KARAKTER PENGGUNA MEDIA SOSIAL
Siapa sih yang di zaman
begini enggak punya akun media sosial? Emak-Bapak saya lah.
Sebagai orang yang
memiliki beberapa akun media sosial yang aktif, baik itu Facebook, Twitter, maupun
Instagram, sejak tahun 2008, dengan tujuan awalnya sih memang mengikuti
perkembangan zaman biar enggak ketinggalan biar dibilang anak hits, juga buat mendekatkan yang
jauh dan bikin komunikasi juga kegiatan menjadi lebih praktis. Media sosial itu
menyenangkan, dan saya enggak bisa menampik bahwa perkembangan teknologi informasi
semakin mempengaruhi hidup manusia, hidup saya juga.
Ya jelas, siapa yang
kebiasaan kalau habis pulang kerja capek-capek, yang dikerjain bukannya ganti
baju, mandi, malah ngecek HP, buka media sosial? Cuma buat ngecek timeline enggak
berfaedah doang? Dan itu bikin mager, kerasa nyaman banget tanpa
ngapa-ngapain, kan?
Tiga akun media sosial
itulah yang masih setia saya pake hingga sekarang karena fitur dan fungsinya masing-masing beda penggunaannya. Kalau saya
selama ini memang yang satu sengaja buat album foto kenangan, yang satu buat
ngoceh sampah enggak penting, yang satunya ini masih enggak jelas buat apa, mungkin buat nyinyir. Tentunya fungsi penggunaan
media sosial bagi masing-masing orang itu berbeda-beda, termasuk penerapan
ke-eksis-an di media sosial.
Saya merasa melalui media sosial yang dimiliki
setiap penggunanya secara tidak langsung pengguna yang lain bisa mengetahui
seputar diri pengguna akun yang lain, entah itu tempat-tempat oke yang
dikunjungi, profesinya, hobinya, curahan hatinya, dan sebagainya, karena setiap
penggunanya pasti mempunya karakter dalam bermedia sosial, seperti ini :
- Tukang like dan silent viewer
Karakter
yang begini sering ditemui di jejaring sosial, jarang posting atau share
apapun, tapi sering beri like di setiap postingan. Enggak ngerugiin, tapi
secara psikologis karakter yang seperti ini susah ditebak sekalipun tampaknya punya
kecenderungan jadi mata-mata.
- Posting Enggak Penting
Yang
begini enggak jarang saya temui di facebook. Ada beberapa akun yang setiap hari
selalu mem-posting apapun itu yang mungkin dia anggap penting untuk diketahui
orang lain. Iya kalau itu terkait hal yang tingkat urgensi dan kadar pentingnya
memang menarik untuk disimak, tapi kalau cuma posting soal “Aduh, perut mules
nih” atau “Sholat Maghrib dulu”, sumpah ya tipe begini bagi saya enggak ada
lucu-lucunya, pengen balas “kalau mules, gih boker” atau “kalau sholat ya
sholat aja woi, bukan update status!”
- Si Religius
Karakter
ini hampir sering saya temui di timeline saya, mayoritas di Facebook. Entah itu
postingan yang berupa kajian-kajian keagamaan atau pendapat syahdu tentang
problematika kehidupan dengan pandangan agama oleh seseorang yang dia akui
sebagai ulama, ustadz, atau tokoh penting dalam agamanya. Mungkin tujuannya
agar yang baca merasa apa yang dia rasakan dari yang dia share.
- Yang suka feeling
Memang
dalam memosting sesuatu di facebook, ada sebagian orang mengungkapkan what’s on your mind-nya keseringan menggunakan
fitur feeling/activity/sticker, yang
bikin orang-orang mikir oh dia lagi happy,
thankful, sick, sad, bahkan.. crazy?
- Selfie
Saya
sering ketemu akun yang posting foto selfie dengan kadar presisi wajah dan
hidung yang dekat dengan kamera, kepala miring, senyum simpul bagai si
misterius Monalisa-nya Da Vinci, dan... tak bisa ditampik menggunakan
aplikasi Beauty Plus, dan celakanya, satu momen, diposting beberapa kali hanya
dengan pose yang berbeda dalam kurun waktu yang enggak lama.
