AKU, KERJA, DAN JAS HUJAN
Bagaimana bisa sebuah jas hujan bisa bikin kamu malu?
Itu pertanyaan penting, yang sampai saat ini enggak akan pernah bisa lepas dari ingatan gue, dengan jawaban yang membuat gue selalu geleng kepala dan merem mata saking malunya. Gue berharap ada yang ngalami
Pengalaman gue dengan jas hujan ini gue ceritakan sama keluarga dan teman-teman gue, reaksi mereka cuma satu, senada, serasa, seperti yang sama rasakan.
Ceritanya, untuk pengalaman kerja yang berderet di CV dengan jenis pekerjaan yang enggak pernah in-office, sebenarnya bukan sebuah kendala bagi gue. Terlebih karena gue yang punya urat jalan-jalan segede jempol sebadan, dan selalu mengutamakan prinsip “Travel teaches how to see”, it doesn’t matter.
Kerja sambil jalan-jalan itu menyenangkan, kan? Betul. Bayangannya kelihatan indah, tapi tunggu dulu, itu tergantung pekerjaannya.
Sudah beberapa tahun ini hidup gue sebagai penglaju---tua di jalan—menjadi lebih variatif. Kalau biasanya gue hanya menjadi penglaju antara Pangkalpinang - Bangka Tengah, Bangka Tengah coret ke Bangka Induk, Bangka Induk balik ke Bangka Belitung, kemudian sekarang lebih sering ke Bangka Barat. Rute yang semakin jauh dengan penempatan posisi yang terbilang tidak manusiawi gue mencoba menjadi seseorang yang manusiawi. Gue mulai menjadi manusia yang pengeluh. Ngeluh sifat manusia yang –wi, kan?
Jadi gue ke Bangka Barat untuk kerja. Iya, kerja. Berkunjung ke desa satu ke desa lainnya, jadi orang sok pinter menawarkan bantuan macam Peter Parker yang bukan siapa-siapa sebelum digigit laba-laba radioaktif. Diskusi dengan partner kerja, bahas sana-sini, ngikutin kata atasan sekalipun perasaan kebanyakan hanya meminta-minta ini-itu, and my list goes on and on. Semua yang gue lakukan di sana, membuat gue harus menjadi robot. Robot mungkin kata yang lebih tepat menunjukkan siapa manusia macam gue sekarang ini mengingat dengan beban kerja yang mengerikan, serta jam kerja yang purnawaktu, bolak-balik naik motor bandel menempuh perjalanan hampir 2 jam, almost everyday, pulang, tidur, bangun pagi, berangkat, dan seterusnya seterusnya. Semua menjadi kebiasaannya, dan yang dilakukan adalah itu-itu melulu.
I’m a robot. Stupid robot.
Banyak yang bilang bekerja di luar kota bisa sangat menyegarkan, termasuk untuk batiniah sih, katanya, bisa mengembalikan perspektif akan kehidupan dan kesibukan kantor yang mulai terasa monoton, termasuk sangat beda sekali tingkat stress yang didapatkan dari bekerja in office or out. Itu benar, tidak salah sama sekali, tapi… jika itu sesekali. SESEKALI.
Jika menjadi rutinitas, buat gue, bukan lagi penyegaran. Ya itu jadi biasa saja, bahkan terasa flat, sejujurnya gue sudah bosan dengan pekerjaan lapangan yang banyak tuntutan, malah ya kalau bisa lebih memilih tetap di rumah seperti pekerjaan gue sebelumnya. Gaji not bad, tinggal buka laptop, nyeduhin teh, tunggu email, bikin laporan, diskusi sama yang lain, tarra! itu juga kerja.
Sayangnya banyak orang berpikir termasuk teman-teman gue setiap kali kita disuruh bekerja diluar kota, mereka pikir kita bersenang-senang, bisa jalan-jalan, bergaul dengan masyarakat lain, melihat suasana kampung. Mereka lupa, pekerjaan yang harus dilakukan saat bekerja diluar kota justru 2x lipat. Pekerjaan rutin dan tambahan menyebabkan kita harus keluar kota, sampe rumah hanya numpang tidur, tapi tetep elo jalani karena pemikiran penuh harapan dan mimpi bahwa suatu saat akan ada orang yang paham kemanusiaan dalam instansi tempat elo bekerja, sekalipun itu cuma satu manusia.
