MENULIS ITU SUSAH, YANG GAMPANG ITU.......
Semuanya
bermula dari lomba karya cipta cerita pendek dengan modal ‘Iseng-iseng Berhadiah’. Tau kan
Iseng-Iseng Berhadiah? Ikut lomba, lolos enggak lolos enggak ada ruginya. Yah,
semacam lomba makan kerupuk pas perayaan 17-an, lu enggak menang, tapi masih dapet
kenyangnya, sekalipun itu cuma makan kerupuk doang. Ya kali emang makan
kerupuk kenyang gitu?
Banyak
yang bilang menulis itu salah satu pekerjaan yang susah, karena katanya yang gampang itu membaca, terus komentar, macam netizen yang budiman asal jeplak. Eh
tapi serius ini, menulis itu enggak gampang, kalau gampang, saya mungkin enggak
bakalan vaccum sementara buat nge-blog, terlepas dari sok sibuknya saya,
ditambah urat-urat kemalasan yang lebih sering munculnya ketimbang
tenggelamnya, menulis itu susah.
Yee.. Stephen King yang udah nulis puluhan novel best seller juga enggak menampik bahwa menulis itu susah, bukan kita enggak bisa, tapi memang enggak gampang.
Yee.. Stephen King yang udah nulis puluhan novel best seller juga enggak menampik bahwa menulis itu susah, bukan kita enggak bisa, tapi memang enggak gampang.
Ada teman
yang bilang menulis cerpen tuh gampang, mana pendek, singkat, dua tiga halaman
A4 kelar. Ada penulis bestseller juga
yang bilang kalau nulis novel itu lebih gampang ketimbang cerpen, ide enggak
dibatasi, banyak hal yang tercurahkan dari yang ingin dicurahkan.
But, let me tell you something, kita semua bisa berdebat sepanjang waktu
terkait susah gampangnya menulis, tapi untuk seseorang yang masih kencur dalam
hal tulis-menulis apalagi karena saya tipe yang suka baca sama tukang komentar
sesuka hati, nyobain lomba ‘iseng-iseng berhadiah’, artinya nyoba hal baru
sejalan dengan quote yang saya pegang teguh: explore
yourself to found something special in yours.
Buat saya,
yang pernah jadi kuli tinta di majalah lokal, dan kebiasaan curcol enggak
berfaedah di blog, dan belum pernah nerbit editorial
articles, maka menulis cerpen fiksi itu susah.
Diulang
ya. SUSAH!
Dan
celakanya, susah yang dimaksud terasa pas prosesnya. Saya macam perempuan yang
udah tahu katanya hamil itu ngeri-ngeri sedap tapi masih aja mau ngerasain. Pas
enggak sih analoginya?
But
anyway, ini gegara seorang teman pemilik akun @chyploex yang kalau enggak salah
sekitar tahun 2015 mention saya di Twitter soal akun @NulisBuku yang merupakan salah
satu perusahaan self-publishing
berbasis online di Indonesia yang ngadain proyek menulis cerita pendek dengan
tema Kasih Tak Sampai.
Pas lihat
yang kepikiran cuma lagunya Padi. Gila ini tema bikin baper. Saya udah bisa
membayangkan ini proyek penuh haru dan menguras hati sampai termehek-mehek. Bukan saya banget lah ini.
Maka
dengan modal sangat sombong dan dikendalikan hormon kesotoyan ditambah lagi
dengan memegang teguh quote hidup,
saya dan teman saya (red: pemilik akun @chyploex) ikutan lomba. Ya bolehlah
sesekali ngikut iseng-iseng berhadiah.
Dulu sih
memang sempet ngomong, apa susahnya menulis cerita 4 halaman sih? Ahh, kecil!
Cetek lah itu.
Dan..... Yang terjadi adalah buah
dari takabur akhirnya beginilah kita. Di hari-hari terakhir tenggat waktu
akhirnya bisa kirim hasilnya, setelah melewati proses saling ngingetin
deadline, saling revisi, nyerah timbul-tenggelam, dan kompakan
writer’s block, juga melewati perjuangan sebelum kita kehilangan keberanian dan berdarah-darah.
