APAKAH ANDA CYBER ADDICTION?
Banyak yang bilang "handphone mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat".
Premis-premis itu tentunya bukan asal mangap, tapi memiliki nilai moral tersendiri yang fakta adanya. Tapi.. yang lebih mengenaskan adalah bukan menjauhkan yang dekat, tapi menjauhkan smartphone dari pemiliknya.
Tentunya hal ini bikin saya mikir dan bertanya-tanya seberapa sering sih kita memegang gadget dan menjauhkannya dari jangkauan kita?
Ya macam kebutuhan untuk menjelajah social media, baik itu nge-tweeting, nge-facebook, nge-Path, bahkan bbm dsb? Atau menyibukkan diri dengan game online yang memakai kuota internet? Atau hanya sekedar googling dalam kurun satu hari?
Atau pertanyaan jenis lain seperti seberapa sering sih kita merasa fitur-fitur aplikasi di gadget kita berjasa besar di kesendirian kita untuk menumpas kesepian yang mengancam?
Halah bahasanya macam Power Rangers.
Tapi serius lho ini. Coba sesekali lakukanlah riset kecil-kecilan untuk mengetahui sejauh mana addict kita pada benda sesimple gadget. Mudah dan murah meriah kok. Subjeknya adalah anda sendiri sebagai pengguna ponsel/gadget yang aktif, dan objeknya adalah smartphone itu sendiri.
Untuk melakukan riset ini tentunya pertama-tama adalah anda berani berkomitmen pada diri sendiri (dan pacar anda) untuk tak menjadi warga netizen yang baik dan disiplin.
Ya.. saya pernah ikut riset ini. Of course saya juga membuat kesepakatan pada diri saya sendiri untuk mengetahui sejauh mana saya menahan kesabaran dan tergoda pada smartphone saya, dengan tidak mengaktifkan paket internet apapun di dalamnya.
Saya sudah melakukannya dengan dua percobaan. Pertama, di beberapa bulan yang lalu. Kedua, di awal september tadi.
Sepanjang komitmen itu aktivitas berinternet di ponsel saya yang biasa digantikan dengan nge-game non-internet, manfaatin WPS Office buat nulis, memberdaya SMS atau call jika butuh kontak ke dunia luar, terlebih main Temple Run sampe bodoh.
Jangan kira di hari-hari itu tidak terjadi apa-apa dalam diri saya. Bohong itu namanya mengingat jauh di dalam lubuk hati saya sendiri rasanya ingin mengkhianati komitmen itu karena anehnya saya seperti diserang penyakit anak muda zaman sekarang mulai dari terserang kegalauan tak jelas, sakit secara psikis, dan merana tingkat kronis.
Bagaimana tidak? Smartphone saya smart banget peformanya tapi kelihatan seperti handphone jadul yang bukan apa-apa tanpa internet. Seolah-olah hidup tanpa internet baik itu hanya berkomunikasi, searching apalah, maupun eksis di social media itu bagai taman tak berbunga.
Di percobaan pertama saya, pressure temptation itu lebih mendesak dibandingkan percobaan kedua. Mengingat percobaan pertama saya hanya sanggup satu hari hingga akhirnya menyerah juga pada godaan itu.
Di percobaan kedua lain lagi, saya hanya mampu 5 hari saja menahan godaan untuk berinternet. Kemajuan sih tapi dirasa-rasa itu adalah waktu yang sangat mengecewakan dan mungkin membawa saya pada kenyataan... cyber addition.
Cyber addiction atau kecanduan game, internet, gadget dan sarana eletronik lainnya. Kita sadar internet sudah jadi candu baru masyarakat modern. Perkembangan teknologi mobile membuat internet hadir di hampir tiap sela ruang dan waktu hidup manusia. Hidup saya. Hidup kita.
Bayangkan saja, kalau saya sendiri aktifitas seperti cek email, Twitter, Facebook, atau sekadar baca berita online sudah menjadi semacam ritual mulai dari bangun tidur sampai kembali ke beranjak tidur.
