Eksistensi Rumah Panggung di Bangka Tengah

Sejujurnya, tulisan ini muncul ketika saya masih bekerja dalam dunia jurnalistik beberapa tahun yang lalu. Bekerja di dunia yang termasuk saya gemari dari sekian banyak pekerjaan membuat saya dilemma apalagi karena waktu terlalu banyak diluangkan dengan mencari berita sementara kesempatan saya untuk nge-blog terbatasi. Ngeles ceritanya, ya, dari pengakuan dosa. Akan tetapi.. I wanna share something about my island. Sesuatu yang tentunya dimiliki oleh setiap daerah di seluruh penjuru nusantara, dengan sangat singkat.
Ketika melakukan perjalanan di sepanjang jalan dari gapura ‘Selamat datang di Kabupaten Bangka Tengah’ yang merupakan Kabupaten Tetangga dari Kota Pangkalpinang tempat saya tinggal, sampai menuju ke Kota Koba (Ibukota Kabupaten Bangka Tengah), atau ketika melewati di sepanjang ruas jalan Kecamatan Simpang Katis dan Sungai Selan, yang tidak hanya dihiasi oleh pemandangan hutan, perbukitan, juga pemukiman pedesaan. Jika awas, pernahkah melirik bangunan-bangunan rumah di setiap desa yang dilewati?  Kebanyakan rumah-rumah berjejeran dengan bangunan semipermanen dan permanen, berdinding beton, bahkan berasitektur modern, bercat warna-warni.
Di lain hal, pernahkah menemukan bangunan rumah panggung dengan material kayu berdiri kokoh di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah, layaknya rumah-rumah di pemukiman pesisir? Seperti rumah panggung ciri khas Bangka Belitung?
Sungguh pertanyaan-pertanyaan retoris ini bisa menjadi boomerang  Ketika jelasnya di perkotaan sudah banyak dihiasi bangunan-bangunan mewah nan kokoh, bertingkat bersifat skyline, dihiasi berbagai perumahan elite, dan berasitektur kekinian dan futuristik, maka dari itu jangan harap rumah panggung dapat ditemukan di kawasan perkotaan, hanya saja potret realita berbicara bahwa populasi rumah panggung di pedesaan juga hanya segelintir yang bisa dijumpai. 
Secara garis besar, rumah tradisional khas Bangka Belitung dipoles oleh pengaruh arsitektural Sumatra Selatan, karena yes Bangka Belitung dulu masih termasuk dalam Provinsi Sumatra Selatan sebelum akhirnya berpisah saat pemekaran wilayah. Rumah Melayu yang berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, rotan, bambu, kulit pohon, daun rumbiak, atau alang-alang yang tumbuh dan diperoleh di sekitar pemukiman. Ciri bangunan rumah panggung beratap tinggi dimana sebagian atapnya miring, dengan puncaknya yang mengerucut bak limas, memiliki beranda di muka, serta jendela yang banyak sebagai fentilasi udara. Rumah panggung terdiri dari rumah ibu dan rumah dapur yang berdempetan. Ada juga rumah panggung yang ber-desain memanjang kesamping karena pengaruh arsitektur non melayu seperti tampak pada bentuk rumah panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan tionghoa. Pengaruh non-melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga dengan gaya lengkung batu.
Jika berkeliling ke Bangka Tengah, entitas itu sudah sulit sekali dijumpai. Di Desa Cambai, Jelutung, Penyak, Keretak, Terak, Teru, Beruas, Perlang, Terentang, Guntung, Lubuk, dan Penyak dapat ditemukan beberapa di sepanjang ruas jalannya. Hanya beberapa, bahkan jumlahnya dimenangkan oleh jumlah perumahan elite yang ada. Terlihat sekali bahwa masyarakat berlomba-lomba untuk me-modern-kan bangunan seiring perkembangan arus modernisasi yang melahirkan sifat konsumtif masyarakatnya yang memacu tergerusnya kekunoan menjadi kekinian.
