MIRISnya PELAYANAN PUBLIK ini
Menceritakan kejadian di Kantor Lurah di daerah tempat tinggal saya pada hari selasa 23 Februari 2010 bikin hati saya meradang sebenarnya. Pasalnya, saya mengalami pelayanan publik yang tidak baik dan tidak ramah oleh pihak kelurahan tersebut. Tidak perlu diceritakan bagaimana kronologisnya secara panjang lebar, masalahnya berawal dari hal yang sepele sebenernya. Saya hanya ingin komplain pada pengetikan ‘bulan’ saja di surat keterangan kematian. Seperti Oktober disingkat ‘10’ dan November di singkat ‘11’, dan kesalahan pihak lurah adalah bulan kematian seharusnya ‘11’, malah tertera ‘10’ dan juga ‘10’ untuk waktu pembuatan Surat tersebut yang notabene telah ditanda tangani oleh Lurah sendiri beserta cap stampel. mirisnya, dengan membawa surat kematian yang salah tersebut dan saya sudah menjelaskan dengan cara yang baik sebagaimana cara bersikap dengan orang lain, tapi amat disayangkan respon salah satu pegawai lurah (laki-laki tua yang amat sangat tidak ramah) terhadap complain saya tidak diterima secara positif. Dia malah merasa kalau kesalahan ada pada pihak saya pada waktu kami merujuk untuk membuat surat ini ke lurah, karena apa yang pihak lurah tulis dan ketik adalah hasil laporan dari pihak saya sebelumnya. Itu katanya. Saya pun terima saja sanggahan dia, tapi saya tidak terima dengan penyanggahan yang kasar dan membentak. Kami pun terus beradu argumen dan saling mematahkan, dan saya pikir sepertinya tidak perlu membawa dan menampang bukti rujukan surat kematian di depan dia yang amat memungkinkan membuat dia malu karena kesalahannya. Dari selembar surat kematian yang saya complain dan saya beri tepat di hadapan dia pun sebenarnya sudah jelas pihak siapa yang salah. Saya pun sudah makin meninggikan volume suara saya karena perdebatan yang tidak penting ini, dan saya pun sudah capek menjelaskan kepada dia perkaranya. Entah karena dia kalah beragumen atau tidak bisa lagi menutupi kesalahannya, akhirnya surat itu pun mereka perbaiki. Waktu 10 menit dihabiskan dengan berdebat dan 5 menit dengan menunggu perbaikan dari pihak lurah. Benar-benar waktu yang singkat tapi membuat saya amat geram walaupun pada akhirnya kebutuhan ku tuntas.
Sebenarnya sudah kali kedua saya mengalami pelayanan public yang tidak mengenakkan di tempat yang sama dengan orang yang sama. Saya jadi miris melihat perlakuan salah satu pegawai lurah tersebut, tugas mereka adalah melayani masyarakat, tapi tidak dengan proses yang rumit dan birokrasi yang memakan waktu lama dan juga tidak melayani dengan seenak hati. Saya sendiri sebagai masyarakat pada dasarnya hanya bisa geleng-geleng kepala atas perlakuan pihak lurah tersebut. Mungkin bukan saya saja yang mengalami, tapi masih ada saya-saya yang lain yang mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan seperti ini.
Dengan mengenakan baju coklat rapi, dan terdapat lambang pemerintah kota Pangkalpinang, bagi saya tidak mengharuskan saya untuk tunduk nurut kepada dia, walaupun dia adalah orang tua dan pegawai pemerintahan. Saya malah tertarik dan sangat antusias untuk terus mengamati kinerja pegawai pemerintah yang memang sepertinya terkesan nyantai, “hanya masuk, duduk, makan, duduk, dan pulang”, paling kalau bekerja pun bebannya sedikit.
Masyarakat sipil memang sangat butuh akan Pelayanan Publik di berbagai sektor apapun di Kota Pangkalpinang yang memberikan pelayanan yang baik, nyaman dan bermasyarakat. Tapi mungkin hal itu hanya segelintir yang terdapat di Kota Pangkalpinang.
Sebenarnya sudah kali kedua saya mengalami pelayanan public yang tidak mengenakkan di tempat yang sama dengan orang yang sama. Saya jadi miris melihat perlakuan salah satu pegawai lurah tersebut, tugas mereka adalah melayani masyarakat, tapi tidak dengan proses yang rumit dan birokrasi yang memakan waktu lama dan juga tidak melayani dengan seenak hati. Saya sendiri sebagai masyarakat pada dasarnya hanya bisa geleng-geleng kepala atas perlakuan pihak lurah tersebut. Mungkin bukan saya saja yang mengalami, tapi masih ada saya-saya yang lain yang mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan seperti ini.
Dengan mengenakan baju coklat rapi, dan terdapat lambang pemerintah kota Pangkalpinang, bagi saya tidak mengharuskan saya untuk tunduk nurut kepada dia, walaupun dia adalah orang tua dan pegawai pemerintahan. Saya malah tertarik dan sangat antusias untuk terus mengamati kinerja pegawai pemerintah yang memang sepertinya terkesan nyantai, “hanya masuk, duduk, makan, duduk, dan pulang”, paling kalau bekerja pun bebannya sedikit.
Masyarakat sipil memang sangat butuh akan Pelayanan Publik di berbagai sektor apapun di Kota Pangkalpinang yang memberikan pelayanan yang baik, nyaman dan bermasyarakat. Tapi mungkin hal itu hanya segelintir yang terdapat di Kota Pangkalpinang.
Komentar