MASA DAN ANAK KECIL ITU ….

Masa kecil adalah masa-masa yang indah dan seru (katanya).. jika diingatkan dengan hal itu, terlintas di benak ku, memori masa-masa kecil ku yang begitu ‘gelap’. Bukan ‘gelap’ dalam maksud konotasi negative. Bukan. Hanya saja pengalaman di masa aku masih ingusan, dekil, dan bau itu diriku pribadi begitu luar binasa nakalnya. Kalau di ingat-ingat masa ku di bangku SD adalah masa yang bikin aku senyam-senyum dan tertawa sendiri dibuatnya, mengingat kejadian-kejadian yang memalukan tapi berharga yang tidak mungkin aku lupakan sampai saat ini.
Dulu aku sering bikin masalah sama anak tetangga (dia juga sih yang sering bikin masalah ke aku), sering berantem ala ksatria baja hitam, sering ngutil di warung yang penjualnya pelit nau’dzubillah, sering ga sopan apalagi kalau ada tamu, sering berisik dan malu-maluin, ngebut-ngebutan (naek sepeda) sampe nabrak anak orang bikin kepalanya berdarah, lempar-lemparan batu sampe kepala temenku pecah, sering keluar malam ga pake bilang-bilang ke orang tua, ngerokok, tapi waktu dulu ga punya duit kalo beli rokok beneran jadinya memanfaatkan daun pisang yang kering, jarang nge-les sampe duit les nya aku pake buat maen PS, nilai rapor banyak merahnya.. apalagi nilai agamaku, masa’ dengan sepelenya dan tanpa dosanya sewaktu aku menjawab soal yang diberikan guru saat duduk di kelas 2 yang pertanyaannya adalah “surat Al-fatihah berbunyi?...”.. La aku jawab “lonceng”.. betapa konyolnya aku saat dulu, dan… ckckck.. cukup dah. Kalau di pikir-pikir ga ada pengalaman ku yang seharusnya ‘baik dan wajar’ gitu, kaya layaknya anak cewe bantuin emaknya masak, menyapu rumah, diam kemayu, maen boneka, rumah-rumahan, dan faktanya saudara-saudara itu sama sekali tidak aku lakukan, teman-teman cewe ku hanyalah teman belajar, teman maen BP (Bongkar Pasang), dan merupakan teman-teman maen di lingkungan sekolah.
Sewaktu beranjak SD, asal kau tau kalau badan ku dulu gemuk-tinggi, cubby, manis, imut-imut, bermata belok, berkulit putih, berambut keriting tuil-tuil, berbibir sexy, dan sering berkaos kaki renda-renda, dan semenjak aku memasuki lingkungan ‘hitam’ yang diisi oleh anak-anak cowo seumuran ku yang beraneka ragam rupa, mulai dari yang kurus, ceking tinggi, dan yang super gemuk, dan pendek, jelek, sampe yang paling jelek, dan yang paling bau pun ada dan lain sebagainya maka whoalaa… berubah la rupaku ikutan jelek dan ingusan. Mereka sepertinya berpengaruh sekali terhadap jiwa sadisme ku waktu itu, pantas saja betapa premannya aku dulu. Huff..
Aku tidak bisa menyalahkan kedua orang tuaku karena kelakuan ku, ku sadari bahwa sebagian besar itu karena aku saja yang tidak mendengarkan dan memperhatikan nasehat mereka. Perkalian saja aku baru hafal dan mengerti totalnya pas duduk di kelas V, itu juga yang mendidiknya keras dan galak. Huff.. Tak bisa kubayangkan betapa susah dan kewalahannya orang tua ku mengurusi ku dulu ..
Well.. itu cerita ku.. Tolong jauhkan dan hindari tulisan ini dari balita atau anak kecil yang akan beranjak remaja yang sudah bisa membaca..
