SELAMAT BERKEBAYA!

April, bulannya Kartini. Dimana dalam satu hari sebagian perempuan Indonesia merasa perlu merayakannya hari kelahirannya 137 tahun yang lalu dan perjuangannya terhadap kesetaraan gender dengan bersanggul, berkebaya, dan menyerukan ‘Ini Semangat Kartini!’ kepada dunia.

Ya, sudah dipastikan sejumlah mahasiswi, akademisi, karyawan kantor, bank, pegawai instansi pemerintahan dan lain-lain berbusana berbeda saat merayakannya. Bukan hanya mereka ding, anak-anak perempuan yang masih mengenyam bangku SD sampe SMA juga mengikuti berbagai lomba berbau Kartini, mengenakan pakaian adat dan berkebaya ala Ibu Kita Kartini. Seanggun, seningrat, dan seayu Kartini. Harum namanya.

Di tanggal 22 April dan seterusnya, semuanya kembali seperti biasa, dengan penampilan biasa, dengan hidup normal yang memang… biasa.. saja. Selesai sampai disitu. Soal emansipasi munculnya hanya satu tahun sekali, kemudian tenggelam lagi. Orang-orang yang menganggap dirinya feminis di hari itu tenggelam dan akan muncul tergantung momen sakral lainnya di kalender tiap tahun seolah-olah sudah menjadi agenda tahunan kapan memunculkan diri.

Kalau dipikir-pikir sangat disayangkan, bukan? Dari tahun ke tahun bahkan mungkin saat saya masih sangat kecil kebiasaan yang dilakukan hanya itu saja. BERKEBAYA.
Yaiyalah, Rin, era Kartini masih hidup lu kira pake blus sama rok selutut?
Yaya, tapi bukan itu yang saya maksud.

Banyak wanita di negeri ini yang hanya mengaitkan Kartini dengan kebaya dan isi dari surat-surat yang termuat dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Sekedar itu. Sekalipun ada juga yang benar-benar memahami bagaimana adat-istiadat di era Kartini dulu sangat membatasi dan membelenggu gerak kaum perempuan sehingga menjadi kaum yang tertinggal dalam pendidikan.

Sosok Kartini memang lambang perjuangan perempuan yang menyasar ke masalah kesetaraan. Kita ketahuilah bahwa pada zaman dulu perempuan jawa mengalami diskriminasi sehingga karir mereka tidak berkembang, kasarnya: kurang pintar dibanding laki-laki, dan pendidikannya jauh berbanding terbalik dengan laki-laki yang disebabkan oleh tekanan budaya. Baik itu dalam dunia pendidikan, perlakuan, maupun pekerjaan. Kaum perempuan seperti hanya di-setting sejak dini untuk menerima peran di ruang domestik, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak dan suami, dan stay di rumah, dapur, bukan untuk sekolah dan bergaul dengan masyarakat.

Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan ekspresinya bagaimana budaya pada saat itu membatasi ruang gerak kaum perempuan, dengan segala remeh temeh tetek bengek yang mengekang dan menjadi perempuan adalah kaum yang harus paling manut dengan segala peraturan yang ada. Legowo, lebih tepatnya. Seolah-olah budaya memaksa perempuan menjadi kaum legowo pada saat itu.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa Kartini harus dikenang bukan karena kebayanya, bukan karena kebetulan di semasa hidupnya mengenakan pakaian seperti itu, dan mematok kita adalah seorang pengikut Kartini---sudah seperti Kartini—sudah ber-idelogis Kartini, tapi Kartini harus dikenang dari gagasan dan ide perjuangan yang dilakukannya sebagai pelopor kebangkitan harkat martabat perempuan yang termarjinalkan.

