SARJANA YANG WAJIB DIBULLY

Yayasan Aldiana Nusantara (YAN) sekejap saja fenomenal dan jadi trending topic karena mewisuda lebih dari 1.000 mahasiswa dari perguruan tinggi di bawah naungannya, seperti Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telematika, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha, serta Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Suluh Bangsa.

Dikatakan kampus abal-abal tentu bukan tanpa alasan, sekalipun para mahasiwa yang mengemban pendidikan disana mengatakan mereka belajar dengan normal setiap hari, bayar SPP, menghadap dosen di kelas, persentasi dan bikin tugas dsb seperti mahasiwa normal lainnya, masalahnya adalah acara wisuda itu tanpa izin dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta dan tidak melapor ke pangkalan data pendidikan tinggi, dan.. (catet) satu-satunya universitas yang memiliki izin melakukan pembelajaran jarak jauh di Indonesia hanyalah Universitas Terbuka (UT), dan UT tidak ada hubungannya dengan YAN.

Hebatnya modus wisuda abal-abal ini telah berlangsung selama tiga tahun. YAN seolah-olah membuka kelas jarak jauh sampai ke luar Jawa, namun tidak ada proses belajar mengajar. Hal-hal sepenting Nomor Induk Mahasiswa pun tak ada. Padahal sebagai mantan mahasiswa dulunya saya bangga sekali memiliki NIK sebangga saya dengan almamater saya.

Lagipula ya ini biaya kampus sebesar Rp. 15 juta, kemudian membuka kelas jarak jauh di Jawa, Sulawesi Selatan, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, Namun tak ada proses belajar-mengajar, bahkan untuk mengikuti wisuda, peserta kelas mesti datang ke Jakarta dan membayar Rp. 15 juta.
15 juta bo.. kalau saya daripada ngasih 15 juta cuma buat wisuda mending saya beli motor matic trus ngelamar di Go-Jek. Done!

Saya sempat lihat di Prime Time MetroTV, sewaktu penayangan wawancara mahasiswa yang diwisuda sempat salting dan bingung pas ditanya dimana kampus tempat dia belajar dan berapa IPK-nya. Saya kurang paham ya kenapa dia enggan menjawab, kalau saya jadi dia justru saya jawab dengan lantang apalagi saat dia nanya IPK. *sombong*.

Masalahnya kampus saya dulu tidak dikatagorikan abal-abal, udah negeri itu kok masa abal-abal, hanya saja para pengajarnya saja sewaktu saya masih jadi mahasiswa disana selalu menekankan bahwa setelah lulus jadilah pioneer pembangunan untuk membuat lapangan kerja bukan PNS melulu, tapi sekarang setelah bertahun-tahun saya lulus malah pengajarnya mogok kerja karena tidak di-PNS-kan.

Oke. Oke. Kampus saya itu urusan lain. Kita lagi bahas yang abal-abal ini.

Sebenarnya, fenomena ini miris dan lucu lho. Mirisnya adalah kasian lihat para mahasiswa yang sempat dan masih mengenyam pendidikan disana, yang tujuannya untuk one step closer menggapai cita-citanya dengan jurusan yang dia tekuni (dan mungkin dia minati) yang mungkin bisa diimplementasikan untuk orang banyak di masa depan nanti. Kan malu ternyata kampusnya abal-abal? Capek-capek kuliah 3,5 tahun ternyata abal-abal. Dalam kurun itu sekalipun bisa macarin anak teknik, anak tambang, anak hukum, anak listrik, anak ikan, dan anak laut, nama besar dan kredibilitas kampuslah yang paling urgensi untuk selembar kertas ijazah dan transkrip nilai. Memang sih, kamu-kamu yang anak UI, UGM, ITB, UNY calon sarjana maupun pascasarjana itu kredibilitasmu sebagai mahasiswa atau alumni belum tentu sebaik dan se-oke nama besar kampus kamu. Jadi jangan sombong nan songong dulu karena bisa mondar-mandir di kampus bergengsi. Paham, kan? Jadi percuma saja kamu mau lulusan Hukum UI kek atau Sosial di UGM kek atau Harvard University kek atau-atau lainnya kalau sikap kamu macam mahasiswa tanggung tipe sok aktivis hobi turun jalan dan macam baru ketemu roh Karl Marx tapi masuk ranah pekerjaan aja belum pernah tapi udah sok-sok teriak bela hak kaum buruh? Ndasmu congkak.

