MENTAL KITA MENTAL MAJIKAN?

Saya percaya sebuah karakter yang menggambarkan diri seseorang besar-kecilnya ditunjukkan dari kebiasaan kita sehari-hari.

Seperti saya yang dibilang rendah hati tapi suka nyinyir ini  keseringan ketinggalan dompet, kunci motor, handphone, dan helm. Bukan hanya itu, saya juga sering lupa nama jalan dan nama orang yang familiar di mata saya sekalipun orang itu satu meter di hadapan hidung saya.

Ya, saya orang yang ceroboh dan pelupa. Saya akui itu, karena kebiasaan yang tanpa saya sadari lakukan ditambah lagi dengan kebodohan saya yang sering kurang mampu belajar pada pengalaman sendiri serta merta bikin saya maklum dengan karakter saya itu, sekalipun saya juga suka sebel sendiri dengan konsekuensi atas ceroboh dan pelupanya saya.

Dari ceroboh dan pelupa, saya suka kebersihan tapi bukan pelaku kebersihan. Maksudnya gimana ini?

Jadi begini maksudnya, beberapa minggu yang lalu saya dengan 'teman' saya makan di KFC, kemudian mencari tempat duduk dan seperti biasa, banyak meja yang kosong tapi kotor dengan sisa makanan dan minuman yang dibiarkan tergeletak di meja. Menunggu petugas kebersihannya tentu tidak singkat, maka kami pun hanya bisa menghela napas berat dan jengkel.

Yaiyalah. Siapa yang mau membersihkan sisa makanan orang lain, kecuali mereka yang bertugas/bekerja di posisi bersih-bersih itu, kan? Ya, kan?

Tapi di hari itu entah ada angin apa yang bikin kami melakukan kerjaan petugas kebersihan, kami meletakkan piring dan sisa-sisa sampah tisu dan minuman ke atas tray (baki), mengusap meja dengan tisu bersih, dan menyodorkan tray ke petugas kebersihan yang memandang kami dengan penuh maaf dan takjub secara bersamaan.

Bukan dia saja yang takjub, saya juga sih ya, tapi saat itu saya mikirnya kami sedang dikendalikan oleh : 1). KFC sedang crowded banget, anak-anak hahahihi dimana-mana, meja full dan yang kosongnya enggak bersih, dan pegawainya terlalu sibuk disana-sini. 2). Bawaan lapar. 3). Dirasuki arwah pengidap OCD.

Oke. Yang ketiga itu ngaco banget ya.

Tapi di beberapa minggu kemudian, kami balik lagi ke tempat itu, dengan kondisi dan situasi yang sama. Crowded. Dan lagi-lagi kami membersihkan meja kosong yang masih ada sisa sampah itu dengan inisiatif karena lagi-lagi kami tidak menemukan batang hidung abang-abang yang bertugas untuk membersihkannya.

Sehabis makan entah mungkin karena refleks saya meletakkan piring-piring kami ke atas tray kemudian membersihkan meja yang bernoda saus dan cairan cola lalu mengusap mulut saya dengan tisu baru dan meletakkan ke dalam tas, setelah itu saya beranjak dan bilang "Pulang yuk".

Dan teman saya langsung terheran-heran melihat saya trus nanya, "Itu kenapa kamu bersihin meja coba?"

Lama saya menjawab karena saya pun memperhatikan meja sambil bingung sendiri, "Enggak tahu" jawab saya akhirnya.

"Kalau mau makan pas meja kotor okelah inisiatif, tapi kalau udah makan kan kita enggak perlu begitu, ada pegawainya yang ngelakuin tugasnya, dia digaji untuk itu".

Saya diam, sebuah pemikiran melesat di kepala sambil ngomong dalam hati, "Dan mungkin itulah yang dipikirkan oleh orang yang meninggalkan sisa makanan di meja yang kami bersihkan ini".