- Instagrammer sok rapi
Kalian
tahu, survei mengatakan bahwa Instagram adalah media sosial yang paling narsis,
bisa dibaca di sini. Ya jelas lah, Instagram sendiri salah satu platform media sosial yang menawarkan fasilitas untuk narsis, macam share foto aktifitas sehari-hari, video, instastory, instagram live, sampai chatting menggunakan direct message. Eksistensi Instagram jelas punya fungsi yang beda-beda bagi
penggunanya, termasuk soal feed yang rapih. ada beberapa yang saya follow, feed-nya rapih dengan kemungkinan besar hobinya, aktivitas berolahraga, bercocok tanam, taveling, motoin kopi, atau nge-mall, enggak campur aduk sama aktifitas yang lain yang bikin saya mikir "Ini orang pengangguran atau apa sih tiap hari sepedaan mulu?".
Saya termasuk orang yang
suka sama aplikasi satu ini, karena tujuannya buat nyimpen foto doang sih, tapi
enggak sembarangan foto, karena dari awal memang sepakat konsisten sama
penggunaan aplikasi satu ini buat save hasil jepretan yang saya anggap suka buat di post, biar rapih karena yang nikmatinnya saya sendiri juga, sekalipun realita-nya hidup enggak benar-benar rapih. Hiks.
oh ya, kalau lagi iseng, coba deh cek Instagram @pagetpagetgram, she's very consistent.
- Si Curhat
Karakter yang seperti ini paling sering saya jumpai, terkadang yang dicurhatin masih dalam batas normal seperti permasalahan di kantor, permasalahan sama lembaga pelayanan sosial-kesehatan, sama pemerintah, atau yang lebih dekat macam permasalahan punya tetangga rese'. Bagi saya ini hal yang lazim lah ya buat diposting, namanya juga makhluk sosial mengutarakan opini dan keluh kesah, tapi ada juga yang menurut saya sudah enggak wajar lagi seperti curhat permasalahan rumah tangga, permasalahan sama suaminya yang entah kurang menafkahi, kurang afeksi, kurang tamvan, dan itu diumbar-umbar hampir di setiap momen, sampai dia balik mesra sama pasangannya pun saya jadi tahu. Woi! Orang-orang enggak perlu tau kali sama masalah keluarga lu!
- Si Motivator
Yang begini memang enggak banyak, tapi ada. Sering posting quotes-nya para motivator kondang macam Mario Teguh, atau kutipan-kutipan cantik dari sebuah buku. Karakter yang begini lebih baik sih daripada si curhat.
- Si Saya
Biasanya karakter yang seperti ini sering memposting cerita-cerita pribadi dirinya di masa lalu atau rencana hidup ke depannya, yang mungkin sekarang dia merasa hidupnya sudah sukses dan menganggap orang lain harus perlu mengetahui perjalanan dan lika-liku kehidupannya sampai saat ini yang mungkin bagi dia begitu inspiratif padahal hanya sebatas kerja staff biasa di perusahaan, sebagai pelaku usaha, atau akademisi di salah satu yayasan pendidikan dan pekerjaan normal dan umum lainnya. Kebanyakan karakter yang seperti ini memposting menggunakan awal kalimat "Saya dilahirkan dari keluarga.....", atau "Ibu saya pernah mengajarkan bahwa...", dan "Kalau saya ingat bagaimana orangtua saya dulu...." dengan beberapa paragraf panjang. Mungkin maksudnya perjalanan hidupnya udah layak dibikin autobiografi kali ya?
- Tipe Fanatik
Penggemar disini dikhususkan sama penggemar bola, ya, dan enggak heran jumlahnya banyak yang kayak begini. Tipe fanatik seperti ini paling sering share foto jadwal pertandingan nobar, berita bola, trus jago komentarin pertandingan bola, apa yang mesti dilakuin pelatih, pemain mana yang mesti di-press, dan paling sensi kalau jagoannya kalah. Saya yakin, penggemar fanatik seperti ini ada yang gak bisa main bola sebenarnya.
