KRISIS INDUSTRI MEMPENGARUHI MASYARAKAT
Sering sekali kita mendengar dan melihat berita di media massa, baik di koran, radio maupun televisi mengenai suatu produk makanan yang di dalamnya terdapat zat beracun bagi kesehatan manusia, ataupun berita bahan kosmetik yang juga terdapat bahan zat berbahaya yang dapat merusak tubuh ataupun wajah. Hal ini sebenarnya merupakan suatu permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan khususnya manajemen perusahaan dan bisa dikatakan sebagai situasi krisis yang melanda perusahaan. Begitu pula dengan kasus yang telah lama muncul yaitu kasus penyedap makanan Ajinomoto yang diduga terbuat dari bahan yang berasal dari babi. Sebelumnya pernah juga terjadi krisis yang melanda pabrik permen dimana produk tersebut tercampur dengan zat-zat berbahaya dan terlarang (Narkotika). Tragisnya, masalah krisis ini telah menimbulkan korban.
Masalah-masalah ini berkembang dan telah menjadi isu nasional yang telah melekat di telinga masyarakat. Implikasi yang diberikan dari masalah-masalah tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan besar yang ternama, tetapi juga perusahaan kecil dan pedagang kecil yang telah kecipratan akibatnya. Begitu banyak pengangguran yang terjadi (banyak produk yang tidak laku di pasaran mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian sehingga terancam harus gulung tikar). Lalu, berkembang lagi masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak makanan lain yang ikut tercemar. beberapa bahan makanan yang dilaporkan tercemar racun adalah minyak goreng, bakso, mie, rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar lainnya.
Bagaimana kontribusi masalah ini kepada masyarakat? masyarakat khususnya sebagai konsumen (korban Produk) yang akhirnya merasa ’dipermainkan’ dan menjadi harap-harap cemas untuk mengkonsumsi berbagai produk yang ada. Memunculkan rasa skeptis dan kewaspadaan yang tinggi untuk mencoba menggunakan berbagai jenis produk.
Di samping masalah yang serius seperti di atas, tidak jarang perusahaan dilanda oleh masalah intern yang implikasinya bagi kemajuan suatu perusahaan, masalah krisis yang dihadapi perusahaan misalnya masalah pencemaran lingkungan oleh pabrik yang berdampak buruk pada masyarakat sekitar pabrik, masalah produk yang tidak bisa dipasarkan yang mempengaruhi pendapatan keuntungan perusahaan, ataupun masalah unjuk rasa yang dilakukan oleh para pekerja, dimana para pekerja merasa diberikan suasana kerja yang buruk dan tidak mendapatkan kesejahteraan (adanya aturan-aturan perusahaan yang ketat, sistem manajemen serta kebijakan kepada pekerja yang berlebihan) sehingga tidak ada ruang bagi para pekerja untuk berpartisipasi dan berinovasi dalam kebijakan perusahaan. Tentunya masih banyak contoh lain dari krisis yang dihadapi perusahaan.
Melihat contoh kasus penyedap rasa dan begitu juga produk makanan beracun, terkesan bahwa kebanyakan perusahaan belum dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang seperti ini, dimana penanganan yang dilakukan begitu besar dan melibatkan berbagai pihak. Mencirikan contoh manajemen perusahaan yang krisis. Kelihatan sekali kalau banyak perusahaan yang mengabaikan masalah krisis ini. Perusahaan baru kelabakan dan menjadi panik bilamana krisis tersebut betul-betul terjadi. Dan sebagai antisipasi, perusahaan tidak diprioritaskan untuk mencari penyebab kenapa masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya untuk memperbaiki system manajemen perusahaan dengan manajemen yang lebih baik agar tidak terjadi krisis perusahaan yang pastinya akan berkepanjangan.
Bagaimana hubungan perusahaan dengan masyarakat? Masyarakat pastinya memiliki hubungan terhadap suatu perusahaan yang menghasilkan produk yang dikonsumsi oleh mereka, hubungan tersebut dibarengi dengan suatu kepercayaan. Biasanya masyarakat tidak mudah termakan isu yang disebarkan oleh pihak tertentu yang ingin merugikan perusahaan. Misalnya kasus nyata jika suatu produk menimbulkan korban akibat ‘sabotase’ dengan cara memasukkan racun atau zat/ bahan berbahaya, adanya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan akan memudahkan manajemen perusahaan. Hal seperti ini pernah terjadi pada perusahaan/ pabrik biscuit ternama di Indonesia yang memproduksi biskuit (Oreo) yang diisukan terdapat zat kimia berbahaya yang dapat merusak tubuh manusia. Adanya kepercayaan publik bahwa tidak mungkin korban jatuh karena kelalaian pabrik dalam membuat makanan, ini telah menyelamatkan perusahaan-perusahaan biscuit dari krisis.
