sambil memutar-mutar rak, lari-lari dengan penasaran macam anak tuyul, mungut apapun yang menarik hatinya, dan sempat keder juga pas dia ngembat softex.
Ya saat itu saya pikir bodo amat lah. Bayi enggak kenal benar atau salah, bayi cuma paham sama fun, sekalipun rada aneh juga dia bawa Softex.
Saya tetep ngekor macam anak bebek, dan tiba-tiba langkahnya terhenti, dengan tangan yang masih megang pasta gigi dan.. err.. softex. Kami berada di rak pakaian dalam wanita. Saya perhatiin dia terus, kali ini enggak narik tangannya atau gendong dia biar enggak macam anak tuyul lagi, tapi saya perhatiin dia. Matanya fokus menjurus ke bra-bra yang digantung. Berdetik-detik. Sumpah mati dia enggak berkedip. Saya bingung. Ojil masih diam mematung.
Enggak beberapa lama kemudian dia mulai melangkah kecil, mendekat ke bra terdekat warna merah maroon yang hot, trus telunjuk kirinya nyentuh ujung bra dengan penasaran. Pas nyentuh dia mendongak, natap saya. Kami bertatapan selang dua detik, mata bulatnya fokus ke saya, saya enggak tahu apa isi dari matanya itu tapi tiba-tiba dengan polos dia nyeru, “MAMA!” sambil nunjuk bra itu lagi, sebelum akhirnya dia kabur.
Saya yang melongo dengan reaksinya, trus langsung muntahin tawa geli, mau tak mau dalam hati gue juga nyeru. “Damn you, Cute Kiddo!!”
Komentar