TIPE-TIPE ORANG ANNOYING DI SOCIAL MEDIA

Sebagai orang yang beberapa tahun silam ini menghuni dua dunia, saya percaya untuk memahami karakter seseorang bisa dicoba dengan cara melihat bagaimana sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, dan di zaman modern ini tentu kehidupan kita juga berpindah ke dunia maya.

Tentu saja saya tidak bisa menampik kalau dunia maya pun bisa menunjukkan karakter seseorang, sekalipun tidak menjamin karena memang ada orang-orang yang tidak persis sama sifatnya ketika berada di dunia maya dan dunia nyata, tapi ada juga yang sangat jauh berbeda. Misalnya, saya punya teman di facebook yang selalu update status dengan kelancaran jaya mengenai apapun, tapi saat bertemu ternyata tidak seaktif di facebook kok, malah malu-malu dengan sepatah dua patah kata seperlunya saja. *sekalipun dalam psikologis, sebenarnya itu adalah gangguan mental*

Jadi perlu diingat bahwa tidak semua orang yang dalam menunjukkan eksistensi dirinya dalam dunia maya itu selaras dengan jati diri dan karakteristik sebenarnya di kehidupan sehari-hari, karena bagaimanapun juga yang namanya dunia maya toh tidak ada jaminan keaslian seseorang sebenarnya. Dengan kata lain, dunia maya tidak bisa dijadikan patokan mengenai karakter seseorang karena dunia maya bernilai kebebasan dan bisa membohongi.

Sekalipun ada lho, orang yang merasa bahwa dunia maya adalah dunia yang bisa membuatnya unjuk gigi ketika dia tidak bisa mendapatkan tempat untuk menunjukkan jati dirinya di dunia nyata. Ada.

Bagi saya hidup di dua dunia itu menyenangkan sekaligus mengerikan. Bukan apa, banyak orang yang mendadak menjadi pakar dalam bidang apa saja untuk mengomentari berita atau informasi yang tersebar luar di dunia maya, contohnya mulai dari ayat-ayat kitab suci, perpolitikan, peperangan, sampai hal-hal aneh bin ajaib sekelas pohon pisang berjantung tiga atau kambing bermata satu sekalipun.

Saya sendiri menganggap dunia maya adalah ajang yang tepat untuk beropini dan mengeluarkan sampah-sampah saya baik yang sama alami, rasakan, maupun yang saya lakukan, dan itu bukanlah hal yang penting karena semua itu hanya sampah karena toh enggak ada fungsi apa-apa, kan, buat saya? Boro-boro.. apalagi buat yang baca. Sejatinya selain bisa menghubungkan saya pada teman-teman lama yang entah kemana rimbanya dan teman-teman baru di friend request dan mutual friend yang sebenarnya bikin saya bingung, social media tentu memberi kesempatan seluas-luasnya kepada saya dan para awam untuk berpartisipasi dalam isu aktual, terlebih bebas mengungkapkan ‘what’s on your mind?’.

Hanya saja kadang kebebasan yang tersedia begitu mudah untuk bersikap, beropini, berinteraksi, menyebarluaskan, dan berkomentar seperti tanpa batas, bagi sebagian orang mungkin tidak pernah mendengar bahkan memahami netiquette. Netiquette adalah etika berinteraksi di dunia maya, dan mungkin ada yang tahu dan mungkin ada juga yang tidak peduli bagaimana hubungan dan interaksi antar pengguna yang berlaku di dunia maya. Bagi saya di dunia manapun dalam kondisi apapun tentu ada batasnya termasuk berprilaku sesuai tanpa melawan norma-norma yang berlaku. Di dunia maya, norma itu hanya sebatas norma karena tentu saja dunia maya tidak punya rambu-rambu seperti traffic light mengingat di dunia maya orang-orang bisa beropini seperti tanpa pikir, meneriakkan pikiran mereka sesuka hati, mengabaikan pendapat orang lain dan golongan lain, suka menyumpah-serapah yang meledak-ledak dan liar dan rasis juga seksis, dan mudahnya mem-bully orang lain yang berbeda dengannya yang sering menimbulkan perselisihan dan perdebatan tidak penting tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain.

