[Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Jarang sekali blog saya mengulas tentang film, ya, kan?

Sekalipun dari dulu kepengen sekali menulis tentang salah satu film favorit saya, Julie and Julia, dan tak kunjung sampai, terlebih gara-gara kemarin nonton AADC2, saya jadi gregetan, beneran, sumpah, untuk menjabarkan perasaan saya tentang film tersebut.

Singkat kata, AADC2 not recommended.
Kalian tahu? Yang dilakukan para pembuat film AADC2 itu.. jahat.
Saya jadi pakai kalimat itu.
Karena demi mewakili suara-suara perempuan setrong—yang menganggap puisi itu simfoni pelangi yang indah dan Rangga itu rupawan (tapi di AADC2 Rangga malah jadi macam pria pengangguran tak berkarakter kuat), sepanjang saya menonton tubuh saya tidak bisa berhenti melakukan: duduk gelisah, alis menyatu, jidat saya mengkerut, bibir saya enggak berhenti komentar keanehan yang saya saksikan—dan enggak berhenti ngunyah popcorn juga sih, kaki berlipat gara-gara nahan pipis karena ngotot enggak mau ketinggalan scene apapun, sampai saat Rangga dan Cinta ciuman di sebuah park tandus bersalju di New York, trus the end, dalam benak saya: ‘is this seriously? Segini aja nih?’

Perasaan saya saat keluar dari studio berbondong-bondong dengan penonton lainnya hanya kepikiran sama FTV, toilet juga sih. FTV bo, FTV! Dan sejak itu sampai saat ini saya tahu bahwa saya belum mengikhlaskan harga tiket yang saya keluarkan untuk menonton film seharga 30.000 rupiah. 

Baiklah, saya terlalu terbawa perasaan dan jadi jahat. Jujur saja, sepanjang dua jam itu saya tidak menemukan alasan untuk mengacungkan jempol penuh bangga pada Riri Riza dan Mira Lesmana serta tokoh-tokoh utamanya, seperti yang saya lakukan pada Peter Jackon sama Lord of The Ring-nya. Tidak sama sekali.

Saya bukan tipe penonton film karya bangsa sendiri, saya tidak punya misi nasionalisme dengan menonton film Indonesia dan soal selera itu tidak boleh judging, saya menonton AADC2 pun bukan karena menghormati karya anak bangsa, melainkan karena Civil War enggak tayang dihari itu. Sinis? Bukan, tapi saya memang kurang menyukai film romantis ala Indonesia.
Sekalipun begitu, menurut saya produser AADC2 sangat berani menaruh jadwal rilis filmnya yang berdekatan dengan Captain America: Civil War dan Jungle Book. Secara bo, Civil War notabene digadang-gadang sebagai film terbaik tahun ini dengan nilai jual yang tinggi. Sangat berani sih karena film ini berkualitas FTV dua jam selesai. Dan setelah selesai, saya enggak mau membicarakannya sama orang-orang di rumah karena kecewa.

Jadi, baiklah, mari saya jelaskan kenapa AADC2 ini jahat.

Cerita AADC2 dibuka dengan geng Cinta yang reuni setelah lama berpisah di galeri Cinta. Milly dan Maura yang sama-sama sibuk setelah menjadi IRT Gaul nan modis, sebaliknya Carmen yang karakternya disana baru saja keluar dari rehab obat-obatan terlarang, yang saat muncul langsung keren aja gayanya. Sementara Cinta sudah bertunangan dengan seorang pengusaha muda bernama Trian. Tanpa ada karakter Alya karena suatu sebab yang tidak mau saya bocorkan. Jadi, ceritanya tanpa mengajak pasangan masing-masing, geng Cinta ini berencana untuk berliburan bareng ke Yogya.

Mulai ngerasa aneh? Iya, macam cerita-cerita FTV kebanyakan juga kalau enggak bersetting di Bali, ya Yogya.

Dan soal Rangga, ya..Rangga, yang rambutnya makin kucel dan jidatnya makin jenong saja tinggal di New York menghadapi berbagai kerumitan hidupnya yang sepertinya akan selalu rumit-serumit sisir merapikan rambutnya, termasuk kemunculan adik tirinya, juga permintaan ibunya yang sangat dia dendami itu untuk pulang menemuinya yang kebetulan tinggal di Yogya.