Dulu saya memang termasuk orang yaaaa tidak peduli soal itu, sampai suatu saat saya ingat kembali ketika beberapa kali makan di 7-Eleven (Sevel) atau McD, saya selalu menemui sampah bertebaran di meja, kursi, bahkan lantai. Meskipun ada tulisan warning macam "Sampah Harap Dibereskan Sendiri", tetap saja area meja makan terlihat mess dan kotor. Alhasil.. kami hanya bisa bersihin sendiri mengingat Sevel pun bahkan enggak seeksklusif fast food  lainnya yang karyawannya cukup banyak sekalipun tidak mencukupi.

Sayangnya, saya ingat sepulang dari Sevel kami tetap meninggalkan sampah sisa makanan kami diatas meja. Dipikir-pikir saya edan juga jadi manusia. Mengeluh kelakuan orang lain tapi lupa pada kelakuan sendiri.

Hal ini jadi buah pemikiran saya tanpa terkecuali karena yang sering saya jumpai di restoran fast food lainnya banyak sekali yang meninggalkan bekas makanan mereka di meja, tulang ayam berserakan, saus sambal berceceran es mencair disana sini, lelehan es krim, hingga basah bercak minuman dingin yang membuat meja menjadi licin dan berminyak. Entah bagaimana dengan orang lain, tapi melihat kondisi meja seperti itu mempengaruhi selera makan saya.

Karena pemikiran sesederhana itu akhir-akhir ini, saya selalu berusaha untuk mengubah kebiasaan makan saya dengan menyatukan piring, mengumpulkan tissue atau sampah plastik di piring yang lain menumpuk piring yang kotor jadi satu, lalu meletakkan semuanya di tray yang tersedia, sehingga mudah untuk membereskannya. Dan supaya yang nanti menggunakan meja itu tidak ilfeel tentunya. Itu kalau sendirian, kalau sedang makan bareng teman, saya hanya membersihkan bagian saya sendiri karena perilaku  saya itu pernah dicemooh, "Ngapain dibersihin, Rin? Bukan tugas elu woi"

Ya enggak papa lah, karakter orang lain kan beda-beda, diingetin tapi tidak berefek kan tidak harus bikin kita jadi duta kebersihan yang kekeuh mengubah pola pikir orang lain, karena sesungguhnya ya.. sungguh cemoohan sejenis itu pernah saya lontarkan kepada ibu saya bertahun-tahun yang lalu---yang sibuk membereskan piringnya tanpa beban dan ikhlas sampai jawaban polosnya bikin saya geleng kepala. "Biarlah, enggak enak nanti sama yang duduk disini".

Kepolosan ibu saya itu seperti baru saja menampar saya secara tidak langsung, dan  terasa sering tamparannya kalau ingat masa-masa itu, hingga saat ini.

Saya langsung mikir, bagaimana kehidupan di rumah saya tentang tanggung jawab pada kebersihan yang diterapkan oleh orangtua saya pada anak-anaknya. Dulu, ketika masih sangat muda, kami empat saudara setiap hari bergiliran mencuci piring. Bagi saya itu momen yang asyik karena saling bantu-membantu, ada yang mencuci, membilas, dan menyusun ke rak piring, sekaligus bisa mempererat ikatan sisterhood (halah ini), sampai akhirnya saya beranjak SMA, dan tinggal 2 saudara di rumah, Bapak saya mengubah budaya mencuci piring kepada keluarga kecilnya dengan pola yang kalau saya percayai lebih menunjukkan bagaimana wujud tanggung jawab pribadi yaitu dengan membersihkan piring, gelas, serta urusan pribadi di dapur secara masing-masing.

Jadi saya bertanggung jawab dengan perabotan di dapur yang saya gunakan termasuk dalam membersihkannya langsung sehabis makan. Yang sungguh efektif hingga sekarang.