Masih ingat, kan, dengan bagaimana hebatnya Pemilu 2014 kemarin? Rasa-rasanya warga dunia maya juga terbagi tiga menjadi pendukung Prabowo, Jokowi, dan Golongan Putih. Saking hebatnya saya pun memaklumi dengan terjadinya blokir-blokiran pertemanan, karena efeknya sungguh-sungguh mempesona dan kalau diingat-ingat lucu sekali bagaimana hebatnya kekuatan kebodohan membuat orang-orang memutuskan hubungan pertemanan hanya karena perbedaan opini.

Saya membayangkan coba pendukung Jokowi dan Prabowo dikumpulkan di satu tempat, apa coba yang terjadi? Saya yakin mereka tidak akan beringas seperti di media sosial, saya sakin mereka akan rukun-damai saja apabila bertatap muka sekalipun bagi yang bodohnya kebangetan akan terus merasa keki sendiri sampai mati.

Tapi dibalik kemunduran yang terjadi di dunia maya, ada pula yang menggunakan social media sebagai ajang untuk menarik perhatian dan macam-macam sekali rupa-rupanya.

Saya memiliki beberapa aplikasi social media dan yang paling sering saya gunakan beberapa tahun ini adalah twitter setelah sering bosan dengan facebook yang menurut saya rasa peran facebook dibalik hegemoni aspek positifnya tampaknya disalahgunakan para penggunanya dan beralih menjadi media yang digunakan dengan sedikit ngaco dan kurang terkendali sekalipun masih nge-trend ketimbang social media lainnya, sehingga membuat social media sungguh annoying dan tidak sedap dipandang. Ada beberapa tipe pengguna social media yang annoying yang bisa ditemui, seperti ini misalnya:

Tipe Pamer Kegalauan
Yang paling sering ditemui di social media adalah pengguna dunia maya yang memamerkan kegundahan hatinya. Bisa dimaklumi kalau sekali dua kali, tapi kalau setiap kali buka facebook dan melihat statusnya itu-itu mulu jelas terasa sekali pahitnya seolah-olah dia adalah makhluk paling merana di dunia ini.
Saya jadi teringat dengan percakapan lucu teman saya kepada temannya. “Lu lagi galau, ya?”
“Kok orang-orang nanya gue galau terus, ya? Kenapa, sih?” balas temannya.
“Lha orang enggak bakal bertanya kalau elu enggak pamer kegalauan di facebook.”
Pada kenyataannya, orang lain sebenarnya tidak terlalu peduli kesedihan apa yang terus-terusan di-status-publikasikan, ketika kesedihan itu benar-benar layak mendapatkan empati tentu orang lain akan bereaksi, tapi kalau hanya kegalauan macam lagu-lagu melayu yang cinta melulu dan mendayu-dayu dan keseringan tentu bagi orang lain itu hanya sebatas cari perhatian saja dan mengganggu.

Tipe remaja tanggung alay
Tipe ini sangat mudah diidentifikasi, saya yakin di timeline anda pernah menemukan yang seperti ini. “4Qu k35epi4n, m4L4M m!n99u !n! k3L48u.”

Tipe Spam
Pernah tidak ditandai sebuah informasi berita, foto, link, bahkan akun orang lain yang tidak ada kaitannya dengan anda baik yang sedang anda bahas maupun tidak?

Karena saya adalah orang yang paling gesit me-remove tag dengan postingan yang sering tak penting dan mengganggu kebersihan timeline saja. Apalagi ketika postingan tersebut berunsur SARA dan pornografi yang sangat tidak layak dipublikasikan.

Anonymous
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, social media adalah kebebasan yang sangat mudah didapatkan di zaman se-cyber ini, hanya mendaftarkan alamat email gratis, identitas pribadi yang tentu saja bisa saja jujur bisa saja bohong, pasang foto—yang lagi-lagi bisa foto sebenarnya atau jujur, yang tentu saja dedek-dedek sekolah dasar pun sangat lancar menggunakannya.
Tapi tentu kebebasan yang lancar jaya ini tidak menutup kemungkinan tumbuh-kembang-adanya pengguna-pengguna anonim sekalipun namanya Abdullah tapi profile picture-nya Christiano Ronaldo. Fenomena anonim ini sangat menjamur dan paling sering tidak paham netiquette karena suka berkomentar seenaknya. Jelas mereka yang pengecut berada dibalik topeng anonim tentu merasa fun-fun saja, tapi sebagai pengguna media sosial yang nyata tentu saja itu sangat menyebalkan.

