Rani
Dua pemuda di meja bar.
”Ada apa, Tom? Kau kelihatan menyedihkan?”
”Begitukah? Aku tidak tahu.. menyedihkan? Mungkin.”
”jadi? Apa masalahmu?”
”banyak masalah di dunia ini, Dude... pacarku.. bukan pacarku lagi” wajahnya berubah sedih.
”kenapa? Kau diputus?”
Pemuda berbaju biru menggeleng.”Kami bertengkar, dia bilang dia menyukai pria lain, bahkan dia bilang aku gay..”
”Dia benar”
Tom mempelototinya, serius seperti ingin menghajar wajahnya tapi dia terlalu lelah.
”Jangan bercanda, Ron, aku ingin pacarku kembali,”
”Cewek.. cewek.. lupakan!” teriak Roni. ”manusia tidak jatuh cinta satu kali, kau tahu itu”
”Aku tahu.. tapi..”
”Tidak ada tapi-tapian.. kau lihat wanita yang duduk sendiri di meja nomor 3 itu?” tangannya gemetar menunjuk ke arah yang dimaksud.
”Berbaju merah?"
"Itu Rani? pacarmu!”
"Itu Rani? pacarmu!”
”Really? Aku akan menghampirinya,”
”Jangan pernah melakukan itu, kau akan menyesal”
”Oh, tidak. Aku tidak akan menyesal mendapatkan Rani. Aku akan mendekatinya”
Roni menarik tangannya, ”Jangan, please..”
“Kenapa?”
“Kubilang jangan”
”Aku ingin memperbaiki hubungan kami, oh yes, dia kemari! Dia kemari”
Asap rokok disekitar Roni mengaburkan pandangan Tom. Rani mengamati mereka. ”Besok kita jalan lagi ya, Ron”
”Apa?!”
”I’ve told you before, Tom. Kau akan menyesal”
Tom ternganga, gelas minumannya jatuh membentur lantai, berkeping-keping.
*Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis
Komentar