Berhubung di rumah tidak ada pembantu, dan juga tidak ada yang berstatus majikan, tentu saya sadar bahwa Bapak saya mencoba menerapkan kepada anak-anaknya untuk tidak harus selalu bermental  'majikan' termasuk di ruang lingkup yang paling membentuk karakter diri yakni keluarga. 'Mental majikan' seperti sepanjang ada orang lain yang menurut kita sudah dibayar untuk membersihkan, kita merasa tidak berkewajiban membersihkan piring/meja kita sendiri. Bahkan kita merasa rugi dan beban jika harus melakukan itu, karena sudah orang lain yang diupah untuk melakukannya.

Tentu saja hal itu sering terjadi pada tipikal kelas menengah/atas yang terbiasa memiliki PRT.

Saya pikir Bapak saya mencoba untuk menggunakam cara-cara sederhana yang sebenarnya untuk menunjukkan seberapa tanggung jawabnya sih anak-anaknya pada tindakan sesederhana mencuci piring mereka?

Saya pun jadi ingat sama perkataan TV-Host ternama di Indonesia, cowok, kocak, yang juga seorang komika beken yang juga memiliki kisah yang nyaris sama seperti yang saya alami tentang 'tanggung jawab' dan 'mental majikan'. Dia keheranan melihat ibunya membersihkan daun-daun kering di taman backyard  dan memotong rumput di rumahnya, sampai-sampai akhirnya dia celetuk, "Ma, kenapa Mama bersihin taman sih? Kenapa Mama nyapu, kan udah ada pembantu sama tukang kebun buat bersihinnya?"

Mamanya cuma jawab, "Ini kan rumah kita, jadi kita yang bertanggung jawab sama rumah ini, bukan mereka, pembantu sama tukang kebun cuma bantu tugas Mama aja"

Dianya jleb, saya juga ikutan jleb dengernya.
TV Host itu jadi mengatakan bahwa mungkin sebenarnya 'mental majikan' ini juga terjadi di aspek kehidupan kita diluar sana, tidak hanya di restoran siap saji, tidak hanya di rumah, dari hal sesepele membuang sampah sembarangan dari mobil/motor kita, karena merasa toh ada 'tukang sapu jalan', sampai hal-hal serius seperti politik dan ekonomi kita. Kita selalu merasa bahwa harus ada orang lain yang membersihkan kotoran dan sampah kita. Seperti kita yang selalu paling cepat mencerca presiden, menteri, gubernur, lurah bahkan guru jika kita merasa mereka tidak mengerjakan pekerjaan mereka, karena kita merasa sebagai orang yang berhak dilayani karena sudah membayar pajak. Kita menyalahkan pemerintah tidak serius dalam menanggulangi banjir, lha yang koar-koar ngeluh malah selalu buang sampah ke kali. Rupiah melemah, nyalahin pemerintah lagi dibilang tidak becus menangani masalah perekonomian negara, yang ngeluh koar-koar malah keranjingan belanja dan nongkrong macam remaja tanggung. Sarap, kan?

Dipikir-pikir lagi kita seperti selalu mengharapkan pelayanan yang baik dan kita berhak sesuka hati karena kita sudah bayar.

Siapapun mengharapkan pelayanan yang baik, tapi tanpa kita sadari rasa sesuka hati kita itu mengganggu orang lain. Iya kita berhak mendapatkan pelayanan yang ramah dari pramusaji restoran, ditawari alternatif menu yang sesuai, dan pesanan yang diantarkan dalam waktu yang cepat sesuai uang yang kita keluarkan. Itu adab yang umum yang bisa kita terima mengenai hak kita sebagai pembeli. Hanya saja, cara meninggalkan piring bekas makan, cara membuang sampahnya, they are a reflection of us as a person, ada kalanya juga feel like not well-educated person. Apakah dengan membayar sekian puluh ribu rupiah lalu kita boleh saja seenaknya meninggalkan tulang ayam di meja? Apakah dengan membeli hotdog di Sevel lalu kita bisa seenaknya meninggalkan jejak saus tomat dan mayonnaise-nya di meja?

