HARRY POTTER dalam IMPERIALISME MEDIA
Berbicara mengenai imperialisme media, tidak terlepas dari berbagai bentuk media-media yang ada. Baik itu media cetak maupun elektronik. tulisan ini, menitikberatkan dan membahas kasus sederhana/ media yang berada dalam kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan imperialisme media.
Siapa yang tidak mengenal Harry Potter, sosok tokoh penyihir remaja buatan J.K Rowling. Buku pertama Harry Potter and the Sorcerer Stone,disusul The Chamber of Secrets, Prisoner of Azkaban, Goblet of Fire, Order of Phoenix, the Half Blood-Prince, dan Rowling pun telah meluncurkan sekuel Harry Potter terakhir buku ketujuh “Deathly Hallows”. Ketujuh Novel Harry Potter ini memang menceritakan dan mengeksklusifkan tokoh Harry Potter itu sendiri sebagai tokoh utama, menggambarkan penjalanan hidup Harry Potter melawan kekuatan sihir jahat yang dimiliki musuh-musuhnya. Deskripsi novel yang imajinatif, dan penggambaran tokoh yang kuat dan memang kelihatan sulit untuk dipahami dengan mudah oleh anak-anak. Dalam hal ini buku-buku Harry Potter (asli Inggris) telah diluncurkan ke berbagai negara di dunia dan mudah didapatkan di toko-toko buku dalam bentuk buku terjemahan. Seiring dengan berjalannya buku yang diterbitkan dan diluncurkan, tokoh Harry Potter ini tak tanggung di wujudkan dalam bentuk Film, diambil dan digarap dari story buku itu sendiri. Sama hal nya dengan buku, sekuel film Harry Potter sudah mencapai sekuel terakhir.
Booming-nya Harry Potter memang sangat luar biasa, booming yang terjadi di seluruh negara secara global yang memang dominasi media-media khususnya barat terhadap negara lain. Perkembangan Harry Potter yang Berawal dari buku kemudian diwujudkan menjadi sebuah film sampai-sampai segala macam pernak-pernik, style, dresscode, property mengenai Harry Potter dikonsumsi oleh remaja-remaja dunia (juga khususnya anak-anak).
Harry Potter merupakan simbol dari pengaruh media global terhadap masyarakat. Harry Potter sendiri baik itu buku maupun film sudah merupakan bagian dari gaya hidup terutama masyarakat perkotaan. Dan yang menjadi incarannya adalah masyarakat khususnya anak-anak dan remaja. Adapun pengaruhnya :
• Perwujudan dan penguatan tokoh Harry Potter dalam bentuk buku atau film, style dresscode, pernak-pernik dan property secara tidak langsung memberikan pengaruh khususnya remaja dan anak-anak yaitu memanipulasi akal budi manusia, misalnya ‘sihir’ atau magis (yang erat dengan tongkat sihir) juga mantra adalah nilai di dalam film atau buku Harry Potter yang memang melekat dalam ceritanya. Dalam hal ini sihir/ magis juga mantra adalah suatu kebohongan atau suatu hal yang bukan benar yang menjadi ada nilai kebenarannya.
• Masyarakat menjadi konsumtif dan individualistis, semua konsumen dirangsang untuk mengkonsumsi produk Harry Potter dari media secara continue. Seperti Film dan Buku Harry Potter yang merangsang konsumen untuk mendapatkannya yang sebenarnya adalah sebuah keinginan dan dijadikan sebagai sebuah kebutuhan. Produk media global ini dikejar untuk memuaskan individu semata.
• Harry Potter sendiri telah menjadi Trend bagi remaja dan anak-anak, style, koleksi pernak-pernik, properti-properti berbau Harry Potter dikonsumsi oleh remaja-remaja dunia, misalnya Scraft model Harry Potter dan kacamata yang ramai digunakan. Juga hairstyle Harry Potter menjadi incaran anak laki-laki untuk bergaya ala Harry Potter (seperti potongan batok kelapa). Dalam hal ini trend menjadi salah satu pembentuk budaya Pop, yang mengakibatkan remaja dan anak-anak tidak mempunyai identitas jati diri.
• Di Indonesia khususnya sebagai negara dunia ketiga yang rentan menjadi incaran mutlak bagi imperialisme media. Salah satu pengaruh yang diberikan yaitu mengikisnya budaya-budaya lokal di Indonesia. Harry Potter telah menjadi trend dan sosok tokoh pahlawan baru yang menjadi idaman setara di jajarkan dengan tokoh superhero lainnya seperti Superman, Spiderman, Batman, X-Men, Flash. Bisa dikatakan Indonesia sendiri memiliki sosok tokoh superhero yang semestinya bisa booming dan setidaknya dikenal oleh remaja dan anak-anak Indonesia, yaitu Gatot Kaca. Hanya saja negara Indonesia tidak terbiasa mendokumentasi semua kebudayaan sendiri karena rujukan nya adalah media barat sehingga masyarakat Indonesia tidak kenal dengan kebudayaan sendiri.
Memang fenomena yang sangat disayangkan yang terjadi untuk negara kita, kita hanya bisa menerima saja tanpa bertindak untuk menanggulangi efek-efek atas penerimaan tersebut. Prestise atas kebudayaan sendiri memang sangat rendah, tapi setidaknya dan baiknya melakukan usaha untuk meminimalisir pengaruh-pengaruh tersebut dengan memberikan perhatian terhadap bidang pendidikan untuk perubahan ke arah yang lebih bermanfaat, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang layak dan mana yang pantas. Jangan sampai negara kita hanya bisa menerima, menerima, dan menerima saja dari negara lain.