Sampai akhirnya saya berani memberi pandangan bahwa menulis cerpen, memang susah. Susahnya menulis cerpen adalah ide-ide terbatasi,
keinginan besar untuk mengulas detail cerita, menaruh banyak karakter yang bisa
mewakili tiap emosi, pada 4 lembar halaman kertas (dan enggak boleh lebih), dan
itu yang bikin tertekan. That's true. Dipikir-pikir
ini bukan iseng-iseng berhadiah ya, karena ada energi dan waktu yang terkuras
untuk mengukir kata sebanyak 4 lembar halaman. Terpujilah wahai J.R.R Tolkien, J.K Rowling, Stephen King, Nicholas Sparks, Paulo Coelho dan penulis besar lainnya.
Soooo...
cerpen yang terpilih itu dibukukan menjadi 10 buku dengan tema yang
sama. Masing-masing buku akan berisi sekitar 20-an cerita pendek. Dan..
ternyata antusias orang-orang mengikuti proyek menulis ini tinggi banget.
Berkisar 1.025 cerita pendek yang masuk. Alamak. Yang ngikut ternyata banyak banget.
Ini
perdana saya ikut lomba menulis beginian, first
time, and yes i am ready to lose, of course.
Di tanggal
27 Februari 2015, pemenang dari lomba cerita pendek yang lolos seleksi untuk dibukukan
diumumkan, and you know what? Eng ing eng.. Nama saya masuk. Di Buku Kasih Tak Sampai Buku
Dua. Bisa dilihat di http://blog.nulisbuku.com/2015/02/daftar-lengkap-buku-proyek-menulis-kasih-tak-sampai/.
It means
a lot, Guys. Energi dan waktu yang
terkuras berbuah manis.
Sebenarnya
saya mau memosting pengalaman menulis saya ini udah sejak lama, terlebih saya juga sampe sekarang jujur saja sama sekali belum memberi tahu orang terdekat termasuk keluarga saya. dasar anak tak tau diuntung kan saya?! :D
Hanya saja mengingat terkait kebijakan NulisBuku untuk tidak menyebarluaskan apapun baik itu ke pihak publisher manapun maupun lainnya selama satu tahun sejak diterbitkannya buku tersebut, maka mungkin inilah waktu yang tepat.
Hanya saja mengingat terkait kebijakan NulisBuku untuk tidak menyebarluaskan apapun baik itu ke pihak publisher manapun maupun lainnya selama satu tahun sejak diterbitkannya buku tersebut, maka mungkin inilah waktu yang tepat.
Atau
bilang saja saat ini lagi mood-nya kepengen nulis aja sih. :D
Jadi sekalipun saya tahu kalian enggak penasaran cerita pendek saya kayak gimana, dan mungkin enggak berkeinginan membeli ini buku yang hanya dijual seharga Rp. 49.900 di blog NulisBuku secara online, tetap saya share disini karena mungkin saya ada sedikit gen narsistik.
Nih! Judulnya
Love, truth & lies. Sok English banget kan saya.
Tapi sungguh ya pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus nyobain something new dan besar yang tentunya naik level dari tantangan diri sebelumnya, dimulai dari menulis cerita hanya untuk diri sendiri, enggak cuma satu tapi berkembang, sampai punya keberanian nyobain ngirim draft ke salah satu publisher terbesar di Indonesiayang sampe sekarang enggak ada kabarnya sejak dua tahun yang lalu. Kalau dibilang susah ya susah memang, karena ya mau jadi penulis atau pekerjaan apapun memang enggak gampang, yang gampang cuma jadi.... pengkhayal. :*
Tapi sungguh ya pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus nyobain something new dan besar yang tentunya naik level dari tantangan diri sebelumnya, dimulai dari menulis cerita hanya untuk diri sendiri, enggak cuma satu tapi berkembang, sampai punya keberanian nyobain ngirim draft ke salah satu publisher terbesar di Indonesia

Komentar