Yakinlah meletakkan lengan kita di meja klimis itu saja kita sudah risih luar biasa karena terbayang joroknya.

Sekali lagi saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya bukan pencinta kebersihan, atau memiliki masalah kejiwaan mengidap Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD. Penderita OCD yang kerap mengalami sebuah obsesi tertentu terhadap suatu hal yang kadang membuat mereka terlalu berhati-hati dalam bersikap. Misalnya saja obsesi untuk menjaga kebersihan, obsesi dalam hal kerapian dan lain sebagainya.

No, I guess is not me at all, saya cuma terobsesi pada rak lemari buku dan meja rias saya yang harus dalam keadaan bersih dari debu yang selalu saya bersihkan setiap malam. I guess I don't have problem (sick).

Anyway. Hal ini membuat saya menganggap budaya membersihkan sisa makanan sendiri di restoran fast food memang belum umum di negeri ini. Saya pernah membaca artikel bahwa di Australia, restoran fast food (seperti McDonalds, Burger King, dll), pengunjung membersihkan sendiri mejanya setelah makan. Minimal sekedar membuang semua bungkusan, gelas kertas, dan sampah lain ke dalam tempat sampah yang sudah disediakan.

Jika di negeri ini perilaku itu memang belum dibiasakan. Mungkin banyak dari kita yang masih menyamaratakan perilaku di restoran biasa, di mana makanan diantarkan dan dibersihkan oleh waiter/waitress, dan restoran fast food, di mana kita mengambil sendiri makanan dan (seharusnya) membersihkan sendiri juga untuk pengguna meja berikutnya. Sevel di Amrik tidak serepot Sevel disini yang tampak berusaha mengedukasi hal ini dengan menempelkan tulisan di setiap meja untuk membersihkan sendiri kotoran/sisa makanan kita.

Lain lagi kalau di Jepang, yang memang terkenal dengan keadaan lingkungannya yang bersih, bahkan Jepang menyandang gelar sebagai negara dengan tingkat kebersihan terbaik di dunia. Gelar ini tentu saja tidak tanpa sebab Jepang dapatkan dengan singkat, mengingat Jepang juga pernah berada pada posisi seperti Indonesia yang kotor dan kumuh di beberapa kotanya. Kebersihan di Jepang tidak melulu disebabkan oleh kesigapan para petugas kebersihan dalam membersihkan tempat-tempat umum maupun lingkungan sekitar tetapi juga didukung oleh masyarakat Jepang yang dididik sejak kecil untuk berbudaya bersih dan memikirkan kenyamanan orang lain. Orang tua di Jepang mendidik anak-anak mereka sejak kecil untuk selalu mejaga kebersihan dimanapun mereka berada, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, mengelap ‘dudukan’ wc dengan tisu sesudah memakainya dsb.

Lagi pula sebenarnya kalau saya perhatikan, restoran fast food memiliki jumlah staf yang sangat terbatas, dan hampir semuanya difokuskan di belakang konter atau dapur, apalagi di Sevel, boro-boro. Tidak seperti restoran biasa yang memang ada waiter/waitress yang kerjanya menunggui meja.

Mental 'majikan' adalah cerminan pribadi yang egois dan childish. Ada memang orang yang susah melakukan hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Tapi kenapa menunggu orang lain? Karena hak kita sebagai pembeli?

Ini bukan soal berharap orang lain yang toh sudah digaji untuk mengerjakan tugasnya, sesekali mungkin ada baiknya kita abaikan posisi kita ketika masuk ke restoran fast food sebagai pembeli dan butuh kenyang, tapi menjadi manusiawi, karena ini bukan masalah hak siapa tugas siapa, melainkan disinilah bagaimana karakter pribadi kita tergambar seutuhnya tentang tanggung jawab dan kesadaran moral.

Dan yang paling penting ya adalah sebenarnya ini soal perilaku yang bukan hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri tapi juga memikirkan kenyamanan orang lain yang bakal menggunakan meja kita.

Komentar

Postingan Populer