Bicaralah tentang buruh dan kapitalis kalau kamu udah masuk dunia kerja. Nanti juga kamu tahu bacot-bacot sosialis idealis kamu itu cuma kentut doang.

Seperti kata dosen saya dulu: praktek lebih penting daripada penguasaan teori. (Sekalipun kebanyakan dari mereka kelihatan cuma omdo karena sama sekali bukan praktisi).

Kalau bagi saya : just show it, don't tell.

Anyway.. Yang lucu dari fenomena ini adalah  tentunya sekalipun bersimpati sama mereka-mereka yang bersekolah di kampus abal-abal, tapi enggak ada larangan juga kan buat saya tertawakan? Lagipula sekalipun informasi yang didapat bahwa orang-orang yang bersekolah disana berasal dari kelas ekonomi lemah. Well.. peduli amat.

Terlepas mereka berasal dari baik kalangan kelas menengah ke bawah maupun kelas menengah ke atas, kalau punya niat bersekolah yang bener tentu ada jalan. Tapi tergantung niatnya juga ya. Kalau niatnya memang hanya mau gelar doang biar merasa kelas sosialnya naik satu tingkat dipandang orang lain ya apa mau dikata.  Saya aja dari kalangan kelas menengah saja bayar semester 3,5 juta beratnya pengen nungging nangis-nangis, lha itu 15 juta setahun? wisuda juga 15 juta?
Speechless kan?

Saya merasa berhak tertawa karena fenomena memalukan jni dan emoh selalu mengkambinghitamkan pemerintah tentang sistem pendidikan kita. Ini bukan soal bagaimana pihak berwajib di dunia pendidikan kita kecolongan dengan adanya kampus abal-abal begini, tapi bagaimana mental manusia-manusia memperoleh pendidikannya itu lho.

Ya semua orang mau berpendidikan tinggi, berlomba-lomba untuk bikin otak yang semula Patrick Star jadi sedikit-sedikit mendekati yaa.. Spencer Reid 'Criminal Minds' lah sekalipun tidak mencapai Albert Einstein. Semua orang pengen mendapatkan ilmu pengetahuan sekalipun ada orang yang pengen dipandang macam orang berilmu. Kenyataannya gelar tidak melulu 'harus' sebagai bentuk pencapaian apakah manusia itu sukses apa tidak, misalnya seperti sang fenomenal ibu Susi Pudjiastuti yang mengaku dengan dia hanya lulusan SMP tentu kerja kerasnya sepuluh kaki lipat dibandingkan mereka yang bergelar.

Yang pasti banyak cara orang untuk memperoleh kesuksesannya dengan macam-macam pertaruhannya.

Ketika kuliah, tujuan orang tentu macam-macam kenapa dia kuliah, kan? Bisa jadi dia memang mencari ilmu dan kepengen banget jadi dosen sesuai cita-citanya, bisa jadi juga dia kepengen mudah dapet kerjaan sekalipun ujung-ujungnya jurusan fisika murni-nya tidak bisa diimplementasikan di Finance.  Bisa jadi untuk menghindari menganggur, kan? Bisa jadi wujud social pressure, atau tekanan keluarga dan lingkungannya. Bisa juga biar tidak dianggap sebagai golongan mantan cabe-cabean. Bisa jadi juga untuk memperkaya pengalaman bercinta.

Bisa jadi. Bisa jadi.

Memang tak elok mengolok-olok kampus abal-abal yang mengeluarkan sarjana abal-abal juga. Toh di kampus yang kredibilitasnya cukup-baik dan aman-aman saja nama besarnya pun memiliki beragam macam tipe mahasiswa. Ada mahasiswa yang terobsesi pada copy-paste tugas di Internet, ada mahasiswa yang copy-paste tugas temennya dan mengancam hubungan pertemanan, ada juga yang sering terlambat masuk kelas seperti saya, ada juga mahasiswa yang ngerjain tugasnya sendiri yang seharusnya dikerjakan secara kelompok karena bernasib sial satu kelompok dengan kelompok hahahihi, ada juga yang membayar orang lain untuk mengerjakan skripsinya, ada juga yang membeli ijazah. Macam-macam banget.

Tapi kebangetan itu bagi yang bodoh-kaya-malas-miskin bisanya cuma beli gelar. Keenakan dan wajib ditertawakan.