Kalau sudah muak begini biasanya gue berhenti ngeluh di facebook, dan milih searching video-video lucu di Instagram atau YouTube.
"Gue salut sama elu, tahan banget lu bolak-balik," kata seorang teman. Gue enggak tahu dia nyinyir atau beneran kagum saat bilang itu.
"Badan elu enggak drop?" Tanyanya juga.
"Drop," jawab gue. "Me-time gue berkurang."
I’ve told you, I’m a robot. Stupid robot.
Stop ngeluh di blog, Rin!
Oke, oke, oke, mending balik ke ‘Aku dan Jas Hujan’.
Bekerja lapangan artinya bukan hanya siap menjadi robot, melainkan juga siap menjadi robot yang super praktis yang akrab dengan baju ganti, cover bag, jas hujan dsb. Hujan bukanlah faktor yang membuat masalah untuk gue. Hujan itu adalah Ririn’s friendly. Salah satu fenomena alam yang bisa menjadi alasan untuk gue tidak masuk kantor atau telat datang. Hujan itu teman, Cuy.
Suatu hari, hari apa lupa tepatnya, tapi yang jelas, gue udah dandan cantik-cantik, pake kemeja favorit, jeans item, converse, tas jinjing gede, sama motor butut tapi bandel, gue udah siap jadi Dora the Explorer berangkat kerja. 30 menit pertama gue berhenti di ruko kecil yang tutup gara-gara hujan deras plus guntur plus plus lah.
Gue enggak ngeluh, I love rain, as always.
Tapi.. ya namanya manusia bodoh ya, ada niat mau hantam hujan karena mikirnya hujan ini awet luar biasa, dan gue tipe orang yang enggak mau terlalu siang di jalanan dengan alasan utama : takut item. Kalau balik juga nanggung. Yah.. namanya juga manusia bodoh. Eh robot bodoh.
Jadi dari Desa Zed gue hantam jalanan pake jas hujan kelelawar warna biru dan sarung sepatu. Udah dandan cantik-cantik, kehujanan, macam tikus curut, ngebutlah gue selama puluhan menit itu. Saat hujan udah reda tapi masih gerimis rintik-rintik yang gue pastikan bakal bikin baju gue basah total juga kalau sampe lokasi kerja, gue memilih untuk terus laju tanpa dosa. Sekalipun gerimis gue tetep dong pake jas hujan, peduli amat sama orang-orang yang lewat lihat gue dengan tatapan aneh, gue pun enggak terganggu sama suara kepakan bagian belakang jas yang berkibar-kibar kena angin karena kecepatan 80 km/h.
Ketidakpedulian dan keacuhan gue enggak berlangsung lama, terhenti ketika seorang bapak-bapak naik motor Yamaha melaju bareng di sebelah gue trus ngomong. “Adek, ada yang jatuh, Dek. Warna biru.”
Awalnya samar-samar di telinga gue, tapi pas bapak itu mengulang, gue mendadak panik lah, tapi masih sadar buat memperlambat laju dan berhenti ke pinggir jalan. Gue langsung cek tas di punggung, gue obok-obok isinya, satu hal yang dipikiran gue adalah HP dan dompet, dua benda itu yang paling mahal selain harga diri dan keperawanan yang gue bawa. Bisa mampus kalau dua benda itu hilang.
Warna biru.. warna biru..
Pikir gue sambil ngobok-ngobok tas. Pas ketemu dompet sama HP, gue lega. Trus mikir lagi. Warna biru?
Bapak-bapak yang ngekorin gue ternyata ada dihadapan gue, masih duduk di motornya, dari gayanya dia penduduk disana soalnya keluyuran tanpa helm, macam belum mandi, mata merah, dan kalau kata orang Bangka, impak-impak. *baca: dekil*
Gue mulai curiga, jangan-jangan ini bapak lagi mabok atau salah satu bapak-bapak murahan yang suka godain iseng di siang setengah bolong.
Suudzon itu perlu saat itu, tapi di kasus gue, ternyata a big stupid.
Mungkin karena lihat tampang curiga gue, itu bapak langsung ngomong. “Barang adek jatuh, di belakang sana.”
Gue balik badan, lihat belakang macam orang bodoh. Nothing.
“Apanya, Pak?” tanya gue super bingung.
“Warna biru. Besar, gede. Disana.” Sambil nunjuk-nunjuk jalanan.
Biru? Besar? Gede? Is there something I need to worry about?