Dan dalam komitmen saya terhadap riset sederhana itu saya merasa sama sekali tidak nyaman beraktifitas tanpa membawa smartphone berinternet, apalagi ketika melihat teman-teman saya asyik dengan ponselnya, saya hanya bisa gigit jari menahan perasaan tidak nyaman itu.
Di Negara lain, Kecanduan Dunia Maya telah dikategorikan menjadi menjadi clinical disease atau penyakit kejiwaan klinis yang disetarakan dengan kecanduan narkoba. Di luar sana pemerintahnya fokus mendirikan pusat-pusat rehabilitasi untuk orang-orang yang terjangkit kecanduan internet, banyak sekali kasus kecanduan internet yang mempunyai dampak parah mulai dari anak-anak yang berhenti sekolah, dan orang dewasa yang meninggalkan pekerjaan, bahkan kecanduan pornografi.
Di Cina lain lagi, negara itu telah di indikasi sekitar 24 juta anak remaja menjadi pecandu internet atau mereka sebut web junkie, mereka hanya bermain game online dan tidur setiap harinya, mereka bisa tidak tidur selama 3 hari dan memakai popok dewasa hanya untuk bermain game, dan yang paling parah seorang remaja di Cina telah memotong tangannya sendiri hingga putus karena ingin berhenti bermain game.
Kalau di Cina, kecanduan internet itu adalah kelainan jiwa. Kalau di Indonesia mungkin bisa kelainan jiwa kalau tak ada internet.
Sebenarnya yang jadi pertanyaan adalah apa alasan utama kita mengakses internet?
Karena kalau dipikir-pikir saya bahkan kita sering berpaling pada satu hal karena kita tidak puas dengan situasi di sekitar kita. Seperti kita mengecek BBM bahkan recent update, juga timeline di social media karena dengan itu tampaknya kita merasa mendapatkan perhatian dari tempat lain, yang tidak dapat di lingkungan sekitar kita.
Iya memang semua orang butuh hiburan dan bersenang-senang tentunya, tapi tentu cara orang untuk memperoleh kesenangan itu tidaklah sama. Tidak sama ketika si A merasa senang mantengin smartphone ketimbang mantengin TV macam si B atau ngaji macam si C. Ya, kan? Cara orang untuk bersenang-senang tentu punya konsekuensi sendiri dan orang itulah yang menerima dampaknya.
Saya merasakan bagaimana dampaknya ketika teknologi mobile ini menguasai cara pergaulan di sekitar saya. Sederhananya seperti di setiap acara family time atau lebaran, pernah tidak melihat keadaan anda duduk dengan keluarga anda bersama sepupu, paman-bibi, om-tante dsb mengelilingi meja tapi semuanya disibukkan dengan ponsel masing-masing? Pernah?
Saya pernah.
Tidak usah jauh-jauh, lihat saja ketika anda kongkow dengan teman-teman anda di cafe, lihatlah seberapa redupnya pergaulan kita yang dikuasai oleh smartphone.
Lihat juga orang-orang di cafe, di jalan, di restoran, kantor, bahkan di rumah orang-orang duduk barengan tapi sibuk sendiri-sendiri, orang-orang seperti tidak sadar bahwa mereka kehilangan momen penting kebersamaan ketika sibuk meng share kegiatan nya pada saat itu, biar dianggap kekinian.
Jadi.. bersyukurlah kalian yang hidup seumuran dengan saya, yang di masa childhood masih menghormati permainan-permainan sederhana yang di zaman kini eksistensinya sudah jarang. Bersyukurlah kalian yang hidup seumuran dengan saya yang di masa childhood-nya belum mengenal internet bahkan smartphone.
Di masa kini, para orangtua baru tentu perlu jerih payah yang keras dalam pola didik anaknya terhadap teknologi. Kita yang dewasa ini mungkin masih bisa menolerir dan arif menghadapi dampak dan konsekuensi dari ketergantungan pada internet, tapi anak-anak yang masih sangat muda dan pipis saja belum lurus itu tentu tidak semampu orang dewasa.
Ketergantungan teknologi mobile pada orang dewasa dan anak-anak itu beda lho. Orang dewasa menghadapinya dengan galau dan merasa merana jika tidak ada internet, kalay anak-anak lain lagi.