- Share Film
Saya sangat berterima kasih banget sama karakter yang sering mengunggah film-film apapun, karena merekalah saya bisa menonton Pengabdi Setan di Facebook. Makasih.
- Tipe Pebisnis
Media sosial jadi lahan bisnis untuk pelaku usaha itu sah-sah saja bahkan lebih praktis dan hemat, bahkan cara promosi-nya pun beragam, ada yang share di lapaknya bahkan di forum jual beli. Wajar dan normal, kecuali yang begini :
- Nge-Live
Saya adalah orang yang sama sekali enggak pernah pake fitur ini di media sosial, selain karena enggak punya kepercayaan diri untuk eksis dengan cara ini, juga karena merasa kurang penting untuk dikonsumsi pengguna lain, dan saya selalu salut sama orang-orang yang pake fitur ini sekalipun hanya mempertonton wajahnya di suatu tempat karaoke, menampakkan wajahnya dengan mic di depan bibir sambil nyanyi beberapa menit. Two thumbs.
- Tim Sukses
Berhubung pemilihan presiden sedang hangat-hangatnya, apalagi di masa kampanye begini menuju 2019, enggak bisa ditampik ada yang nomor 1 dan 2 bahkan netral atau golput. Kerjaan mereka saling sebar kebaikan jagoannya bahkan sebar kekurangan lawan yang mungkin mereka sama sekali menutup mata bahwa sudah menyebar hoax yang jadinya fitnah. Biarin ajalah mereka berantem, sisi buruk dari diriku menyukai keributan.
- Enggak Jelas
Pernah lihat orang yang posting sesuatu tapi caption-nya enggak nyambung? Pernah lihat akun yang posting foto selfie, tapi caption-nya puisi cinta? Atau posting aktivitas pekerjaan tapi caption-nya lirik lagu? Posting bakso, caption-nya drama? Orang karakter enggak jelas begini sasaran empuk buat Mas Tere kalau sembarangan ngutip.
- Rasis
Yang karakter begini adalah orang yang wajib di-block.
- Doyan Pencitraan
Karakter yang seperti ini dicirikan dari kehidupan nyata sama maya-nya yang enggak balance. Apalagi untuk teman dunia maya yang pada dasarnya kamu tahu dan kenal. Contoh sederhananya, sering posting pengen kurus, tapi posting juga banyak makanan enak. Sering ngeluh BBM naik, tapi nongkrong cafe superaktif. Sering posting ala-ala sosialita keceh tapi ternyata kehidupannya biasa saja, bahkan bisa kebalikannya sering ngaku anti kemapanan dan gaya hidup sederhana serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan, tapi realitanya kerja masih pake mobil, nongkrong di cafe lancar, teman kesusahan enggak dibantu, ada bencana enggak pernah jadi volunteer atau seenggaknya bikin donasi, barang temen enggak dikembaliin, hutang enggak dibayar. Karakter begini hanya a piece of shit, perlu ditendang jauh dari pertemanan nyata.
- Jomblo Desperate
Entah kalau kalian ya, tapi saya sering berjumpa sama yang posting soal kejombloan seperti "Lagi jomblo nih, enggak ada cewek apa disini?" atau "Aku pria yang setia, memang kerja cuma pas-pasan, tapi aku rela nerima perempuan yang apa adanya".
Ya kali si perempuannya mau apa enggak nerima situ apa adanya?
Karakter yang kayak begini terbilang jomblo desperate-nya kebangetan, ciri sederhananya sering messenger dengan sapaan "Hai" atau waving, berharap dibalas atau di wave back. Ciri utamanya cuma satu yang teramat sangat jelas mengetahuinya, kerjanya di PT. Mencari Cinta Sejati.
Itulah sedikit karakter pengguna jejaring sosial, memang bersosial media itu bebas mah sesuai kebutuhan si pengguna, tapi percayalah apa yang terlihat di media sosial sebenarnya bisa saja memang menggambarkan dirinya, sebagian dirinya, bahkan mungkin bukan dirinya yang sebenarnya.
Oia, setelah baca ini, apabila ada yang kurang berkenan, saya siap di-block.
Namaste.


Komentar