Terkait hal itu, saya sering sekali melewati Desa Perlang Kecamatan Lubuk Besar, yang juga terdapat bangunan rumah panggung yang masih dipertahankan oleh pemiliknya. Salah seorang pemiliknya, Yana, mengaku bahwa rumah yang ditempatinya sudah berumur ratusan tahun. “Ku lah dak tahu agik kapan rumah ni dibangun, tapi rumah ni hasil turun-temurun keluarga, punye orangtue nenekku, nenekku ge umur e la 90 tahun, lebih dari zaman penjajahan” katanya. Kalau umur kakek dan neneknya saja hampir 100 tahun, lihatlah rumah panggungnya yang masih berdiri kokoh dan ditata indah! Oh, setiap kali melewati rumah itu, saya selalu melihat, enggak tahu kenapa tapi.. saya merasa rumah itu indah.
Yana juga menuturkan bahwa rumah panggung yang dibangun dari kayu sebatang ini sudah dimanfaatkan oleh empat generasi dan sama sekali belum ada renovasi. Kondisinya masih lumayan bagus dan kokoh di atas tanah, tidak merubah bentuk dan bahan sama sekali, sekalipun ada beberapa bagian rumah yang rusak, seperti atap, lantai bolong dan dapur yang dimakan zaman, tapi tetap dilakukan perawatan walaupun tidak secara maksimal karena masalah biaya.
Tidak jauh dari rumah Bu Yana, saya berjalan kaki menuju rumah Atok Hon sekitar 100 meter di belakang rumahnya, dan itu saya dapatkan atas rekomendasi Bu Yana sendiri tentang ketertarikan saya para rumah panggung. Rumah Atok Hon jauh lebih modern ketimbang rumah Bu Yana, melihatnya saja mengingatkan saya pada rumah-rumah zaman belanda yang masih kokoh di beberapa tempat di sudut kota tempat tinggal saya.
Bapak yang ramah sekalipun agak pikun saat meladeni saya mengobrol, akan tetapi.. sekalipun sudah cukup renta, Atok Hon masih bisa memberikan informasi berharga kepada saya. Rumahnya sering dijadikan lokasi prewedding. “Kutinggal di rumah ini tahun 1930-an yang dibeli dari seorang mantra, tapi rumah ini sudah ada sekitar tahun 1920-an. Dulu rumah panggung ini beralas dan berdinding kayu, dan beratap daun. Dirawat dengan sedemikian rupa, sekalipun banyak bagian atap rumah yang rusak” kata pria berusia 80 tahun ini.
Sekitar tahun 1930-an rumah ini mulai direnovasi menjadi lebih kokoh dengan material permanen, karena tampak di bagian depan beranda dan lantainya sudah beralas semen, beratap genteng, sekalipun di bagian badannya masih berlapis kayu, hanya saja yang membuatnya unik adalah rumah ini dipengaruhi sentuhan kombinasi antara nuansa Palembang dan penjajahan zaman kolonial Belanda, mengingat bentuk depan rumah, tangga, dan wujud desain lengkungan batunya.
“Kebanyakan rumah dibangun dari kayu nyatoh, seru, dan pelawan. Kayu-kayu yang kuat dan terbukti masih mempertahankan bangunan ini. Kuberharap sekali rumah ini bisa dimanfaatkan oleh generasi-generasiku berikutnya, dan menjaga keberadaannya karena inilah salah satu identitas daerah” lanjut Atok Hon, yang membuat saya bingung sendiri kalau sudah bercerita tentang macam-macam kayu, karena saya terlalu bodoh tidak bisa membedakan jenis kayu yang ada di Pulau Bangka.
Eksistensi rumah panggung adalah cerminan ciri khas daerah yang bersangkutan, sebagai produk budaya dan ikonisasi wujud kearifan lokal yang mestinya dilestarikan hingga akhir zaman. Jangan ragu merujuk pada Kabupaten Bangka Induk yang pemerintahnya mengusahakan agar nilai tradisional dan wujud hasil seni daerah tetap terjaga dengan menetapkan beberapa rumah tua sebagai aset pariwisata rumah kuno, dan memberikan bantuan keperawatan rumah untuk kelestarian, karena sayang sekali rumah-rumah cantik ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.
Realisasi seperti itu perlu diterapkan di berbagai daerah demi pelestarian kebudayaan yang secara tidak langsung bisa memberikan identitas pada daerah itu sendiri. Jangan sampai sebuah tradisi menjadi histori karena modernisasi, mengingat eksistensi rumah panggung itu sendiri sudah terancam punah. Jadi, perjalanan dilanjutkan dengan berkeliling daerah Bangka Tengah, berharap menemukan hal-hal baru lagi yang tentunya berharga. Bagaimana dengan kota-mu?

Komentar

Postingan Populer