BUDAYA DAN MANUSIAWI



Mereka yang hidup di zaman kekinian menganggap hal-hal yang berada diluar nalar logika yang disepakati karena beda, kuno, aneh, asing, menjijikkan, bahkan tak lazim untuk dikerjakan, tapi mereka lupa, bahkan saya sempat lupa, zaman selalu berubah, masyarakat selalu berubah, tidak akan ada modern tanpa ada kuno, tidak akan ada kini tanpa ada dulu, tidak akan ada kebudayaan, tanpa ada kepercayaan.

Kata E.B Tylor (1881), mengatakan bahwa melihat suatu kebudayaan adalah melihat perubahan budata berdasarkan atas teori evolusi. Menurutnya, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat, dan berbagai kemamuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Tapi sering kan kita dibuat tertawa, geleng kepala, sampai mulut menganga hanya karena takjub becampur miris mengetahui betapa uniknya dunia ini, dengan jutaan karakteristik budaya masing-masing yang..... Oke, tertawa memang tidak bisa dilarang, sesuatu yang refleks seperti tertawa mana bisa ditahan, kan? Kalau dilarang merokok saya masih maklum, kalau melarang tertawa? Itu susah, kecuali mungkin situasinya saya sedang berhadapan dengan psikopat yang bakal menguliti saya kalau tidak berhenti tertawa.

Jujur saja, saya membutuhkan beberapa menit agar akhirnya bisa berhenti tertawa saat membaca artikel tentang tradisi Lip Plate untuk para gadis Suku Mursi di Ethiophia. Saya tidak kuat untuk tidak tertawa, apa bisa saya tidak tertawa membaca “Tradisi meregangkan bibir yang disebut Labret atau Lip Plate dimana para gadis Suku Mursi mulai memperbesar ukuran mulutnya (sedower mungkin) agar dibilang cantik”?

Menjadi cantik versi Suku Mursi terbilang aneh, bagi kita yang hidup di zaman kekinian yang memiliki pemahaman dan budaya sendiri, menjadi cantik tidak perlu piring yang menempel di permukaan bibir yang bahkan dilakukan sejak umur muda belia. Dan juga untuk menjadi cantik kita tidak perlu menggunakan bedak kotoran burung seperti wanita Jepang khususnya para Geisha zaman dulu, yang menggunakan make up super tebal sehingga seluruh wajah terlihat putih macam patung batu. Atau untuk menjadi cantik kita tidak perlu meruncing gigi macam ikan piranha seperti para gadis Suku Bagodo di Filipina. Bahkan... menjadi cantik tidak perlu menggunakan anting logam atau emas yang jumlahnya terus-menerus ditambah hingga telinga kita memanjang seperti para gadis Suku Dayak, Kalimantan. Kita dengan dempulan bedak dan sedikit riasan warna-warni yang membuat nyaman saja sudah cukup, tanpa perlu hal-hal yang menyakiti bibir, memakai campuran kotoran burung di wajah, meruncing gigi, dan anting logam di telinga.

Maafkan saya yang sudah tertawa, tapi hal-hal unik (baca; aneh) seperti ini membuat saya berpikir, it is so hard to be so pretty for them.

 Ketika gadis lain pada umumnya berpikir ukuran kecantikan yang ideal adalah dengan berwajah bersih, senyuman manis, rambut yang tak kalah indah dari Raisa, bibir yang penuh dan akrab dengan red lipstick, bertubuh tinggi ramping, dan hal-hal sampingan yang menambah kecantikan yaitu payudara 34 B dan perut yang tidak berlipat-lipat. Ada yang begitu.

Ada pula pemikiran lain yang menganggap potret kecantikan seorang wanita adalah seperti wanita-wanita yang menjadi cover Elle dan Vogue Magazine. Ada. Ada.

Ada juga yang menganggap kecantikan wanita masa kini adalah seperti Agnez Mo, yang kini cokelat, dan..... Kekar.

Ada pula ketika gadis lain juga berpikir menjadi cantik adalah mentransformasikan alis dengan teknik sulaman sampai mencoba berbagai jenis model seni sulam menyerupai gunung dan ular sawah apalah itu yang sama sekali tidak mendekati kerennya alis Lilly Collins.

Bahkan... ada pula pemikiran lain yang mendefinisikan cantik itu tidak mementingkan size, yang penting ‘menggantung’ seperti penyanyi dangdut yang mengaku bahwa mereka adalah dua serigala betina yang tampaknya sehabis manggung langsung kejang urat dibagian leher kebawah.

Tapi di beberapa entitas seperti yang saya jelaskan diatas, ukuran wanita cantik tidak seperti yang lazim kita percayai. Kecantikan itu macam-macam, berbagai jenis, dan... berbeda seperti ciptaan Allah SWT Yang Maha Kuasa. Tidak semua pria yang menganggap hal yang ‘menggantung’ seperti dua serigala betina itu cantik? Tidak semua orang yang meyakini wanita berambut indah dengan tubuh bak Tyra Banks itu cantik?

Contohnya? Simple.