Rupanya semesta saat itu berkonspirasi pada mereka, eh enggak juga ding, Rangga ketemu Carmen sama Milly, trus tahu ada Cinta, Rangga kepengen ketemu, ya mumpung se-yogya bo. Kalau Cinta menolak ajakan Rangga melalui Carmen, tentu itu bukan karena semesta lagi, tapi karena Cinta anak pinter dan cinta mesti berterima kasih sama Carmen dong. Tapi ternyata ceritanya bukan begitu, tidak ada karakter perempuan setrong disana seperti Carmen dalam diri Cinta. Cinta mengiyakan untuk menjalankan misinya untuk berdamai dengan Rangga, sampai ternyata seharian mereka menghabiskan waktu untuk berwisata sejarah dan kuliner. Itu bahasa pemodus handal ala Rangga, tapi untuk pemikiran perempuan desperate dan frustasi seperti Cinta, baginya itu romantis.
Oke, disini saya makin merasakan kejanggalan, selain kejanggalan lainnya Milly kawinnya sama Mamet karena saya tidak bisa membayangkan gimana dua orang bolot dan oon hidup bersama. Hanya saja karakter tokoh utama di dua film ini teramat berbeda. Kelihatannya, Cinta bukan lagi karakter perempuan pintar, yang punya rasa penasaran yang tinggi, yang centil dan punya pendirian seperti di AADC pertama, melainkan seperti dramaqueen yang haus belaian dan punya masalah mental soal asmara apalagi punya kebodohan akut membedakan mana romantis dan mana modus. Sementara Rangga juga bukan lagi sosok yang karakternya misterius, tidak tertebak, cool dan independen, sekalipun masih sibuk dengan buku, menulis, dan puisi yang hanya dialah yang paham, tapi AADC2, Rangga seperti pria patah hati yang sangat membutuhkan wanita sebagai pelampiasan hasratnya di Indonesia. Istilah kasarnya, seperti psikopat seram bertitit seiprit yang menggaet mangsa hanya bermodal modus saja macam di serial Criminal Mind.

Kasar, ya? Kenapa? Ya mau gimana lagi? Perempuan bodoh mana sih yang mau mendadak balik suka lagi sama mantan pacarnya setelah 9 tahun tanpa kabar tanpa kesimpulan dan ketemunya cuma sehari doang di Yogya?
Perempuan aneh mana sih yang katanya mau berdamai saja tapi mau aja keliling Yogya bareng mantan sampe subuh berkunjung ke bukit unik apalah itu?
Dan perempuan gila mana sih yang sudah bertunangan dengan pengusaha muda berkepala telur tapi memilih pria yang bekerja di kelas menengah dan selalu berekspresi datar macam psikopat gila berambut badut?
Dan terakhir, kriminal kan namanya jika ada pria yang berani-beraninya mengajak perempuan baik-baik sampai pagi masuk hutan keluar hutan untung enggak-lari-kepantai-dan-pecahkan-gelasnya-biar-ramai-lalu sok-sokan bicara esensi liburan dan traveling?

Traveling ndasmu, Ngga? Modus!

Apalagi yang membuat AADC2 itu jahat?
Adalah sepanjang film berlangsung saya dibuat lelah dengan bahasa-bahasa antara Geng Cinta dan Cinta-Rangga yang kaku dan baku. Penggunaan kata ‘Saya’ dan ‘tidak’ bikin saya makin greget gigit popcorn sampai ke karton-kartonnya. Helowww, untuk orang yang pernah pacaran dan jadi mantan dan merupakan salah satu warga Jakarta dengan gaya hidup yang tinggi ala sosialita apa sehari-hari ngomong pake ‘Saya’?.

Lu ngomong sama mantan pacar lu, Cin, bukan lagi wawancara kerja!

Penggunaan kata-kata kaku dan baku itu bikin saya frustasi macam balik nonton film Rano Karno zaman bahala.

Selain itu, apalagi yang membuat AADC2 itu jahat? Saya tidak mengkritisi bagaimana menariknya pengambilan scene serta tata artistiknya yang keren. Is all about art, galeri, dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Hanya saja yang mengganggu adalah terlalu banyak scene yang menampilan promo brand disana-sini. Memang sih menyatu dengan adegan cerita, tapi too much yang mengesankan ujung-ujungnya runut ke bisnis.

Apalagi satu hal yang saya kagumi dengan Cinta and the Gank adalah lambung mereka. Perhatiin deh, sepanjang scene dan sepanjang dialog mereka di satu hari, ujung-ujungnya pasti selalu ada adegan sebuah café atau resto manalah itu. Kerjaan mereka makan mulu nongkrong mulu macam cabe-cabean. Lambung yang luar biasa, kan? Apalagi seperti ketika Cinta mengajak Rangga ke sebuah kedai kopi, disitu saya suka karena ada pembelajaran soal originalitas sebuah kopi, dan rasanya kepengen keluar bioskop dan nyicip kopi, trus ada adegan juga di Sate Klathak. Tapi dilain itu sisi lemahnya pengambilan gambarnya kurang cerdas karena harus selalu berdialog berhenti di tempat makan. Kenapa? Kenapa?