Iya, itu sering saya dengar, tapi tetap saja kan tiap tahun dirayakan pake kebaya juga?
Dari latar belakang sejarah perjuangan Kartini yang kita hargai, sudah jelas bahwa fokus perjuangan Kartini adalah memajukan kaum perempuan bermula dari pendidikan, bukan berarti menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai pekerjaan yang lebih rendah daripada pekerjaan yang dilakukan laki-laki. Tidak ada sama sekali dimaksudkan untuk bersaing atau mengalahkan kaum lelaki. Tapi toh ya, sebenarnya Kartini juga sudah memperoleh kesempatan belajar sekalipun hanya di rumah, kan, Sis? Lagipula Kartini terlahir dari keluarga bangsawan dan berpendidikan tinggi---yang masih diperkenankan untuk belajar merajut dan hadir di beberapa acara penting di masa itu, jago bahasa belanda dan sekalipun hidup dengan ekonomi yang berkecukupan, seorang Kartini tidak merasa berkecukupan secara batin.

Coba deh bayangkan, Sis, tolong bayangkan Kartini yang bangsawan saja tidak merasa cukup secara batin, bagaimana nasib perempuan-perempuan jelata yang hanya make kemben di zaman Kartini dulu?

Baiklah, itu di era dulu. Mari kita berbicara di era sekarang. Sebenarnya apa emansipasi ala Kartini itu masih (harus) diperjuangkan?

Bahasa gaulnya, apakah hare gene bicara emansepase itu perlu?

Mengingat kenyataannya ini era millennium, Sis.

Era dimana ilmuwan pada sibuk menciptakan teknologi baru termutakhir.

Era dimana anak-anak SD bukan lagi main BP (Bongkar Pasang), tapi main HP.

Era dimana tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, bahkan bersuara.

Era dimana perempuan tamat SMA boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bukan lagi harus kawin dan menjadi ibu rumah tangga, kan? Bukan seperti nasib Kartini yang usia 12 tahun sudah dipingit.

Era kini adalah era dimana perempuan boleh bekerja apapun yang dia mau, apapun--apapun yang nasib mau--menjadi pegawai bank, dokter, PNS, pilot, bahkan bekerja kasar seperti tukang tambal ban, juga kupu-kupu malam. FYI, percayalah, enggak semua yang bekerja sebagai kupu-kupu malam itu tingkat pendidikannya rendah, malah kebanyakan sarjana, Sis.

Oke, itu lain soal. Tapi ini serius, ya, mari kita berkaca, apa zaman kini masih ada perempuan yang termarginalkan? Khususnya di Indonesia?

Toh, googling deh, banyak pemimpin dan aktivis kemanusiaan adalah perempuan. Banyak juga perempuan yang menjadi senator sekalipun memang kuota perempuan untuk duduk di kursi senat hanya 30 %, itu lain soal. Banyak juga perempuan yang menjadi orang nomor satu di negeri-nya, CEO, bahkan sebagai tentara pembela tanah airnya, dan pekerjaan hebat lainnya, contoh saja ibu Susi Pudjiastuti, menteri kelautan kita, yang hanya tamat SMP tapi perjuangan hidupnya untuk menaikkan kelasnya secara ekonomi dan sosial patut diancungi jempol. Dan itu pilihannya sendiri. Saya jadi ingat kata-kata ibu Susi sewaktu beliau menjadi bintang tamu di salah satu variety show di sebuah stasiun TV swasta tentang pendidikan.
“Saya memang hanya tamat SMP, dan saya bisa menjadi orang sukses, tapi bukan berarti kalian harus mencontohkan saya untuk berhenti sekolah karena toh seorang saya juga enggak bersekolah tinggi tapi bisa jadi menteri. Kalian tahu, perjuangan saya yang hanya tamat SMP untuk bisa seperti saat ini harus tiga kali lipat lebih keras daripada kalian yang mengenyam bangku kuliah. Pendidikan itu penting sekali.”

Betul sekali.

Faktanya, era kini adalah era dimana perempuan sudah memiliki kebebasan untuk menentukan langkah dalam hidupnya, bukan lagi soal emansipasi karena di dunia yang semakin dewasa ini tidak lagi membatasi ruang gerak perempuan (bahkan ketika berbicara soal ras, perbudakan kulit hitam pun sudah lama lenyap). Pertanyaannya, apa lagi yang mau di-emansipasi-kan? Apa lagi yang mau disetarakan? Konkret-nya apa?Hayo yang ngaku feminis, coba jawab? 