Yakinlah Tyra Banks jika berada di pemukiman Suku Mursi hanya akan jadi gadis terjelek disana karena bibirnya tidak dower. Yakinlah Kate Middleton bukan siapa-siapa bagi pria-pria di Suku Bagodo Filipina karena giginya tidak macam ikan piranha. Yakinlah bokong Kim Kardashian tidak berarti apa-apa dibanding telinga logam di Suku Dayak. Dan yakinlah jika saya yang kerempeng ini tidak akan dilirik pria dan menjadi gadis tua di Mauritania hanya karena tubuh gempal bagi wanita disana melambangkan kemakmuran dan menjadi syarat untuk cepat mendapatkan suami. Big is beautiful bagi orang-orang di Mauritania.

Bukan berarti jika berada di sana kita juga harus mengikuti tradisinya agar diterima, tidak juga, kecuali memang tujuannya mau gebet pria Suku Mursi dan rela bibirmu dipasang Lip Plate.

Karena cantik, tidak melulu tentang tubuh ramping, bibir seksi, dan kulit mulus.

Karena cantik, no pain, no gain.

Karena menjadi cantik, ada rasa sakit dan perlu usaha keras untuk mendapatkannya.

Tapi lagi-lagi ini budaya, tradisi ini dibentuk dari kepercayaan juga kebiasaan oleh masyarakat, juga disiplin diri sebagai ketaatan karena merupakan simbol bagian dari masyarakat itu. Seperti kata Koentjaraningrat sekalipun, berbicara mengenai antropologi tidak bisa dipisahkan tentang kebudayaan.
Segala unsur yang kita percayai tentang manusiawi dan krusial tentu sering tidak terlihat manusiawi pada budaya-budaya lain. Apa yang manusiawi dari Tradisi Suku Chewa di Afrika yang terkenal karena topeng mereka, yang memiliki tradisi bak Hannibal Lecter memotong tenggorokan Jenazah untuk membersihkan kotoran perut jenazah?

Atau apa terasa manusiawi mengenai Tradisi Ngayau pada Suku Dayak yang suka memenggal kepala musuhnya? Ataukah manusiawi jika seorang Ksatria Samurai melakukan Harakiri demi menjaga kehormatan keluarga atau jika seseorang merasa bertanggung jawab pada sesuatu bahkan rasa malu?

Oh, come on, mana ada bunuh diri itu sifat seorang ksatria? Ya well, kecuali ksatria buatan media?

Dan ini.. Apa manusiawi mengenai tradisi rela dipukuli demi seorang gadis yang dipinang di Suku Sharo Afrika biar dianggap pria sejati? By the way, kok saya menyayangkan di Indonesia tidak ada tradisi seperti ini, ya? Hihi

Well, manusiawi atau tidak, jelas-jelas budaya adalah bentukan masyarakat itu sendiri.

Saya masih ingat perkataan Rektor saya saat saya masih jadi mahasiswa yang kebetulan merupakan dosen besar ilmu sosiologi, beliau mengatakan, “Budaya itu aneh? memang, tapi seaneh apapun budaya tidak boleh dicela, budaya tidak boleh dihamiki, karena itu milik kelompok lain, jika ada yang melakukan keduanya, sesungguhnya pengetahuannya kerdil”.

Apa yang dikatakan rektor saya benar, jangan sekali-sekali membesarkan perbedaan, mendiskriminasi, dan memandang rendah suku bangsa lain, karena kadang kita secara tidak sadar melakukan itu. Di dunia ini selalu ada yang primitif dan ada yang adiluhung. Selalu ada yang kuno dan ada yang modern.

Pada kenyataannya budaya dan manusiawi sering bertolak belakang apalagi jika dikaitkan dengan masalah Human Rights. Budaya dan Manusiawi seperti dua sisi mata uang yang berbeda, bersisian, bersama dan tidak bisa dipisahkan.

Diam-diam saat itu gue bertanya dalam hati, “Kalau ngetawainnya doang enggak papa kan, Pak?”
Karena ya, sekali lagi, tawa itu refleks, dan banyak hal dari tradisi didunia ini yang membuat orang tertawa bahkan tak habis pikir, tapi ujung-ujungnya dari rasa geli dan gemas, akhirnya saya merasa kasihan kemudian bersyukur.

Thank God I wasn’t born in there! Thank God that i was born like this. Dengan kulit cokelat, berhidung setengah jadi, rambut ikal, dan badan macam papan cucian, dan terlahir dari orangtua yang tidak membiarkan anaknya memasang piring di bibirnya. Thank God i live in Indonesia!

Mari kita  bayangkan bagaimana sakitnya menjadi cantik di negara lain? Di Afrika? Menjadi cantik di Bagodo? Mauritania?

pada akhirnya berbudaya itu manusiawi, apalagi menjadi manusia yang berbudaya, tapi tolak ukur berbudaya dan manusiawi sangat berbeda. kenyataannya sulit untuk memanusiawikan budaya, contohnya Jepang yangmasih sulit untuk menghentikan tradisi harakiri-nya yang sebenarnya sudah dilarang sejak dulu, tapi hingga saat ini masyarakatnya masih banyak melakukannya.

Sekali lagi, manusiawi atau tidak, tetap itu budaya orang lain, gerak hidup orang lain, milik orang lain yang mesti kita dihargai (juga kalau menggelitik ditertawakan (khusus gue, sorry for that)), karena sesungguhnya keberadaannya bahkan sejak sebelum kita ada. *0*





Komentar

Postingan Populer