Tipe Marketing Product
Tidak heran bila zaman kekinian social media tidak hanya menjadi ajang pertemanan antara manusia dengan manusia yang lain, tapi juga sebagai sarana berdagang yang lebih praktis dan simple ketimbang kita harus berkendara keluar rumah menuju mall terdekat untuk berbelanja, sekalipun sebenarnya bedanya hanya goceng-gocengan. Hanya saja, terkadang para pelaku dagang sering lupa bahwa dengan keseringan tag bahkan share produk jualan tentu itu much annoying bagi orang lain dan terkesan memaksa. Bagi saya pribadi akan sangat kurang ajar sekali ketika ada yang jualan produk obat langsing dengan bahasa yang diskiriminatif terhadap mereka yang bertubuh tambun.

Sebagai orang yang memiliki banyak teman bertubuh tambun tentu saya merasa tersinggung. Dengan cara promote seperti itu tentu saja bukan mengajak orang untuk membeli tetapi mengajak orang berantem. Tipe yang seperti ini nyaris serupa seperti jika anda pernah jalan-jalan ke tempat wisata di Yogya atau Bali dan bertemu dengan gerombolan ibu-ibu yang berjualan-apalah-itu dan mendekati anda dengan tampang melas dan menyodorkan jualannya sampai ke muka anda, dan setelah mau tak mau anda beli dengan terpaksa, dia menyodorkan benda-benda lain dan lebih beringas lagi menjualnya. Pernah?

Oke, memang cara orang-orang dalam mengais rezeki itu berbeda-beda dan tidak boleh dipukul rata, selagi memang masih menggunakan cara-cara yang halal, wajar, dan sopan, tanpa memaksa tentu saja akan sangat mudah dihargai orang lain.

Idiot Lover
Entah mungkin apa saya saja yang melihat wujud nyata dari stupid cupid atau love is blind, tapi fenomena ini seringkali saya lihat di facebook yang saya gambarkan keterwakilan dari idiot lover. Idiot lover adalah mereka yang in relationship suka update cinta-cintaan dan kemesraan dengan bahasa sastra yang mengalahkan romantisme kahlil Gibran yang mungkin semut saja mati sia-sia karena kemanisan mendengarnya.

Oke satu hal yang benar adalah romantisme itu penting dalam sebuah hubungan, sangat penting sekali, tapi ketika ditunjukkan dengan cara yang terlalu berlebihan seperti wall to wall di facebook esensinya sudah menyimpang. Tujuannya apa lho ini? Ngasih tahu perasaan sayangnya pada pacarnya? Perlu gitu di facebook? Ketika masih ada ranah messenger yang lebih private dan relevan seperti SMS, email, BBM, whatsapp tentu akan lebih bijak jika mengunakan media itu. Ketika dilakukan di social media, lagi-lagi jangan salahkan orang lain ketika itu mengesankan meminta perhatian, like, dan dikomentari dari orang lain semata.

Yang lebih celakanya lagi adalah ketika capture-an chat yang dipublikasikan. 
Yakinlah tidak semua orang yang menganggap itu adalah romantisme dan sweet, tapi bagi saya yang jijik sekali dengan orang-orang yang suka PDA (Public Display Affection) menganggap bahwa selalu ada batas tipis antara ketidakdewasaan dan dungu.

Tipe Arbitrary Action
Tipe ini menggambarkan ketidakkonsistenan orang terhadap apa yang dia hadapi dan dia rasakan. Bahasa sederhananya adalah mudahnya seseorang bergonta-ganti status setiap selang menit-jam dengan status yang berbeda-beda seperti dari sedih ke senang, senang ke marah, marah ke heboh hahahihi, hahahihi ke share link berita terbaru.

Pernah ketemu?

Tipe seperti ini sebenarnya adalah tipe yang patut dikasihani, bukan apa, bagi saya tipe seperti adalah tipe yang sebenarnya menyembunyikan kesepian dan kesendiriannya. Jika saya salah, kemungkinan yang lain adalah tipe seperti ini sebenarnya menunjukkan gangguan mental macam bipolar bisa jadi schizophrenia.