Siapa yang tidak mengenal Harry Potter, sosok tokoh penyihir remaja buatan J.K Rowling. Buku pertama Harry Potter and the Sorcerer Stone,disusul The Chamber of Secrets, Prisoner of Azkaban, Goblet of Fire, Order of Phoenix, the Half Blood-Prince, dan Rowling pun telah meluncurkan sekuel Harry Potter terakhir buku ketujuh “Deathly Hallows”. Ketujuh Novel Harry Potter ini memang menceritakan dan mengeksklusifkan tokoh Harry Potter itu sendiri sebagai tokoh utama, menggambarkan penjalanan hidup Harry Potter melawan kekuatan sihir jahat yang dimiliki musuh-musuhnya. Deskripsi novel yang imajinatif, dan penggambaran tokoh yang kuat dan memang kelihatan sulit untuk dipahami dengan mudah oleh anak-anak. Dalam hal ini buku-buku Harry Potter (asli Inggris) telah diluncurkan ke berbagai negara di dunia dan mudah didapatkan di toko-toko buku dalam bentuk buku terjemahan. Seiring dengan berjalannya buku yang diterbitkan dan diluncurkan, tokoh Harry Potter ini tak tanggung di wujudkan dalam bentuk Film, diambil dan digarap dari story buku itu sendiri. Sama hal nya dengan buku, sekuel film Harry Potter sudah mencapai sekuel terakhir.
Booming-nya Harry Potter memang sangat luar biasa, booming yang terjadi di seluruh negara secara global yang memang dominasi media-media khususnya barat terhadap negara lain. Perkembangan Harry Potter yang Berawal dari buku kemudian diwujudkan menjadi sebuah film sampai-sampai segala macam pernak-pernik, style, dresscode, property mengenai Harry Potter dikonsumsi oleh remaja-remaja dunia (juga khususnya anak-anak).
Harry Potter merupakan simbol dari pengaruh media global terhadap masyarakat. Harry Potter sendiri baik itu buku maupun film sudah merupakan bagian dari gaya hidup terutama masyarakat perkotaan. Dan yang menjadi incarannya adalah masyarakat khususnya anak-anak dan remaja. Adapun pengaruhnya :
• Perwujudan dan penguatan tokoh Harry Potter dalam bentuk buku atau film, style dresscode, pernak-pernik dan property secara tidak langsung memberikan pengaruh khususnya remaja dan anak-anak yaitu memanipulasi akal budi manusia, misalnya ‘sihir’ atau magis (yang erat dengan tongkat sihir) juga mantra adalah nilai di dalam film atau buku Harry Potter yang memang melekat dalam ceritanya. Dalam hal ini sihir/ magis juga mantra adalah suatu kebohongan atau suatu hal yang bukan benar yang menjadi ada nilai kebenarannya.
• Masyarakat menjadi konsumtif dan individualistis, semua konsumen dirangsang untuk mengkonsumsi produk Harry Potter dari media secara continue. Seperti Film dan Buku Harry Potter yang merangsang konsumen untuk mendapatkannya yang sebenarnya adalah sebuah keinginan dan dijadikan sebagai sebuah kebutuhan. Produk media global ini dikejar untuk memuaskan individu semata.
• Harry Potter sendiri telah menjadi Trend bagi remaja dan anak-anak, style, koleksi pernak-pernik, properti-properti berbau Harry Potter dikonsumsi oleh remaja-remaja dunia, misalnya Scraft model Harry Potter dan kacamata yang ramai digunakan. Juga hairstyle Harry Potter menjadi incaran anak laki-laki untuk bergaya ala Harry Potter (seperti potongan batok kelapa). Dalam hal ini trend menjadi salah satu pembentuk budaya Pop, yang mengakibatkan remaja dan anak-anak tidak mempunyai identitas jati diri.
• Di Indonesia khususnya sebagai negara dunia ketiga yang rentan menjadi incaran mutlak bagi imperialisme media. Salah satu pengaruh yang diberikan yaitu mengikisnya budaya-budaya lokal di Indonesia. Harry Potter telah menjadi trend dan sosok tokoh pahlawan baru yang menjadi idaman setara di jajarkan dengan tokoh superhero lainnya seperti Superman, Spiderman, Batman, X-Men, Flash. Bisa dikatakan Indonesia sendiri memiliki sosok tokoh superhero yang semestinya bisa booming dan setidaknya dikenal oleh remaja dan anak-anak Indonesia, yaitu Gatot Kaca. Hanya saja negara Indonesia tidak terbiasa mendokumentasi semua kebudayaan sendiri karena rujukan nya adalah media barat sehingga masyarakat Indonesia tidak kenal dengan kebudayaan sendiri.
Memang fenomena yang sangat disayangkan yang terjadi untuk negara kita, kita hanya bisa menerima saja tanpa bertindak untuk menanggulangi efek-efek atas penerimaan tersebut. Prestise atas kebudayaan sendiri memang sangat rendah, tapi setidaknya dan baiknya melakukan usaha untuk meminimalisir pengaruh-pengaruh tersebut dengan memberikan perhatian terhadap bidang pendidikan untuk perubahan ke arah yang lebih bermanfaat, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang layak dan mana yang pantas. Jangan sampai negara kita hanya bisa menerima, menerima, dan menerima saja dari negara lain.
Komentar