Bagaimana solusi dalam mengatasi krisis perusahaan ini? Pembentukan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan salah satunya dapat ditempuh dengan cara membina hubungan baik dengan media massa. Dengan adanya hubungan baik ini media massa akan memberikan informasi yang baik tentang perusahaan. Seperti perusahaan biscuit Oreo, yang telah meng-iklankan produk mereka yang sangat jelas sekali pesan yang ingin disampaikan perusahaan agar masyarakat tidak skeptis dan waspada lagi untuk mengkonsumsi produk mereka. Intinya biscuit Oreo tidak beracun, dan isu yang pernah melanda perusahaan tidaklah benar.
Hubungan perusahaan dengan masyarakat yang baik didasarkan atas kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan, dan itu juga harus dipengaruhi dengan bagaimana ‘ímage’ perusahaan dimata masyarakat. Jika memang masyarakat melihat bahwa banyak keuntungan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat, misalnya adanya wujud sumbangan dana ataupun sumbangan material (pembuatan rumah yatim piatu, masjid dll) yang bersifat sosial, maka ‘image’ perusahaan di mata masyarakat akan baik. Ataupun sederhananya, misalnya menjadikan produk perusahaan sebagai ‘sponsor’ suatu kegiatan masyarakat akan memberikan implikasi yang baik. ‘Image’ baik ini akan sangat memperkuat daya perusahaan dalam menghadapi krisis. Adanya komunikasi antar keduanya juga tidak merenggangkan hubungan. Masyarakat tidak mudah termakan isu yang merugikan perusahaan. Begitu pula di dalam perusahaan, perusahaan memberikan suasana kerja yang menyenangkan dan kebijakan yang tidak berlebihan, membuat para karyawan dapat berpartisipasi dalam kebijakan perusahaan, dan secara tidak langsung hal tersebut mempengaruhi para karyawan untuk selalu bertindak ramah dan bersimpati dalam berhubungan dengan mayarakat. Berbeda pula dengan kasus Lumpur PT. Lapindo Surabaya yang mengalami kerugian milyar rupiah akibat kecelakaan meluapnya Lumpur hingga hampir menggenangi ratusan tempat tinggal di kecamatan sekitar lokasi. Kerugian disini tidak hanya di alami oleh PT Lapindo, tapi tentu saja masyarakat sekitar yang telah kehilangan tempat. Tinggal. PT Lapindo sendiri, telah mem-PHK-kan Sebagian besar para pekerjanya, dan ini menambah jumlah persentase pengangguran di Indonesia.
Maka dari itu, perlunya membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan masyarakat, akan memberikan kontribusi yang saling menguntungkan bagi masing-masing pihak, kesejahteraan pun terbangun dan dirasakan penuh oleh perusahaan dan juga masyarakat.
(sebenarnya tulisan ini hanya tugas kuliah yang harus dikumpulin minggu depan,, kata dosennya sich harus tema industri., but strala..)
Masalah-masalah ini berkembang dan telah menjadi isu nasional yang telah melekat di telinga masyarakat. Implikasi yang diberikan dari masalah-masalah tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan besar yang ternama, tetapi juga perusahaan kecil dan pedagang kecil yang telah kecipratan akibatnya. Begitu banyak pengangguran yang terjadi (banyak produk yang tidak laku di pasaran mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian sehingga terancam harus gulung tikar). Lalu, berkembang lagi masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak makanan lain yang ikut tercemar. beberapa bahan makanan yang dilaporkan tercemar racun adalah minyak goreng, bakso, mie, rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar lainnya.
Bagaimana kontribusi masalah ini kepada masyarakat? masyarakat khususnya sebagai konsumen (korban Produk) yang akhirnya merasa ’dipermainkan’ dan menjadi harap-harap cemas untuk mengkonsumsi berbagai produk yang ada. Memunculkan rasa skeptis dan kewaspadaan yang tinggi untuk mencoba menggunakan berbagai jenis produk.
Di samping masalah yang serius seperti di atas, tidak jarang perusahaan dilanda oleh masalah intern yang implikasinya bagi kemajuan suatu perusahaan, masalah krisis yang dihadapi perusahaan misalnya masalah pencemaran lingkungan oleh pabrik yang berdampak buruk pada masyarakat sekitar pabrik, masalah produk yang tidak bisa dipasarkan yang mempengaruhi pendapatan keuntungan perusahaan, ataupun masalah unjuk rasa yang dilakukan oleh para pekerja, dimana para pekerja merasa diberikan suasana kerja yang buruk dan tidak mendapatkan kesejahteraan (adanya aturan-aturan perusahaan yang ketat, sistem manajemen serta kebijakan kepada pekerja yang berlebihan) sehingga tidak ada ruang bagi para pekerja untuk berpartisipasi dan berinovasi dalam kebijakan perusahaan. Tentunya masih banyak contoh lain dari krisis yang dihadapi perusahaan.