Tipe Fanatisme
Tokoh sosiolog terkemuka Baudrillard memperkenalkan pada dunia mengenai Hyperreality kedalam bukunya Simulacra and Simulation. Hyperreality atau hiperealitas adalah ketidakmampuan kesadaran manusia membedakan kenyataan dan fantasi, khususnya dalam kehidupan saat ini. Hiperealitas dalam diri manusia ditunjukkan ketika sebuah produk atau seseorang sudah dianggap sangat mewakili dan menyinonimkan dirinya termasuk status sosial, kecerdasan, gaya hidup, padahal sama sekali tidak ada hubungannya.

Pernah punya teman di facebook yang selalu share info band favoritnya? Klub sepakbola terbaiknya lengkap dengan fansclub-nya?

Tipe fanatis ini merasa hidupnya selalu lebih menyenangkan seolah-olah dia memasuki kelompok yang dia anggap mewakili dirinya yang sebenarnya, terlebih selalu pamer apapun dan meminta pengakuan orang lain sekalipun sebenarnya mereka sama sekali tidak layak disamaratakan dengan apa yang mereka idolakan. Saya punya teman yang sangat fanatik dengan salah satu klub sepakbola, saking cinta matinya pernah-pernik klub apapun dalam bentuk apapun dia punya, dia pun tergabung dalam fansclub tersebut, di social media selalu sharing all anything about passion-nya, tanpa peduli pada kenyataan dia sendiri tidak bisa bermain bola.

Contoh lain yang lebih parah adalah ketika saya melihat bagaimana mudah dan gampangnya orang-orang merendahkan dan menghakimi keyakinan orang lain di social media. Share link yang katanya islami tapi bacaannya bersifat mencemarkan nama baik, propagandis, mengadu domba, dan jauh dari islami. Saya hanya bisa geleng kepala ketika orang-orang mudah sekali menunjuk seseorang dan bilang ‘kamu kafir’, ‘kamu syi’ah’, ‘kamu JIL’ dan ‘kamu komunis’, macam dia saja yang benar dan orang lain salah, macam dia saja penghuni surga, yang lain adalah penghuni neraka. Satu hal yang pasti adalah dengan keseringan share info atau link mengenai agama tidak membuat orang lain berpikir bahwa anda beragama--ahli agama--yang perlu didengar kata-katanya, tidak begitu kok, dengan anda keseringan menebar kebencian terhadap agama lain tanpa tabayyun dulu justru dianggap orang lain anda hanyalah bagian dari kaum fanatik buta-tuli yang berpikiran sempit.

Contohnya di facebook saya ada yang sangat rasis mengomentari era Ahok menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta, dan Syiah yang tumbuh kembang di Jawa.

Bagian dari social media yang sangat anggap menakutkan itu adalah bagian ini, karena di dunia yang semakin modern  realitas tampaknya sudah mati, yang tersisa adalah persepsi. Jangan heran ketika orang-orang yang tidak kenal anda, follow atau tidak follow anda di social media,tapi sudah berani mengomentari kasar, mencaci maki, dan menghina, karena hiperealitas sudah mengaburkan batasan antara nyata dan fantasi, batasan antara kebenaran dan tidak. Jangan heran ketika Jokowi terus di-bully, dan dicaci maki di social media tak peduli apa yang sudah dilakukannya, pembangunan apa yang sudah dikerjakannya, karena orang-orang berpikiran sempit terlalu sibuk pada persepsi yang dia bentuk sendiri tanpa pernah mau mencari kebenaran dan sisi positif.

Jadi situasi seperti ini membawa kita pada situasi punya banyak teman di facebook, tapi tidak punya sahabat di kehidupan nyata. Era yang semakin banyak membagi informasi, tapi semakin jauh dari fakta dan kebenaran. Makin merasa ilmunya lebih tinggi tapi makin emosional dan defensif. Makin bebas, makin salah dipergunakan, makin rame.. makin annoying sehingga perlu kecerdasan dan pemahaman yang cukup tinggi untuk menghadapi tipe-tipe pengguna social media seperti itu.

Komentar

Postingan Populer