PLASTIK KOK JADI SEREM BEGINI YA?
Pernah enggak kepikiran, kok plastik
jadi serem begini ya kelihatannya?
Seenggaknya, di beberapa tahun terakhir ini saya mulai menyadari betapa seramnya plastik. Itupun ketika saya melihat serangkaian video terkait bagaimana plastik menjadi sampah di laut, bagaimana menderitanya ekosistem di lautan hanya gegara satu sedotan plastik, kantong kresekan, cangkir plastik yang biasa kita minum, botol air mineral, dan bahan plastik lainnya. Luar biasa bikin saya tertampar.
Saya jadi observasi kecil.
Jujur saja, dihitung-hitung secara
garis besar sampah di rumah saya dalam 1 minggu (tanpa pembakaran dulu) memang
dijuarai berbahan plastik. Saya termasuk orang yang lebih keseringan mengonsumsi air
mineral kemasan, bukan mengonsumsi air keran yang dimasak dulu. Keluarga saya
pun punya kebiasaan menyimpan botol minuman bekas yang katanya “Entar nanti
berguna kok” di gudang yang udah dikumpul beberapa tahun, yang sampe sekarang saya
sendiri enggak paham nanti tujuannya buat apa. Keluarga saya juga punya
kebiasaan menyimpan rapi plastik (kantong) kresekan buat di rumah yang memang useful. Coba bayangin deh, serem enggak
apabila sampah satu minggu di satu rumah tanpa di recycle, dibakar, malah diakumulasi berbulan-bulan, menjadi
tahun-menahun, seberapa banyak gunung sampahnya?
Udah jadi sifat manusia lebih memilih jalan yang jaraknya lebih jauh, ketimbang lewat jalan tikus yang jaraknya lebih dekat ke lokasi tujuan tapi melewati TPS (Tempat Pembuangan Sampah).
Udah jadi sifat kita menghindari
objek wisata yang penuh sampah, kemudian bilang pantainya jelek, akhirnya
nyalahin petugas kebersihan pantai enggak kerja dengan sebagaimana mestinya.
Udah jadi sifat kita musuhin sampah. Kita menganggap semua keindahan terkikis karena sampah, aroma enggak
enak yang menyengat karena sampah, semua salah plastik, padahal akar masalah
dan salahnya ada pada perilaku kita. Perilaku yang dengan mudah saja make
plastik, sekali pakai, kemudian dibuang sembarangan sampai jadi sampah plastik.
Perilaku kita yang seenaknya buang
sampah sembarangan ke jalan, selokan, sungai, hutan, laut, yang ujung-ujungnya
nantinya menumpuk di laut.
Jadi wajar aja ya kalo hasil riset
lembaga Ellen McArthur yang menunjukkan bahwa jumlah sampah plastik di lautan
di tahun 2050 nanti bakal lebih banyak daripada jumlah ikan. Ckckck.
Dari semua aspek kehidupan kita,
hampir semua aspek enggak bisa lepas dari plastik. Coba bayangin deh kendaraan
kamu yang kamu pake selama ini? Mana bagian yang pake plastik?
Untuk Infrastruktur? Plastik juga
digunakan untuk membangun rumah, sanitasi, gedung, jembatan, dan jalan biar
tahan lama dan kokoh. Untuk komunikasi? Kamu kira gadget yang biasa kamu pake itu bahannya dari apa? Trus di rumah? plastik juga buat menjaga higienitas makanan
kita, misalnya dalam bentuk Tupperware juga alat makan-minum. Untuk kesehatan? plastik juga digunakan
untuk alat kesehatan seperti tabung jarum suntik, infus, dan lainnya.
Hanya saja kalau itu tidak dikelola
dengan bijak, akan jadi seperti ini :
Serem kan? Serem lah karena kita
salah memperlakukannya. Kita punya tanggung jawab sama bumi yang kita pijak, to take care our world. Tentu kita
sering mendengar prinsip reduce, reuse,
recycle, replace, tapi apa kita pernah ngelakuin keempatnya? Bahkan salah
satunya? Simple-nya, apa kita pernah
buang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenis sampahnya? Mana organik, mana
anorganik.
Berbicara soal sampah memang perkara
yang enggak ada habisnya, karena kita hampir di setiap harinya memang
memproduksi sampah. Mendengar curhatan teman yang curahannya saya anggap enggak
penting, menerima amarah bos, bagi saya itu sampah, apalagi apa yang sudah kita
konsumsi tapi tidak kita perlakukan sebagaimana harusnya. Sampah memang menjadi
hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, dan mungkin sebagian orang belum
terlalu paham mengenai ancaman yang disebabkan sampah di bumi bagi kita, bagi
anak-cucu, bagi makhluk hidup lainnya.
Saya enggak berharap kamu untuk jadi
pandai mengelola sampah, saya enggak berharap kamu tetiba jadi aktivis dalam
mendukung pergerakan lingkungan, saya pun enggak berharap kamu jadi pergi ke
TPS terdekat untuk membantu para pekerja dalam memilah sampah, atau membuat kamu tetiba jadi animal lover, enggak, karena
saya sendiri pun sedang membiasakan diri untuk menjadi disiplin menangani
sampah, dimulai dari diri saya sendiri.
Satu perubahan kecil memang belum
bisa mengubah seluruh dunia, namun, kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga
lingkungan dengan ramah tanpa menyakiti makhluk lainnya?
Simple, saya sendiri mulai mengubah pola
hidup dengan mengurangi pemakaian berbahan plastik. Kamu tahu, sedotan sekali
pakai menjadi penyumbang sampah nomor 5 terbesar di dunia. Rata-rata orang
menggunakan sedotan 1-2 sedotan plastik setiap hari, kemudian menjadi
sampah---yang tidak bisa diurai. Untuk minum, sejak beberapa bulan yang lalu saya
mulai menggunakan reuseable straw (sedotan
stainless steel).
Restoran-restoran cepat saji saja sudah berbondong-bondong jadi perusahaan yang ikut berkontribusi terhadap lingkungan hidup dengan enggak menyediakan lagi sedotan plastik. Karena realitanya sedotan menjadi sangat kejam di lautan, Teman. Sangat kejam.
Restoran-restoran cepat saji saja sudah berbondong-bondong jadi perusahaan yang ikut berkontribusi terhadap lingkungan hidup dengan enggak menyediakan lagi sedotan plastik. Karena realitanya sedotan menjadi sangat kejam di lautan, Teman. Sangat kejam.
Selain itu, setiap hari kerja, saya selalu (kalau lagi enggak lupa) membawa botol minuman sendiri, dan ini sedikit demi sedikit mengikis kebiasaan belanja air mineral kemasan di setiap harinya.
Apalagi ketika berwisata, lebih baik
biasakan untuk enggak meninggalkan sampah makan-minum di lokasi---sekecil apapun
itu. Siapkan wadah untuk menyimpan sisa-sisa sampah atau buang ke tempat sampah
yang disediakan di lokasi wisata. Kecuali kita mau ikut jejak Thailand yang demi kelestarian alam dan sustainable tourism, lebih memilih menutup tempat wisata yang menyumbang 12 % untuk devisa negara dengan menjaga alamnya agar tidak rusak dan dapat dinikmati nantinya. Apa kita seberani itu?
Terkadang memang untuk melakukan
perubahan dimulai dari hal-hal yang kecil, tidak perlu muluk, menghargai semesta alam artinya kita pun menghargai diri kita sendiri. Nature saves us, we too must save it.






Komentar