Oke, memang AADC2 bukanlah film yang mentemakan soal kuliner macam Julie and Julia, juga bukan mentemakan horror macam Pocong atau fashion macam Devil Wears Prada sehingga tidak dominan membicarakan soal latar dan kostum pemainnya, hanya saja saya agak gerah melihat Rangga masih mengenakan kemeja flannel merah-nya saat adegan di Yogya juga di galeri Cinta di Jakarta. Bukan apa, saya sedih, selain karena ini mengesankan film tanggung yang dibuat tanpa berpikir keras soal detail, saya juga sedih karena sebenarnya Rangga ini diurus sama emaknya enggak sih? Kok kasihan banget masih pake kemeja yang sama.

Secara keseluruhan, sisi positifnya memang pertanyaan banyak orang terjawab sudah ketika cerita yang menggantung AADC yang pertama disimpulkan sudah di AADC2. Usaha pembuat film AADC2 membangun lagi kenangan generasi soal persahabatan abadi, cinta, dan kerumitan asmara dalam dunia Cinta saya anggap itu berhasil. Hanya saja wajar ketika manusia menikmati sesuatu dan mengharapkan hal yang tinggi dan lebih. Wajar ketika seseorang menuntut ekspektasi yang lebih dan berbeda dari sebuah film karena kebutuhan mementingkan isi cerita, bukan karena harapan dari masyarakat pada kesimpulan Cinta dan Rangga menyatu tanpa mempedulikan isi cerita.

Ya, bagi saya, AADC2 adalah contoh film yang sama buruknya dengan film kejar tayang. Melihat dari kesuksesan AADC yang pertama, seharusnya AADC2 bisa dikemas dengan lebih sempurna dan tajam ketimbang pendahulunya, karena sesungguhnya yang kurang dari film ini adalah jalan cerita. Terlalu banyak scene disana-sini yang patah-patah, adegan yang bias dan kebanyakan enggak penting, dan dialogis yang kurang greget. Entahlah, tapi kekecewaan saya pada film ini benar-benar tidak bisa tertahankan, banyak hal yang saya kesali termasuk bagaimana promo disana-sini sebelum jadwal tayang film ini rilis terlalu besar-besaran, tapi setelah menontonnya sangat jauh dari ekspektasi saya. Saya kecewa dua kali sejak menonton Pendekar Tongkat Emas.

Saya tidak membicarakan faktor kenapa film ini dibuat terkesan buru-buru sejak gempar iklan Line (yang sebenarnya jauh lebih menarik AADC di 11 menit di Line ketimbang 2 jam di film), yang mengesankan film ini buru-buru dirilis secepatnya, sehingga tanpa sengaja satu hal yang penting dalam seni dan sastra adalah alur cerita sungguh luput dari Mas Riri Riza dan Mbak Mira Lesmana, juga banyaknya promo yang sepertinya harus dipaksa masuk menyesuaikan adegan dan iklan, dan perubahan karakter Cinta dan Rangga yang sangat signifikan yang jadi sama-sama desperate. Dan terjadilah di AADC2, seperti short film yang hanya layak ditayangkan di stasiun TV saja bukan di bioskop kesayangan anda. 

Ibarat makanan enak, film keren tentu saja bisa membuat orgasme dengan caranya sendiri. menonton AADC2 alih-alih orgasme, bikin berhasrat pun sama sekali tidak. Kalau kata teman saya, kurang klimaks jadi kurang horny. 

Dari ulasan seperti ini memang sisi kelemahan AADC2 lebih besar ketimbang kelebihannya, dan sesungguhnya kelemahan karakter Cinta mengajarkan kita bahwa jadilah perempuan yang punya akal sehat, yang tidak hanya terbuai pada puisi dan wajah menarik lelaki, karena hidup bukan hanya masuk hutan keluar hutan dan menikmati puisi kekasih atau ngopi bareng kok, masih banyak perasaan-perasaan disekitar kita yang mesti kita jaga serta kebutuhan-kebutuhan lain dalam hidup ini yang membuat kita enggak perlu jadi bodoh untuk jatuh cinta.

Tapi satu hal yang masih saya syukuri adalah bagaimana persahabatan erat dan kuat yang masih terjaga mengajarkan kita tentang moral bahwa persahabatan itu seperti berlian. Apapun hal yang buruk terjadi pada masing-masing, akan selalu ada orang-orang yang membantu, menjaga, dan membuat kita tertawa.

So, Ada Apa Dengan Cinta sebenarnya?
Cinta sedang tidak sehat. Itu saja sih.
Ada Apa Dengan Rangga?
Percayalah. Di AADC2, pria aneh macam Rangga menang banyak.
Dan terima kasih AADC2, karena sudah menginspirasi saya untuk mengisi blog lagi.

Komentar

Postingan Populer