Saya punya keponakan yang baru duduk di bangku sekolah dasar. Yang kalau saya perhatikan di dua tahun terakhir ini dia selalu akrab dengan tabletnya, suka nge-game ini itu bahkan sialnya dia tahu fungsi Play Store. Dia terlihat lebih tertarik dengan bermain game atau Handphone dibandingkan bersosialisasi, berkumpul, hangout bersama kakek dan neneknya, orang terdekatnya, dan jarang bermain dengan teman-teman sebayanya. Dia dan tablet-nya seperti sepasang sepatu, soulmate, dan tak terpisahkan. Sialnya lagi ketika dia dijauhkan dari internet, game, bahkan tablet-nya, dia marah dan gelisah, lalu merengek dan jika tidak dipenuhi keinginannya dia akan menangis. Tidak berhenti di situ saja karena ketika tidak mendapatkan tablet-nya, anak seusia itu sudah bisa berusaha sendiri untuk memenuhi keinginannya dengan meminjam smartphone orang lain, saya dan saudara-saudara saya seolah-olah dia punya visi hidup : "Setiap permainan adalah oksigen".
Manusia tanpa oksigen tentu akan mati, dan keponakan saya macam dirinya tanpa game akan mati. Lol banget kan?
Itulah kenapa menurut saya orangtua zaman sekarang akan sangat membutuhkan jerih payah yang lebih keras dibandingkan orangtua zaman dulu. Berkaca dengan pengalaman ini mungkin bukan hanya terjadi pada orang di sekitar saya saja, mungkin anak anda, bisa jadi anak tetangga anda, siapapun bisa.
Ada sebagian orangtua yang menggunakan gadget untuk mengatasi anaknya yang rewel dan suka merengek sehingga membiarkan anaknya fokus pada apa yang dihidangkan disana tanpa mengganggu aktifitas orangtuanya. Ada juga orangtua yang menghadiahi anaknya dengan gadget agar anaknya tidak bosan. Sayangnya itu menjadi kebiasaan dan memanipulasi pola asuh, padahal banyak yang bisa dilakukan seperti mengajarkan anak bahwa mencari kesenangan bukan hanya pada gadget saja tapi bisa pada alam, hobby, dan sebagainya. Tapi tidak semua orangtua yang membekali diri dengan pengetahuan bahaya tentang gadget dan mulai mengedukasi anaknya.
Sekarang ini kita bisa mendapatkan apa saja kebutuhan di dunia maya apalagi hal-hal yang menghibur seperti video online, game online dan lainnya. Kebiasaan mencari hiburan di dunia maya akan membuat anak bahkan kita menjadi tidak bersosialisasi dan bermain secara normal dengan teman-teman, begitu juga waktu hubungan dengan keluarga akan menjadi sedikit.
Lalu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi teknologi dan menghindari cyber addiction? Mungkin dengan bersikap disiplin pada diri sendiri dan setidaknya cobalah sesekali bagikanlah waktu untuk menonaktifkan mobile data, dan berinternet seperlunya kebutuhan saja yang tidak membuat kita menjadi mobile slave.
Sebab dunia yang makin cyber dan teknologinya maju pesat sangat mempengaruhi masyarakatnya menjadi konsumtif. Saya tidak menyalahkan zaman yang semakin maju dan perkembangan IPTEK yang gila-gilaan, saya tidak menyalahkan kaum kapitalis di dunia ini dan tidak juga mendukung sosialis biar dianggap sebagai orang yang humanis, tidak, karena tentunya hal ini membuat kita seharusnya berpikir dan memilih mana yang tepat yang bisa kita bawa dalam hidup di zaman kini termasuk sebagai warga masyarakat dan pribadi yang bertanggung jawab pada diri sendiri yang bisa mengendalikan dirinya, kemauannya, dan paham pada jati dirinya, tentu kita yang menentukan hidup kita sendiri. Jangan mengkambinghitamkan kapitalis, salahkan kenapa kita yang mau mengonsumsinya.
Menjadi manusia cyber itu pilihan, kan? Jelas, tapi rasakanlah dampaknya. Apakah anda cyber addiction? Yang di setiap detiknya tidak bisa lepas dari gadget?
Komentar