Pendidikan tinggi enggak melulu memilih mereka yang berduit daripada yang enggak berduit. Itulah kenapa selalu ada beasiswa teruntukkan bagi mereka yang kurang mampu sekalipun ada juga yang kaya tapi ya sesuai kandungan kepintaran di otaknya lah. Kalau miskin tapi bodoh dan malas, mau ikut beasiswa apapun tetap enggak jebol.

Sekalipun ada pendidikan tinggi yang melakukan hal serendah ijazah dihargai pake duit. Memang diantara kita yang berada di golongan kelas menengah yang belajar tinggi-tinggi hanya demi gelar, bahkan untuk memenuhi ekspektasi orang tua, ada juga yang lulus sarjana tapi malu menganggur akhirnya memilih S2, dan ada ilmunya pun nggak bermanfaat sama sekali untuk orang lain—malah tidak banyak yang ilmunya berpengaruh mudarat bagi orang banyak, dan tidak bisa diemplementasikan sesuai bidang keilmuannya di tempat kerja.  Setidaknya fenomena-fenomena kebanyakan itu lebih baik dan SANGAT jauh lebih baik daripada membuang uang banyak hanya demi gelar kesarjanaan yang dibeli sekejap.

Bukan salah teman saya juga ya yang jurusan sosial kerja jadi customer service bahkan marketing bank. Bukan salah teman saya juga ya yang lulusan hukum tapi jadi manager di sebuah perusahaan swasta. Bukan salah mbak saya juga ya yang lulusan fisika jadi admin kredit di bank. Lha nasib yang ngatur siapa? Maha Suci Allah ding. 

Persoalan keilmuan yang saya, kamu, teman-teman kita pelajari di kampus nggak berguna itu urusan nanti, urusan lain. Memenuhi kebutuhan ekonomi itu lebih dari sekedar persoalan implementasi keilmuan di dunia nyata, hidup itu bukan sekedar meraih cita-cita tapi juga pengalaman sebanyak-banyak (duit juga sebanyak-banyaknya).  Bukan salah itu semua, tetap saja yang salah itu yang membeli gelar, dan itu tidak bisa ditolerir.

Saya tidak manusiawi?
Saya tidak humanis?
Yang tidak manusiawi humanis itu para pembeli gelar yang nyaman kali hidupnya tanpa pernah merasa ikut semua proses belajar rumit-senangnya kehidupan di kampus?

Saya iri. Jelaslah. Mereka ngerasa tidak jadi saya yang sekelompok sama kelompok hahahihi yang mau tak mau saya melulu yang bikin tugas? Mereka merasa tidak jadi saya yang menganggap harga selembar kertas a4 print 1000 rupiah itu mahal? Mereka merasa tidak jadi saya yang Kuliah Kerja Lapangan ketemu dukun Suku Lom yang ternyata juga dukun santet dan hampir disengat kalajengking di hutan? Mereka pernah tidak merasa hidup kering kerontang semasa KKN? Tidak, kan?
Jadi wajar dong, mereka-mereka yang berotak praktis dan tidak pengen susah itu dibully. Saya lebih menghargai mahasiswa juru kunci yang IPK-nya tidak sampai 2 koma, karena membeli gelar sama memalukannya dengan jadi PNS tapi nyogok.

Terserahlah saya mau dibilang sok sarjana, sok pinter, kurang berempati. Peduli amat. Yang jelas saya merasakan secara nyata hak dan kewajiban sebagai penuntut ilmu dengan kerja keras untuk pencapaian satu gelar itu. Saya merasakan bagaimana susahnya orangtua saya di masa-masa itu dan bersungguh-sungguh adalah wujud hormat saya kepada orangtua. Lha mereka? Cuma bayar 15 juta doang langsung S-1/S-2. Kan anjir. Lucunya sarjana abal-abal ini dibela pula sama mahasiswa sok aktivis macam anak kemarin sore. Mana suara mahasiswa tanggung sok Marxian yang membela kelas menengah ke bawah? Mana suara mahasiswa yang idealis sosialis yaang tahunya cuma teriak doang? Mana? Mana?

Situ mau membodohi siapa sih? Situ pejabat? Belagu amat beli gelar biar dipandang wow gitu? Salah siapa yang enggak pinter? Ralat.. Salah siapa yang enggak gigih? Kalau begini nih sama juga dong macam sapi, enggak perlu masuk kelas, tinggal didandanin, dipakein dasi dan toga, selesai. Jadilah... Sapi, M.Si.

Komentar

Unknown mengatakan…
hahahah,,

Postingan Populer