Biru? Besar? Gede? Hmm.. Sekalipun gue jenis cewek kepo, tapi gue paham dan sadar bahwa gue enggak pernah bawa Doraemon atau sejenis mamalia Paus biru jalan-jalan.
Akhirnya tanpa mendapatkan tanggapan dari gue, bapak itu pergi, dan gue sampai harus berpikir lebih keras lagi untuk memastikan bahwa gue masih waras dan bapak itu lagi mabok.
Gue kembali jinjing tas, panik dan curiga mulai lenyap, udah niat tancap gas, tapi.. merasa ada yang aneh. Biru? Kata bapak tadi biru, kan? Iya, biru.
Wait it minute. Jangan-jangan…
Gue buru-buru lepas helm.
Gue sibak jas hujan gue.
Gue nelen ludah.
Kampret!! INI JAS HUJA BAGIAN BELAKANGNYA MANA?!!
Kenyataannya ternyata jas hujan gue robek, bukan robek lagi tapi di bagian punggung udah total habis, potongannya entah kemana.
Alih-alih gue bertanya-tanya dimana gerangan robekan belakangnya, dalam pikiran gue cuma bisa nanya kapan? Kenapa? Kok nasib bisa jadi… gini?
Tanpa bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, akhirnya gue natap jas hujan di tangan gue, nanar, kemudian gue lihat sekeliling, kendaraan berlalu lalang tanpa peduli, enggak ada pejalan kaki syukurnya, lalu mata gue balik ke jas hujan, “Kenapa?” gue macam membeo, minta jawaban ke jas hujan sialan sebagai biang semua ini, tapi akhirnya seperti ada kupu-kupu dalam perut gue, dan otak gue mulai bereaksi, tergelitik, tanpa bisa gue tahan... gue ketawa.
Sepanjang dua menit trus menit-menit berikutnya gue senyum-senyum sambil nyelipin jas hujan bedebah itu ke jok motor.
Sialnya, sepanjang jalan gue menuju lokasi kerja gue, sepanjang itulah gue nyengir-nyengir macam orang gila.
Pernah enggak kamu ngerasa sudah ngelakuin hal yang bodoh banget sampai kamu sendiri geli dan malu menghadapi efek kesalahan kamu yang bikin kamu akhirnya ketawa karena kamu enggak bisa berbuat apapun?
Damn! That’s how I feel.
Awkward moment banget, kan?
Sepanjang jalan itulah gue pengen teriak : “Gimana bisa elo sebegini bodohnya, Rin?! Kalau naik motor pake jas hujan itu bagian belakangnya didudukin dulu, Dodol, biar enggak melayang-layang sampe robek gitu. Lo kira elo Superman, Hah?!”
Sebenarnya gue bisa saja teriak, mengingat sekitar gue lebih banyak hutan lelap ketimbang pemukiman, tapi gue juga enggak mau kali bangunin makhluk-makhluk tak kasat mata dari lelapnya.
Jadi gue hanya bisa gigit bibir sama nasib.
Gigit jari pas gue cerita ke partner kerja gue dan diketawain habis-habisan.
Gigit lengan pas diketawain orangtua gue pas gue pulang kerja.
Gigit HP pas temen-temen gue ngakakin cerita gue.
Gigit dengkul karena diketawain lagi saat gue share foto jas hujan bedebah itu.
Gara-gara jas hujan, gue, si stupid robot ini, habis-habisan dibully orang-orang. Ampun deh malunya.
Tapi dari sini gue belajar satu hal, sebenci-bencinya gue sama pekerjaan gue, ada traveling disana, and traveling.. it leaves you speechness, then turns you into a storyteller.
Ya.. sekalipun sering gue menceritakan kejadian aneh yang gue alami, tetep gue enggak bisa berdebat sama cerita bodoh gue. Eh ralat ya, pengalaman bodoh gue!
Hanya saja, yang jadi misteri adalah sebuah pertanyaan gue sampai saat ini yang semakin bikin gue pengen pentung kepala gue sendiri untuk tahu jawabannya: Itu kenapa bapak-bapak baik hati itu enggak bilang aja langsung ke gue dengan ‘Dek, jas hujan adek robek, potongannya tuh noh di ujung jalan’? bukan malah ‘Dek, ada yang jatuh, warna biru, gede, besar, di sana’, kenapa, Pak?? Kenapa? Kenapa Bapak tega? Memangnya bapak kira gue doyan main tebak-tebakan gitu?”
*palmface*
Komentar