Jangan menutup mata deh bahwa sebenarnya perubahan sosial sekarang sudah bersifat universal, makin terasa, makin berubah dan pola pikir masyarakat makin maju. Era sudah berganti. Jangan menjadi orang yang masih mendebatkan Darwin soal Teori Evolusi yang enggak berkesudahan. 

Lagipula sekarang banyak kok perempuan-perempuan penerus Amelia Earhart yang jago nerbangin pesawat. Banyak juga perempuan yang berani banting setir macam Grace Kelly yang mengubah hidupnya 180 derajat menjadi lady. 

Yah, era kini adalah era dimana perempuan memiliki hak untuk memenuhi kebutuhannya termasuk apa yang dia inginkan. Kebutuhan untuk menyalurkan pikirannya, kebutuhan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan, termasuk bagaimana kebutuhan untuk kebebasan perempuan dalam berapresiasi, berekspresi, bersuara, menentukan jalan hidup, meniti pendidikannya, karier-nya, unjuk gigi, dan juga mengis pengalamannya. Disamping itu perempuan punya hak prerogatif atas apa yang perlu dia lakukan pada fisik dan batinnya sendiri, karena perempuan memahami segala konsep konsekuensi atas kebebasan dari pilihannya tersebut. Menjadi perempuan yang bertanggung jawab pada dirinya sendiri, dan punya pilihan dewasa tanpa terkekang oleh adat.

Semuany simple. Perempuan tinggal memilih, jika merasa tertekan dan dibatasi, satu saja pertanyaan : apa tetap memilih dibatasi dan menikmati tekanan itu? Atau keluar dari zona itu? 

Mudah, kan?

Bagaimana dengan kalian, Sis? Kalau aku sih yes.

Hidup di zaman serba cyber begini keleluasaan dalam melakukan berbagai hal dan menikmatinya itu unlimited. Believe me. 

Itu berkah kita yang hidup di zaman pasca-merdeka, Sis.

Jika kamu merasa dunia masih memerlukan emansepase, coba berkaca dulu, renungkan, dan bertanyalah dalam hati, jangan-jangan hanya kamu yang terbatasi dalam lingkungan kamu tanpa kamu sadari? 

Karena masalahnya sekarang tidak ada yang marah kok perempuan bergelar doktor atau profesor. Tidak ada yang bengong malah kalau melihat perempuan bekerja jadi tukang bersih-bersih sampah, tidak ada yang heran juga lihat perempuan menjadi tentara dan ditempatkan di wilayah rawan konflik, tidak ada juga yang bingung lihat perempuan jadi sopir truk menjelajahi jalan curam berjurang untuk ke pemukiman kecil di puncak gunung di Himalaya, dan tidak ada yang melongo kok melihat perempuan bekerja di kilang minyak di laut lepas di ribuan mil jauhnya dari rumah, betul, kan? Terkecuali bagi kalian yang mengalami kelatahan bicara soal emansepase dan feminis yang baru gencar-gencaran berbicara soal hak-hak kesetaraan dan persamaan derajat.

Apa mau dikata, inilah yang terjadi setiap Hari Kartini, ketika ada sebagian perempuan yang sibuk menikmati pekerjaan sebagai wanita karier sekaligus menjadi ibu yang baik, ada sebagian perempuan yang masuk desa memberdayakan masyarakat desa terpencil, ada yang sedang asyik membangun sejuta pengalaman dengan mengelilingi dunia, terus berusaha menciptakan formula ampuh untuk menyembuhkan pengidap HIV, mengais ilmu mengejar beasiswa ke luar negeri, bahkan sudah menjelajah ke luar angkasa, sepertinya tidak bisa menutup kenyataan bahwa ada juga sebagian perempuan yang masih sibuk bercuap-cuap macam radio rusak dengan harapan yang sama dari tahun ke tahun soal feminis dan emansipasi.

Kartini mungkin sedih melihat ini. Tapi, Bu, namamu tetap harum kok.

Selamat berkebaya!!!

Komentar

Postingan Populer