Ini yang sebenarnya ingin aku deskripsikan mengenai bocah aneh berambut kobo-chan dan berkulit coklat. Aku punya keponakan laki-laki yang sekarang sedang berdiri di bangku kelas 1 SD (duduk maksudnya).., bocah yang bisa dikatakan ganteng, lucu, imut, ngegemesin, berlesung pipi sebelah, dan… nakal juga berakal, kalau tidak di puji seperti itu nanti emaknya marah-marah. (seperti yang tertera di gambar itu lah tokohnya. Silahkan kalian identifikasi dan interpretasikan rupa bocah aneh ini).
Biasa kalau anak kecil, terkadang tingkah nya ngegemesin, ngangenin, juga kadang-kadang nyebelin. Dan ponakan ku yang bernama Fariz ini kebanyakan nyebelinnya. Semua kemauannya mesti diturut, kalau jajan sehari itu bisa berkisar 5000 lebih, dan benda yang dibelinya itu jajanan yang ga baik untuk anak seusianya, seperti mainan pistol-pistolan, mobil-mobilan yang memang tidak enak untuk dimakan. Juga bocah ingusan ini kalau makan melebihi porsi makan ku, sukanya mie instant, biasa kalau sudah makan nasi mau nambah makan mie instant, pernah juga saat dia makan sozis goreng pake saus di masukin di dalam plastik, sampe rumah palstiknya dijilat-jilat kaya ngejilat Pidlepop sampe plastiknya bersih mengkilat. Masya Allah.. kasian sekali orang tuanya punya anak pelahap semuanya.
Nyebelinnya lagi, kalau ada tu bocah nonton aja ga tenang jadinya. Dia pengennya Tom n Jerry la, Upin n Ipin la, Power Rangers la, Avatar la, Pink Panther la, dan anehnya dia sukanya nonton sinetron di Indosiar yang bertema kolosal-modern yang ga banget dimana banyak nampilin binatang-binatang aneh buatan komputer yang… ya gitu la.. aneh. Yang aku tau selain makan, hobinya juga nonton, jalan-jalan, dan maen.
Karena dia, ada satu hal yang bikin aku jadi mikir masa kecil ku. Aku seperti dia kah dulunya?? Diceritakan, beberapa hari yang lalu, kalau pulang sekolah, bocah ini selalu dijemput oleh ku di saat aku tidak ada kerjaan. Singgah di rumahku dulu, sampai jam 2 tiba saat itu bocah mesti ku antar ke rumahnya dan TPA (bukan Tempat Penitipan Anak, apalagi Pembuangan Anak, hanya Tempat Pendidikan Alquran). Sore harinya, si Atoknya tu bocah dikejutkan dengan sepucuk surat mencurigakan tanpa amplop yang di atasnya terdapat 4 lembar uang seribuan yang lusuh yang diletakkan di tempat tidur kamar Atoknya. Dan surat itu pun berisi ……. (coba anda lihat gambar satu ini).
(kesalahan bukan pada komputer anda, melainkan pada tulisan si bocah aneh berumur 6 tahun yang menulis tanpa ‘titik’, ‘koma’, dan spasi yang jelas di dalamnya. FYI untung saja tulisan ini tidak perlu mendatangkan penerjemah dari negara Timur Tengah sana).

Berbunyi : “ni tok duit untuk beli tai pusui tapi jangan diberi sape sape tapi beli 2 tai pusui yang kecil dari Fariz”
(ini Kek uang untuk beli Tai Pusui, tapi jangan di beri siapa-siapa, tapi beli 2 Tai Pusuinya yang kecil. Dari Fariz.)
Suatu hal yang biasa dan sederhana tapi bagiku luar biasa bikin aku sendiri tersentak dibuatnya. Polos tapi Cerdas menurutku. Kali pertama baginya menyampaikan pesan melalui tulisan seperti ini. Aku tidak menyangka anak seusianya sudah bisa menyalurkan keinginan di benaknya dengan menulis. Aku langsung merefleksikan ke masa ku dulu. Apakah aku pernah seperti ini dulu??hmm.. entahlah.. Bukan bermaksud memuji keponakan sendiri. Kepolosan anak kecil yang membuat aku senyam-senyum karenanya. Tapi menurutku anak kecil pun bisa menjadi contoh yang baik bagi kita. Tergantung bagaimana kita menyikapi kepolosan dan tindakan mereka. Aku yakin itu.

Komentar

Postingan Populer