Melihat contoh kasus penyedap rasa dan begitu juga produk makanan beracun, terkesan bahwa kebanyakan perusahaan belum dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang seperti ini, dimana penanganan yang dilakukan begitu besar dan melibatkan berbagai pihak. Mencirikan contoh manajemen perusahaan yang krisis. Kelihatan sekali kalau banyak perusahaan yang mengabaikan masalah krisis ini. Perusahaan baru kelabakan dan menjadi panik bilamana krisis tersebut betul-betul terjadi. Dan sebagai antisipasi, perusahaan tidak diprioritaskan untuk mencari penyebab kenapa masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya untuk memperbaiki system manajemen perusahaan dengan manajemen yang lebih baik agar tidak terjadi krisis perusahaan yang pastinya akan berkepanjangan.
Bagaimana hubungan perusahaan dengan masyarakat? Masyarakat pastinya memiliki hubungan terhadap suatu perusahaan yang menghasilkan produk yang dikonsumsi oleh mereka, hubungan tersebut dibarengi dengan suatu kepercayaan. Biasanya masyarakat tidak mudah termakan isu yang disebarkan oleh pihak tertentu yang ingin merugikan perusahaan. Misalnya kasus nyata jika suatu produk menimbulkan korban akibat ‘sabotase’ dengan cara memasukkan racun atau zat/ bahan berbahaya, adanya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan akan memudahkan manajemen perusahaan. Hal seperti ini pernah terjadi pada perusahaan/ pabrik biscuit ternama di Indonesia yang memproduksi biskuit (Oreo) yang diisukan terdapat zat kimia berbahaya yang dapat merusak tubuh manusia. Adanya kepercayaan publik bahwa tidak mungkin korban jatuh karena kelalaian pabrik dalam membuat makanan, ini telah menyelamatkan perusahaan-perusahaan biscuit dari krisis.
Bagaimana solusi dalam mengatasi krisis perusahaan ini? Pembentukan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan salah satunya dapat ditempuh dengan cara membina hubungan baik dengan media massa. Dengan adanya hubungan baik ini media massa akan memberikan informasi yang baik tentang perusahaan. Seperti perusahaan biscuit Oreo, yang telah meng-iklankan produk mereka yang sangat jelas sekali pesan yang ingin disampaikan perusahaan agar masyarakat tidak skeptis dan waspada lagi untuk mengkonsumsi produk mereka. Intinya biscuit Oreo tidak beracun, dan isu yang pernah melanda perusahaan tidaklah benar.
Hubungan perusahaan dengan masyarakat yang baik didasarkan atas kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan, dan itu juga harus dipengaruhi dengan bagaimana ‘ímage’ perusahaan dimata masyarakat. Jika memang masyarakat melihat bahwa banyak keuntungan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat, misalnya adanya wujud sumbangan dana ataupun sumbangan material (pembuatan rumah yatim piatu, masjid dll) yang bersifat sosial, maka ‘image’ perusahaan di mata masyarakat akan baik. Ataupun sederhananya, misalnya menjadikan produk perusahaan sebagai ‘sponsor’ suatu kegiatan masyarakat akan memberikan implikasi yang baik. ‘Image’ baik ini akan sangat memperkuat daya perusahaan dalam menghadapi krisis. Adanya komunikasi antar keduanya juga tidak merenggangkan hubungan. Masyarakat tidak mudah termakan isu yang merugikan perusahaan. Begitu pula di dalam perusahaan, perusahaan memberikan suasana kerja yang menyenangkan dan kebijakan yang tidak berlebihan, membuat para karyawan dapat berpartisipasi dalam kebijakan perusahaan, dan secara tidak langsung hal tersebut mempengaruhi para karyawan untuk selalu bertindak ramah dan bersimpati dalam berhubungan dengan mayarakat. Berbeda pula dengan kasus Lumpur PT. Lapindo Surabaya yang mengalami kerugian milyar rupiah akibat kecelakaan meluapnya Lumpur hingga hampir menggenangi ratusan tempat tinggal di kecamatan sekitar lokasi. Kerugian disini tidak hanya di alami oleh PT Lapindo, tapi tentu saja masyarakat sekitar yang telah kehilangan tempat. Tinggal. PT Lapindo sendiri, telah mem-PHK-kan Sebagian besar para pekerjanya, dan ini menambah jumlah persentase pengangguran di Indonesia.
Maka dari itu, perlunya membina hubungan yang baik antara perusahaan dengan masyarakat, akan memberikan kontribusi yang saling menguntungkan bagi masing-masing pihak, kesejahteraan pun terbangun dan dirasakan penuh oleh perusahaan dan juga masyarakat.
(sebenarnya tulisan ini hanya tugas kuliah yang harus dikumpulin minggu depan,, kata dosennya sich harus tema industri., but strala..)
Komentar